Archive for the ‘Teladan’ Category

Bakti Seorang Anak Kepada Ibunya yang Memiliki Keterbelakangan Mental

Oleh : Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairy

Salah seorang dokter bercerita tentang kisah sangat menyentuh yang pernah dialaminya…
Hingga aku tidak dapat menahan diri saat mendengarnya…
Aku pun menangis karena tersentuh kisah tersebut…

Dokter itu memulai ceritanya dengan mengatakan :“Suatu hari, masuklah seorang wanita lanjut usiake ruang praktek saya di sebuah Rumah Sakit.

Wanita itu ditemani seorang pemuda yang usianya sekitar 30 tahun. Saya perhatikan pemuda itu memberikan perhatian yang lebih kepada wanita tersebut dengan memegang tangannya, memperbaiki pakaiannya, dan memberikan makanan serta minuman padanya…

Continue reading

Akibat Mencari Ridha Allah, Bukan Ridha Manusia

Oleh: Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy

Di tengah-tengah pelajaran kitab Syarah Aqidah Ath Thahawiyyah karya Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi, guru kami Abu Abdirrahman Fahd Al Adeni berkisah…

Dahulu, beberapa orang thalibul ‘ilm murid Syaikh Muqbil diutus untuk berdakwah ke sebuah desa yang mayoritas penduduknya berpemahaman Syi’ah Zaidiyyah. Salah seorang dari mereka kemudian memberikan khutbah Jum’at di masjid desa tersebut. Selesai shalat Jum’at, orang-orang pun riuh membicarakan khutbah yang dibawakan oleh si thalib. Sampai datang seorang tua kepada si thalib lalu mencelanya,

“Kamu berkhutbah tidak membaca shalawat dan salam atas ahli bait, keluarga nabi!”

Lalu dengan tenang si penuntut ilmu menjawab, “Bahkan aku telah mengulang-ulangnya. Apakah engkau tidak memperhatikannya?”

Bapak tua itu terdiam bingung. Mungkin dia bimbang, kapan si khatib membaca shalawat kepada ahlul bait nabi. Jangan-jangan pas khutbah tadi dia yang ngantuk.

Sebenarnya yang diinginkan oleh bapak tua yang Zaidi tadi adalah membaca shalawat khusus kepada ahli bait Nabi di mukaddimah dan juga di penutup khutbah sebagaimana yang menjadi kebiasaan orang-orang Zaidiyah. Tapi bukankah di dalam khutbah, si penuntut ilmu sudah bershalawat kepada keluarga nabi setiap kali membacakan hadits?

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam mengatakan demikian dan demikian… Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda demikian dan demikian…”

Apa arti ucapan shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam? Bukankah itu maknanya semoga shalawat dan salam tercurah pada Rasulullah dan keluarga beliau?

Kemudian bapak tua tersebut berkata lagi, nampaknya dia tetap mencoba mencari-cari kesalahan si penuntut ilmu, “Kamu tadi mengimami baca alfatihah tanpa membaca bismillah!”

Continue reading

Sang Legenda Dari Pakistan (Peraih 7 Gelar Master dan 1 Gelar Doktor Kehormatan)

……….

Ayatusyaithon Khoemini  pemimpin Syiah di Iran pernah pula membuat maklumat yang isinya

“Barangsiapa yang dapat membawa kepala Ihsan (Syaikh Ihsan Ilahi Zahier) niscaya ia akan mendapatkan 200 ribu dolar”.

…………

Menelusuri Jejak atsar dari Ulama Pakistan…

Seorang Mujahid Pembela Kemurnian Islam…

Seorang Murid Kesayangan Syaikh Bin Baz…

Sang Legenda dari Pakistan….

Dialah Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Zahir

Nama dan nasab beliau,

Ihsan Ilahi Zhahir bin Zhuhur Ilahi bin Ahmduddin bin Nizhamuddin. Dalam sebuah wawancara, salah seorang saudara beliau yang bernama Syaikh Fadhl Ilahi menjelaskan bahwa Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir lahir pada tahun 1940  di kota Siyalkut. Yaitu sebuah kota tua di Pakistan, di sebelah utara kota Propinsi Punjab. Kota ini terkenal dengan kelahiran tokoh-tokoh dan ulama. Dan lingkungan yang sangat subur dengan ulama, tentu sangat kondusif bagi perkembangan seorang anak. Demikian juga dengan keberadaan Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir disana.

Keluarga besarnya sangat populer dengan perniagaan berbagai macam kain. Ketinggian tingkat keilmuan dan semangat juang untuk membela agama serta kelimpahan harta benda juga menjadi penghias yang melekat pada keluarga besarnya.

Ayahnya seorang pedagang kain yang terkenal dengan amanahnya, dan juga termasuk orang yang mencintai ulama dan giat mendakwahkan aqidah salaf, dengan menyibukkan diri berceramah di beberapa masjid. Ia telah memilihkan jalan bagi anak-anaknya agar menjadi para penyeru (da’i) di jalan Allah. Oleh karena itu, ia sangat memperhatikan proses pendidikan anak-anaknya dengan baik.

Sang ayah semenjak dini meminta Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir agar menghabiskan waktunya untuk senang mencari ilmu agama, jangan memikirkan mata pencaharian dahulu. Bahkan semua anggota keluarganya pun mempunyai pemikiran yang sama, mendukung Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir agar secara sungguh-sungguh mencurahkan thalabul ilmi dan berdakwah, meskipun yang menjadi taruhannya adalah harta.

Bukti keseriusan ayahnya nampak yaitu tatkala Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir masih di bangku sekolah dasar. Kendatipun pihak sekolah sudah memberikan jatah snack bagi para siswanya, namun beliau malah melarang anaknya untuk memakannya. Sebagai gantinya, sang ayah membawakan makanan, jus dan susu. Sebab menurutnya, hal itu lebih bermanfaat bagi fisiknya daripada makanan sekolah. Bahkan tidak sampai disitu, sang ayahpun tidak segan-segan untuk memijit anaknya dengan olesan minyak agar fisik anaknya tersebut menjadi sehat. Apalagi dengan kebutuhan primer sekolah lainnya seperti buku-buku pelajaran, juga tidak luput dari perhatian keluarganya. Segala daya upaya diusahakan agar sang anak dapat belajar dengan nyaman.

Continue reading

Fatimah binti Rosululloh – Sayyidat Nissa Al-‘Aalamin


Oleh: Ustadzah Gustini Ramadhani

Tokoh wanita sahabat ini atau qudwah wanita muslimah kali ini seyogyanya dari dulu-dulu telah dimuat di rubrik kita ini. Ia yang sedianya pertama-tama menghiasi lembaran majalah kita ini. Kenapa? Karena ia putri pemimpin orang-orang yang bertakwa dan sebaik-baik manusia, bahkan ia putri kesayangan beliau.

Dialah putri  Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ibundanya adalah Khodijah binti Khuwailid, istri yang sangat dicintai Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Beliau memberinya nama Fatimah, dan ia biasa digelari Ummu Abiha (ibu ayahnya). Lahir ketika Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam berumur 35 tahun, lima tahun sebelum masa kenabian.

Penulis tidak bermaksud mengupas panjang lebar sejarah hidup putri terkasih Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ini, karena ia adalah Sayyidat nisaa al-‘aalamin (wanita dunia termulia). Hidup beliau mulai dari lahir sampai kematiannya penuh dengan pembelajaran dan suri tauladan bagi setiap wanita muslimah. Penulis hanya berusaha mengetengahkan sedikit dari satu sisi dari kehidupannya, yaitu sisi kehidupannya sebagai pasutri.

BAJU BESI USANG SEBAGAI MAHAR

Ketika mulai menginjak usia remaja, Fatimah yang cantik dan berakhlak mulia mulai didatangi para pelamar yang ingin mempersuntingnya. Ternyata pemuda beruntung yang dapat mempersunting putri kesayangan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ini adalah Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ‘anhu, anak paman Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sendiri, anak kecil pertama memeluk Islam. Diterimanya ia sebagai menantu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah suatu keberuntungan besar bagi pemuda yang sholih seperti Ali rodhiyallohu ‘anhu. Nah, mari kita simak cerita Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ‘anhu tentang pernikahan itu:

Ketika Fatimah dilamar oleh beberapa pemuda yang datang kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, budak perempuanku datang kepadaku dan bertanya, “Tahukah engkau bahwa Fatimah telah dilamar seseorang kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam?

Aku menjawab, “Tidak.”

Ia berkata, “Lalu mengapa engkau tidak melamarnya pula kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam?”

Aku berkata, “Aku hanya pemuda miskin yang tidak memiliki apapun untuk menikahinya.”

Budakku berkata lagi, “Jika engkau menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan melamarnya, maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam pasti akan menikahkannya denganmu.”

Ia (budak Ali, red.) terus mendesak dan memaksaku sampai akhirnya aku pun memberanikan diri menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ketika aku duduk berhadapan dengan beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam, aku hanya membisu. Demi Alloh, aku tidak bisa berbicara sedikitpun karena keagungan beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam. Maka sampai akhirnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Apakah engkau datang untuk melamar Fatimah?”

Aku menjawab, “Ya.”

Lalu beliau berkata, “Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk maharnya?”

Aku menjawab, “Tidak, wahai Rosululloh.”

Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bagaimana dengan baju besimu?”

(Ali berkata dalam hati) Demi Alloh, baju itu sudah jelek, mungkin harganya hanya 400 dirham. Lalu aku menjawab, “Ya, ada padaku.”

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku menikahkannya dengamu (dengan mahar baju besi itu). Kirimkanlah baju besi itu padanya sebagai mahar.”

Continue reading

Kesabaran Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam

Oleh: Ustadz Abu Abidah Ash-Shoqoli

Dialah seorang nabi yang tidak dijelaskan secara gamblang tentang zaman kenabiannya dan di kaum apa beliau berdakwah. Semua cerita tentang Nabi Dzulkifli hanya sebatas pendapat-pendapat, tidak berdasar dalil yang qoth’i.

Alloh subhanahu wa ta’ala telah mencatat beliau ‘Alaihissalam sebagai jajaran orang-orang yang sabar dan menjadi hamba pilihan.

Dan ingatlah Nabi Isma’il, Nabi Idris, dan Nabi Dzulkifli, semuanya termasuk orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anbiya’ [21]:85)

Dan ingatlah Nabi Isma’il, Nabi Yasa’, dan Nabi Dzulkifli, semuanya termasuk orang-orang pilihan. (QS. Shad [38]: 48)

Dzulkifli adalah julukan untuk beliau. Nama beliau sebenarnya tidak diketahui secara pasti. Sebab musabbanya juga beragam .الْكِفْلِ   itu maknanya menjamin tanggungan. Telah terjadi silang pendapat tentang di masa apa Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam hidup. Pendapat yang pertama menyatakan bahwa Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam adalah anak Nabi Ayyub ‘Alaihissalam yang mana nama lengkapnya adalah Bisyr bin Ayyub. Beliau berdakwah di daerah Syam. Pendapat ini mengatakan bahwa Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam adalah seorang nabi bukan dari kalangan Bani Isro’il.

Continue reading

Manakah Yang Lebih Menakjubkan???

Kisah menakjubkan yang disampaikan oleh seorang dai. Sang dai berkata : “Pelaku kisah ini bercerita kepadaku”:

“Suatu hari aku bersafar dari Thoif menuju Riyadh bersama istri dan anak-anakku. Akan tetapi di tengah jalan mobilku rusak. Tatkala itu cuaca panas. Maka akupun berhenti di dekat salah satu pom bensin (*tempat peristirahatan yang juga lengkap dengan warung serta bengkel). Maka aku mengecek mobilku dengan memanggil seorang montir yang ada di bengkel disekitar pom bensin tersebut. Sang montir mengabarkan bahwa mobilku rusak berat, mesin penggeraknya rusak, hanya bisa diperbaiki di Thoif atau di Riyadh. Maka akupun berdiri di bawah terik matahari, sementara istri dan anak-anakku tetap berada di dalam mobil. Aku tidak tahu apa yang harus aku kerjakan…, anak-anakku bagaimana…?, istriku?, mobilku?, aku bingung apa yang harus aku lakukan. Orang-orang melewatiku dan melihat kondisiku akan tetapi tidak seorangpun yang menyapaku, semuanya lewat dengan cuek. Hingga akhirnya tidak berapa lama kemudian ada seseorang yang lewat dan berkata, “Semoga Allah menolongmu…, semoga Allah memberi kemudahan padamu”. Ini adalah orang yang terbaik yang lewat, ia mendoakanku. Tak lama kemudian ada seseorang yang keluar dari pom bensin lalu berhenti di mobilku yang rusak lalu menyapaku, “Assalaamu’alaikum”, Aku berkata, “Wa’alaikum salam”. Ia berkata, “Ada apa dengan mobilmu, semoga baik-baik saja?”. Aku berkata, “Mobilku rusak”. Rupanya orang ini punya keahlian tentang mesin mobil. Maka ia berkata, “Coba aku cek dulu ada apa dengan mobilmu…”. Setelah mengecek lalu ia berkata, “Ini rusak berat, tidak bisa diperbaiki”.

Aku berkata, “Lantas solusinya bagaimana?”. Ia lalu menyampaikan sebuah ide yang selama hidupku tidak pernah aku mendengar ide seperti ini, padahal ia tidak mengenalku dan aku tidak mengenalnya.

Continue reading

Antara Ridho Alloh Yang Maha Mulia dengan Ridho Sang Bunda Tercinta

 

Abu Ashim Muhtar Arifin, Lc.

Imam Ibnul Jauzi berkata, ‘Abdulloh bin Zaid bin Aslam telah menyampaikan kepadaku dari ayahnya dari kakeknya yaitu Aslam, ia berkata, “Ketika aku bersama ‘Umar bin Khothtob sedangkan beliau sedang melakukan pengawasan pada malam hari di Madinah, maka beliaupun merasa lelah, lalu bersandar di sisi sebuah dinding di tengah malam.

Tiba-tiba ada seorang wanita yang berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, pergilah kepada susu itu, dan campurlah dengan air!”

Anak perempuan itu menjawab, “Wahai ibuku, apakah engkau tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan oleh Amirul Mukminin, pada hari ini?”

Sang ibu menjawab, “Apakah yang telah ditetapkan oleh beliau, wahai anakku?”

Anak itu menjawab, “Sesungguhnya beliau telah memerintahkan seorang penyerunya, lalu dia menyerukan bahwasanya susu tidak boleh dicampur dengan air.”

Sang ibu menjawab, “Wahai anakku, pergilah kepada susu itu dan campurlah dengan air! Sesungguhnya engkau berada di suatu tempat yang mana ‘Umar tidak melihatmu, demikian juga penyerunya tidak melihatmu!”

Anak perempuan itu menjawab, “Wahai ibuku, Demi Alloh, tidaklah aku menaatinya di hadapan khalayak ramai, lalu aku durhaka kepadanya ketika sedang menyendiri.”

‘Umar mendengar semua itu.

Maka beliau berkata, “Wahai Aslam, berilah tanda pada pintu itu dan ketahuilah posisinya!”

Kemudian beliau berlalu dalam melakukan ronda malamnya.

Continue reading