Sepenggal Cerita Antara Muslimah Prancis Bercadar dengan Muslimah Imigran Arab Tak Berjilbab

Muslimahzone.com – Suatu hari, di Prancis, seseorang bercerita bahwa seorang Muslimah bercadar pergi ke Supermarket. Setelah ia mengambil barang-barang kebutuhannya, ia kemudian berdiri di antrian kasir untuk membayar. Setelah beberapa menit, datanglah gilirannya untuk dilayani oleh kasir.

Di dekatnya, ada seorang Muslimah Arab yang tidak berjilbab, yang mulai melihat Muslimah bercadar itu dan memperhatikan satu persatu dari diri Muslimah itu, dan setelah beberapa saat memperhatikannya dengan pandangan arogan, Muslimah Arab itu mengatakan, “Kami memiliki banyak masalah di negara ini dan cadarmu adalah salah satunya!”

“Kami, para imigran, berada disini untuk perdagangan (bisnis) dan bukan menunjukkan Agama atau sejarah kami! Jika kau ingin mengamalkan Agamamu dan memakai cadar, maka kembalilah ke negeri Arab-mu dan lakukan apa saja yang kau inginkan!!” tambah imigran Arab itu.

Muslimah bercadar itu menaruh barang belanjaannya di tas dan kemudian membuka cadarnya di depan Muslimah Arab itu.

Lanjutkan membaca

Akibat Mencari Ridha Allah, Bukan Ridha Manusia

Oleh: Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy

Di tengah-tengah pelajaran kitab Syarah Aqidah Ath Thahawiyyah karya Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi, guru kami Abu Abdirrahman Fahd Al Adeni berkisah…

Dahulu, beberapa orang thalibul ‘ilm murid Syaikh Muqbil diutus untuk berdakwah ke sebuah desa yang mayoritas penduduknya berpemahaman Syi’ah Zaidiyyah. Salah seorang dari mereka kemudian memberikan khutbah Jum’at di masjid desa tersebut. Selesai shalat Jum’at, orang-orang pun riuh membicarakan khutbah yang dibawakan oleh si thalib. Sampai datang seorang tua kepada si thalib lalu mencelanya,

“Kamu berkhutbah tidak membaca shalawat dan salam atas ahli bait, keluarga nabi!”

Lalu dengan tenang si penuntut ilmu menjawab, “Bahkan aku telah mengulang-ulangnya. Apakah engkau tidak memperhatikannya?”

Bapak tua itu terdiam bingung. Mungkin dia bimbang, kapan si khatib membaca shalawat kepada ahlul bait nabi. Jangan-jangan pas khutbah tadi dia yang ngantuk.

Sebenarnya yang diinginkan oleh bapak tua yang Zaidi tadi adalah membaca shalawat khusus kepada ahli bait Nabi di mukaddimah dan juga di penutup khutbah sebagaimana yang menjadi kebiasaan orang-orang Zaidiyah. Tapi bukankah di dalam khutbah, si penuntut ilmu sudah bershalawat kepada keluarga nabi setiap kali membacakan hadits?

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam mengatakan demikian dan demikian… Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda demikian dan demikian…”

Apa arti ucapan shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam? Bukankah itu maknanya semoga shalawat dan salam tercurah pada Rasulullah dan keluarga beliau?

Kemudian bapak tua tersebut berkata lagi, nampaknya dia tetap mencoba mencari-cari kesalahan si penuntut ilmu, “Kamu tadi mengimami baca alfatihah tanpa membaca bismillah!”

Lanjutkan membaca

Izinkan Aku Jadi Bagian Cinta Suamimu (Kisah Nyata)

Aku, seorang akhwat periang (setidaknya, begitulah yang tampak dari luar), berusia 22 tahun. Hidupku penuh dengan kesedihan, sejak kecil sampai tumbuh besar jarang ku kecap bahagia. Tapi ku kelabui dunia dengan sosok ku yang ceria dan penuh canda. Seringkali teman-temanku bertanya, “Ya ukhty, bagaimana caranya supaya tidak pernah sedih seperti anti?”, hanya senyum yang bisa ku beri untuk menjawab pertanyaan yang sesungguhnya pun ingin ku tanyakan pada mereka yang hidupnya bahagia tanpa cela. Tapi sudahlah, tak kan ku ceritakan kisah sedih masa kecilku, ku hanya akan mengisahkan pencarianku akan bahagia.

Dua tahun lalu, tepatnya saat usiaku 20 tahun, aku mulai berfikir untuk melepas kesendirian, ku utarakan niatku pada seorang akhwat senior yang memang sudah beberapa kali menawariku untuk “ta’aruf” dengan beberapa ikhwan yang semuanya kutolak karena berbagai alasan. Sampai ku mengenalnya, lewat sebuah situs pertemanan. Dia, Ubaid (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di timur tengah. Sosoknya yang begitu dewasa, santun, lagi berilmu. Segala yang kucari ada padanya. Sayangnya, dia sudah beristri dan memiliki seorang anak. Kutepis hasratku untuk mengenalnya lebih jauh.

Hari demi hari, entah kenapa aku semakin kagum padanya. Walau belum pernah bertatap muka, tapi diskusi kami lewat “chat”, kedalaman ilmunya, keindahan susunan kata-katanya, sungguh meninggalkan kesan yang begitu dalam di hatiku. Aku mulai jatuh hati padanya. Ubaid, pria beristri itu!

Ternyata rasa-ku tak bertepuk sebelah tangan. Hari selanjutnya ia menelponku, dan ia menanyakan pandanganku tentang polygamy. Tentu aku menjawab bahwa polygamy adalah sunnah. Sunnah yang dibenci kebanyakan orang. Oleh sebab itu, aku kagum pada mereka yang bisa menjalankannya. Pada akhwat-akhwat tangguh yang mampu mengalahkan egoisme dan “hati”nya untuk berbagi orang yang paling dicintainya. Bukankah tak akan sempurna iman seseorang sampai ia mampu memberikan pada saudaranya apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri? Blah blah blah, panjang lebar penjelasanku saat itu. Ubaid mendengarkan, lalu berkata : “ما شاء الله, seandainya semua istri berfikiran seperti anti”. “Maukah anti menjadi permaisuri kedua di istanaku?”

Lanjutkan membaca

Meraup Pahala Dengan Niat


Oleh: Ustadz Abu Rufaid Agus Suseno, Lc

Bangun tidur, pergi ke kantor mencari nafkah bagi keluarga, beribadah kepada Allah dengan shalat, baca Al Quran, puasa, zakat, dan seabrek ibadah-ibadah lainnya seolah telah tercetak sebagai rutinitas seorang pemimpin keluarga dalam kesehariannya. Demikian pula seorang istri yang menjalankan pekerjaan-pekerjaan rumah dan mendidik anak, dari pagi hingga pagi berikutnya telah menjadi rutinitas kesehariannya.

Hal ini menyebabkan seseorang lupa akan hal paling urgen dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan di atas agar berbuahkan pahala dan diterima oleh Allah yaitu niat.

Urgensi Niat

Seorang muslim dituntut untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Pelaksanaan perintah maupun menjauhi larangan tidak mungkin terlaksana dengan sempurna kecuali jika melandaskan perbuatannya menurut sunah, dan ini juga tidak cukup kecuali dengan niat yang benar karena niat adalah faktor utama berpahala tidaknya perbuatan yang kita lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya sah tidaknya amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya seseorang akan mendapatkan ganjaran sesuai niatnya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Ibnu Rajab menjelaskan makna hadits ini: syariat menjelaskan, pahala seseorang tergantung pada niat, jika niat benar, niscaya amalannya benar dan mendapatkan pahala, dan jika niat salah, maka amalannya salah bahkan ia mendapatkan dosa.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal: 61)

Selain itu, niat juga sebagai faktor utama besar kecilnya pahala amalan yang kita kerjakan, Ibnul Mubarak menegaskan: betapa banyak amalan kecil menjadi besar pahalanya karena niat dan amalan besar menjadi kecil pahalanya karena niat.” (Jami’ul Ulum wal hikam, hal: 69)

Lanjutkan membaca

Suara Hati Seorang Wanita Yang Di Poligami

Muslimahzone.com – Terasa dunia akan runtuh ketika kau meminta izin kepadaku untuk menikah lagi. Membayangkan kau, suamiku tersayang, sedang membagi cinta, perhatian dan segala kesenangan duniawi lainnya dengan wanita lain, bukan hanya sekedar mendatangkan pusing dan mual tapi juga penyakit cemburu serta sakit hati yang mungkin tak akan berkesudahan bagiku. Jangan protes wahai suamiku, Bahkan istri-istri nabi yang muliapun, mereka tak bisa menghindar dari kecemburuan. Semua itu karena cinta yang teramat sangat untukmu.

Sejenak akupun buru- buru mengadakan koreksi kilat tentang apa yang kurang dari diriku, atau tentang apa yang selama ini menjadi kelemahanku selama ini. Seakan semua daya upaya akan aku kerahkan ketika menyadari bahwa kenyataan didepan akan sebentar lagi sampai kepadaku. Dan akhir dari usaha itu adalah cara yang aku fikir efektif untuk menghadang kenyataan takdir yang akan diberikan Allah untukku

Akhirnya hari itupun datang saat aku harus mengatakan sebuah jawaban untukmu. Ya Allah, wanita mana yang ingin cintanya terbagi. Wanita mana yang kuat melihat suaminya bermesraan dan bahagia bersama suamiku..suamiku yang sangat aku cintai. Ya Allah, bahkan jika kenyataan ini terbalik, dan dia berada pada posisiku, sanggupkah engkau wahai suamiku?

Lanjutkan membaca

Karena Kau Jodohku

Aku baru saja pulang kerja, ketika kudapati bapak dan ibu tengah berbincang tentang pernikahanku dengan anak seorang rentenir. Bapak dan ibu sebenarnya juga tak menginginkan pernikahan itu. Tapi keadaan membuat aku juga orang tuaku tak berkutik. Ya, pernikahan itu diiringi ancaman bila aku atau keluargaku menolaknya, akan ada yang dilukai, termasuk keluarga calon suamiku.

Ya, sebenarnya statusku saat itu sudah dilamar orang. Seorang laki-laki yang kukenal shalih dan rajin beribadah, pintar juga seorang sarjana yang sudah mapan. Dan yang pasti, kami saling cinta. Kami sudah bertemu tiga kali selama proses ta’aruf sampai khitbah. Tapi keadaan membuat aku dan keluarga mundur, dengan alasan menghindari mudharat yang lebih besar. Awalnya berhari-hari aku menangis menolak dan ingin pergi dari rumah. Alhamdulillah, akal sehatku masih berpikir waras. Bila aku pergi, masalah akan kian runyam dan memperkeruh masalah. Akhirnya setelah istikharah, aku memilih menghadapi semua. Mengalir mengikuti alur takdir.

Kalau saja anak dan keluarga itu tidak mengancam keselamatan kami aku tentu  akan bias menolaknya dengan mudah. Bagaimana aku bisa menikah dengan laki-laki kasar, pemabuk, penjudi, pemakan riba dengan tubuh penuh gambar tato? Sungguh aku tak pernah memimpikannya. Tapi kenyataan itu benar-benar harus kuhadapi. Meski dengan segala keterpaksaan. Aku tak mau orang-orang yang kusayangi harus disakiti dan menderita karena penolakanku.

Untungnya keluarga calon suamiku bisa arif menyikapi masalah ini. Meski pada awalnya terkejut dan kecewa, keluarga dan juga calon suami bisa mengerti bahkan jatuh iba padaku. Sungguh semua itu terasa menjadi beban mental yang berat untukku, untuk keluargaku juga untuk keluarga calon suamiku. Tapi kami tak bisa berbuat apa-apa. Ancaman dari anak rentenir itu terlalu berisiko.

Semua orang mengenal bagaimana sepak terjang keluarga rentenir juga anaknya. Membuat onar dan keributan adalah hal lumrah yang jadi pemandangan sehari-hari di tempat kami tinggal. Mereka dan tukang tagihnya tak segan mengobrak-abrik rumah atau bahkan memukul dan menyakiti saat menagih hutang. Perilakunya sadis dan nekad tanpa rasa takut. Penjara tak membuat jera.

Lanjutkan membaca

Do’a Mama


Panggung adalah tempat aku mengekspresikan seluruh jiwa seni yang kupunya. Dari berlenggak-lenggok dalam peragaan busana hingga beraksi dalam merdunya suara. Ya, aku memang bergelut dalam dunia fashion juga anak band. Panggung ibarat rumah kedua buatku. Kilatan kamera adalah hidupku.

Uang, materi… jangan ditanya. Aku sudah bisa meraupnya sejak usia belia, aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri juga membantu ekonomi keluarga. Sayang, seiring bertambahnya waktu dan usiaku, semua berubah. Bukan perubahan baik, namun inilah awal dari kehancuranku.

Usia remaja membawaku pada pencarian jati diri, begitu orang bilang. Aku yang semula anak mama, kini merasa terkekang dengan kehadiran mama. Ya, mama yang membuat seluruh jadwal kegiatanku. Katanya sih, agar aku punya waktu istirahat, bisa ngaji, mengerjakan tugas sekolah ataupun show, hingga tak bertabrakan waktunya. Mulanya aku memahami maksud baik mama, tapi kini semua penilaianku berubah. Aku merasa mama mengatur hidupku.

Aku mulai menjadi pemberontak dan pembangkang. Bila mama mengingatkan aku harus mengaji, shalat, mengerjakan PR atau jadwal kegiatanku, aku akan marah pada mama. Aku akan pergi dari rumah tanpa pamit, menghabiskan waktu bersama teman-teman dan baru pulang larut malam.

Kontan saja mama yang khawatir menjadi sangat marah, lebih-lebih karena aku perempuan. Mama sampai menangis karena panik dan khawatir. Bayangkan, pukul satu dini hari aku baru tiba di rumah. Itu pengalaman pertamaku pulang malam.

Lanjutkan membaca

Mantan Pendeta Roma Menjadi Ahlus Sunnah

Oleh : Syaikh Amjad bin Imron Salhub

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat serta salam tetap terlimpahkan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya, serta siapa saja yang mengikuti sunnahnya dan menjadikan ajarannya sebagai petunjuk sampai hari kiamat.

Sejarah Islam, baik yang dulu maupun sekarang senantiasa menceritakan kepada kita, contoh-contoh indah dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka memiliki semangat yang begitu tinggi dalam mencari agama yang benar. Untuk itulah, mereka mencurahkan segenap jiwa dan mengorbankan milik mereka yang berharga, sehingga mereka dijadikan permisalan, dan sebagai bukti bagi Allah atas makhluk-Nya.

Sesungguhnya siapa saja yang bersegera mencari kebenaran, berlandaskan keikhlasan karena Allah Ta’aala, pasti Dia ‘Azza Wa Jalla akan menunjukinya kepada kebenaran tersebut, dan akan dianugerahkan kepadanya nikmat terbesar di alam nyata ini, yaitu kenikmatan Islam. Semoga Allah merahmati syaikh kami al-Albani yang sering mengulang-ngulangi perkataan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى نِعْمَةِ اْلإِسْلاَمِ وَالسُنَّةِ

Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam dan as-Sunnah

Diantara kalimat mutiara ulama salaf adalah:

إِنَّ مِنْ نِعْمَةِ اللهِ عَلَى اْلأَعْجَمِيِّ وَ الشَابِ إِذَا نَسَكَ أَنْ يُوَافِيَ صَاحِبَ سُنَّةٍ فَيَحْمِلَهُ عَلَيْهَا

Sesungguhnya diantara nikmat Allah atas orang ‘ajam dan pemuda adalah, ketika dia beribadah bertemu dengan pengibar sunnah, kemudian dia membimbingnya kepada sunnah Rasulullah.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya

Lanjutkan membaca

Mutiara Nasihat Abdullah bin Mas’ud

Seorang laki-laki berada di sisi beliau dan berkata, “Aku tidak ingin menjadi golongan kanan, aku ingin termasuk golongan muqarrabun saja.” Abdullah berkata, “Bahkan disini ada orang yang apabila meninggal nanti tidak ingin dibangkitkan.” (yakni beliau)

* Suatu saat beliau keluar dan diikuti oleh beberapa orang. Beliau bertanya kepada mereka, “Adakah kalian memiliki kepentingan sehingga mengikutiku?” Mereka menjawab,”Tidak ada, kami hanya ingin berjalan bersama anda.” Abdullah berkata, “Kembalilah kalian, sesungguhnya yang demikian ini menyebabkan hina bagi yang mengikuti dan fitnah bagi yang diikuti.”* Abdullah berkata, “Seandainya kalian mengetahui apa yang ada pada diriku sebagaimana yang aku ketahui tentang diriku, niscaya akan kalian taburkan tanah di kepalaku.”

* Abdullah berkata, “Barangsiapa mengerjakan kebaikan, niscaya Allah akan memberi kebaikan kepadanya dan barangsiapa menjaga dari kejahatan, niscaya Allah akan menjaganya.”

* Orang-orang yang bertakwa adalah pemuka, para ahli fiqih adalah pemimpin, bergaul dengan mereka akan menambah kebaikan.”

* Sebaik-baik perkara yang dibenci adalah kematian dan kefakiran. Demi Allah tidak ada lain kecuali kaya atau miskin. Aku tidak peduli, dengan yang mana aku diuji. Aku hanya berharap kepada Allah dalam keadaan kaya atau miskin. Bila kaya, semoga Allah memberiku kedermawanan. Apabila fakir, semoga Allah memberiku kesabaran.

* Selagi engkau dalam shalat, berarti engkau sedang mengetuk pintu Raja. Barangsiapa mengetuk pintu Raja, niscaya akan dibukakan baginya.

* Seringkali syahwat mengakibatkan sedih berkepanjangan.

* Bila zina dan riba telah dilakukan dengan terang-terangan di suatu desa, pertanda akan datang kehancurannya.

Lanjutkan membaca