Archive for the ‘Kisah Mualaf’ Category

Masuk Islam Karena Takjub dengan Muslimah Yang Menjaga Kehormatannya

Iklan

Kisah Makam Seukuran Ubin dan Seorang Gadis ABG Mualaf di Jerman

Beberapa waktu yang lalu, kami membaca sebuah kisah yang ditulis salah seorang sahabat kami (muslimah) yang sedang belajar di kota Duisburg, Jerman. Beliau menceritakan kisahnya ketika bertemu dengan salah seorang gadis remaja di Jerman selama bulan Ramadhan kemarin. Kisah yang membuat hati ini merinding karena gadis Jerman muallaf tersebut telah mengajarkan kepada kita bagaimanakah seharusnya bersikap dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Atas ijin sahabat kami tersebut, kami tulis ulang kisah ini dengan beberapa penyesuaian ejaan dan tanda baca tanpa mengubah makna. Selanjutnya, kami membahas beberapa faidah yang bisa kita ambil dari kisah tersebut.

Kisah Makam Seukuran Ubin dan Seorang Gadis ABG Mualaf di Jerman

Beberapa waktu yang lalu aku melewati pemakaman orang Jerman. Terlihat seperti taman bunga, dengan deretan bunga warna-warni kecuali ada nisan menyembul di sela-selanya. Tampaknya kebiasaan orang Jerman menanam bunga di atas makam. Kalau tidak langsung ditanam di atas tanah, kadang pot-pot bunga diletakkan di atasnya. Tapi bukan ini yang aneh.

Setelah melewati komplek pemakaman penuh bunga, aku melewati komplek pemakaman berbaris dan berderet yang masing-masing besarnya hanya seukuran ubin. Membuatku berpikir lama. Makam apakah ini? Mengapa kecil sekali? Makam binatangkah? Maklum, orang Jerman ini mencintai anjing sebagaimana mencintai anak.

Baca lebih lanjut

Aku Dan Islam – Kisah Masuk Islamnya Ustadz Felix Siauw

“Jika kamu masih mempunyai banyak pertanyaan, maka kamu belum dikatakan beriman, Iman adalah percaya apa adanya, tanpa reserve”.

Begitulah kira-kira suatu pernyataan yang akan selalu saya ingat didalam hidup saya. Waktu itu saya masih seorang penganut Kristen Katolik berusia 12 tahun yang banyak sekali pertanyaan didalam hidup saya. Diantara pertanyaan-pertanyaan itu, tiga pertanyaan yang paling besar adalah: Darimana asal kehidupan ini, Untuk apa adanya kehidupan ini, dan akan seperti apa akhir daripada kehidupan ini. Dari tiga pertanyaan tersebut muncullah pertanyaan-pertanyaan turunan, “Kenapa tuhan pencipta kehidupan ini ada 3, tuhan bapa, putra dan roh kudus? Darimana asal tuhan bapa?”, atau “Mengapa tuhan bisa disalib dan dibunuh lalu mati, lalu bangkit lagi?”. Jawaban-jawaban itu selalu akan mendapatkan jawaban yang mengambang dan tak memuaskan.

Ketidakpuasan lalu mendorong saya untuk mencari jawaban di dalam alkitab, kitab yang datang dari tuhan, yang saya pikir waktu itu bisa memberikan jawaban. Sejak saat itu, mulailah saya mempelajari isi alkitab yang belasan tahun tidak pernah saya buka secara sadar dan sengaja. Betapa terkejutnya saya, setelah sedikit berusaha memahami dan mendalami alkitab, saya baru saja mengetahui pada saat itu jika 14 dari 27 surat dari injil perjanjian baru ternyata ditulis oleh manusia, saya hampir tidak percaya bahwa lebih dari setengah isi kitab yang katanya kitab tuhan ditulis oleh manusia, yaitu Santo Paulus. Lebih terkejut lagi ketika saya mengetahui bahwa sisa kitab yang lainnya juga merupakan tulisan tangan manusia setelah wafatnya Yesus. Sederhananya, Yesus pun tidak mengetahui apa isi injilnya. Lebih dari itu semua, konsep trinitas yang menyatakan tuhan itu tiga dalam satu dan satu dalam tiga (Bapa, Anak, dan Roh Kudus) yang merupakan inti dari ajaran kristen pun ternyata adalah hasil konggres di kota Nicea pada tahun 325 M. Ketika proses mencari jawaban di dalam alkitab pun, saya menemukan sangat sedikit sekali keterangan yang diberikan di dalam alkitab tentang kehidupan setelah mati hari kiamat dan asal usul manusia.

Baca lebih lanjut

Mantan Pendeta Roma Menjadi Ahlus Sunnah

Oleh : Syaikh Amjad bin Imron Salhub

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat serta salam tetap terlimpahkan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya, serta siapa saja yang mengikuti sunnahnya dan menjadikan ajarannya sebagai petunjuk sampai hari kiamat.

Sejarah Islam, baik yang dulu maupun sekarang senantiasa menceritakan kepada kita, contoh-contoh indah dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka memiliki semangat yang begitu tinggi dalam mencari agama yang benar. Untuk itulah, mereka mencurahkan segenap jiwa dan mengorbankan milik mereka yang berharga, sehingga mereka dijadikan permisalan, dan sebagai bukti bagi Allah atas makhluk-Nya.

Sesungguhnya siapa saja yang bersegera mencari kebenaran, berlandaskan keikhlasan karena Allah Ta’aala, pasti Dia ‘Azza Wa Jalla akan menunjukinya kepada kebenaran tersebut, dan akan dianugerahkan kepadanya nikmat terbesar di alam nyata ini, yaitu kenikmatan Islam. Semoga Allah merahmati syaikh kami al-Albani yang sering mengulang-ngulangi perkataan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى نِعْمَةِ اْلإِسْلاَمِ وَالسُنَّةِ

Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam dan as-Sunnah

Diantara kalimat mutiara ulama salaf adalah:

إِنَّ مِنْ نِعْمَةِ اللهِ عَلَى اْلأَعْجَمِيِّ وَ الشَابِ إِذَا نَسَكَ أَنْ يُوَافِيَ صَاحِبَ سُنَّةٍ فَيَحْمِلَهُ عَلَيْهَا

Sesungguhnya diantara nikmat Allah atas orang ‘ajam dan pemuda adalah, ketika dia beribadah bertemu dengan pengibar sunnah, kemudian dia membimbingnya kepada sunnah Rasulullah.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya

Baca lebih lanjut

Kisah Mualaf Rusia Mendapat Hidayah Islam


Namaku E. Vekilov, 28 tahun dari Rusia. Aku masuk Islam pada tahun 1998, tepatnya setahun setelah aku  menyelesaikan sekolah kedokteranku dengan spesifikasi bedah. Sekarang ini aku tengah menyelesaikan program pasca sarjana dan lagi  mempersiapkan thesis gelar masterku. Langkahku menerima Islam sedikit tidak lazim di kalangan masyarakat Rusia modern. Karena sudah kadung berkembang luas di Rusia, adanya anggapan bahwa kebanyakan muslim itu tidak berpendidikan dan terbelakang.

Bagiku justru, ilmu pengetahuanlah yang membantuku menentukan pilihanku ini: sedikit lebih tahu tentang aneka ragam struktur anatomi makhluk hidup benar-benar menunjukkan kebesaran Sang Pencipta. Dengan seringnya melihat berbagai penyakit dan penderitaan orang lain membuatku makin memaknai arti hidup ini. Dan aku semakin diyakinkan dengan adanya takdir Tuhan pada seseorang bahwa sepintar apapun dia, sekaya apapun dia dan sekeras apapun usahanya tetap tidak mampu  melawan takdir yang telah Tuhan tetapkan padanya.

Lantas, darimana kuperoleh gagasan tentang Sang Pencipta ini? Sedangkan aku hidup di lingkungan yang kebanyakan orang-orangnya berfaham atheis ini. Aku sendiri, dibesarkan dalam keluarga yang notabene tidak beragama, kedua orangtuaku dan nenekku tidak beragama. Sejak kecil aku tidak mendapat pendidikan tentang agama akan tetapi samar-samar aku ingat dulu pernah merasa bahwa Dia dzat yang Maha Besar yang menciptakan alam semesta ini.

Ketika remaja, aku banyak membaca literature tentang agama, tetapi yang ada di Rusia kebanyakan tentang faham atheis saja dan aku tidak menemukan hal yang bisa menarik perhatianku. Kemudian, di awal tahun 90 an, aku memiliki Injil Perjanjian Baru. Setelah mempelajarinya, aku malah  makin tidak mengerti. Aku tidak mengerti, bagaimana kedudukan Yesus sebenarnya, bagaimana ia bisa jadi manusia dan jadi Tuhan sekaligus, bagaimana Tuhan bisa mempunyai anak, mengapa harus ada trinitas dan mengapa Yesus menanggung semua dosa manusia.

Baca lebih lanjut

Pendeta Masuk Islam Setelah Membaca Injil Hebron

Thomas Leiden adalah keturunan solok dari sabar Malaysia. Semula ia penganut roman katolik. Ia sempat mengenyam pendidikan di seminary kepaderian Vatikan, Italia atas biaya persatuan Kristen Sabah.

Semasa menjadi paderi, Thomas kerap membuat catatan sederhana mengenai Islam, Buddha, hindu, dan Kristen untuk menambah pengetahuan. Ini semua dipicu oleh konflik diri yang terus menguat terhadap eksistensi paderi. Seorang paderi diberi tanggung jawab besar untuk mengampuni dosa manusia. Hal inilah yang membuat keyakinan iman Thomas mulai digerogoti keraguan. Bagaimana mungkin manusia biasa bisa mengampuni dosa manusia lain, sedangkan para Nabi dan Rosul saja tidak mampu mengampuni dosa manusia. Keraguan ini kemudian mendorong Thomas untuk lebih serius mempelajari agama Islam.

Semasa belajar di Vatikan, suatu hari ia diberi tugas oleh seorang paderi untuk menjaga sakristi perpustakaan yang terdapat di gereja. Sebelum meninggalkan Thomas, seraya menyerahkan sejumlah kunci almari perpustakaan tersebut, paderi itu berpesan agar Thomas tidak membuka salah satu almari disana. Tentu saja larangan ini membuat Thomas heran, sementara kunci almari tersebut diserahkan kepadanya. Larangan ini justru membuat Thomas penasaran. Akhirnya, ia pun mengambil sebuah kitab injil berbahasa hebron dalam almari tersebut. Thomas menemukan banyak sekali kebenaran, terutama yang berkaitan dengan agama islam, yang selama ini sama sekali tidak pernah diungkap. Thomas berpikir ini barangkali sengaja disembunyikan. Dengan kesadarannya, injil hebron itu pun disembunyikan untuk dikaji lagi lebih mendalam.

Baca lebih lanjut

Kisah Seorang Biarawati yang Masuk Islam

Perjalananku Menuju Allah

Meskipun kebanyakan hidupku aku habiskan di negeri Denmark, tetapi aku sangat berbeda dengan ke­banyakan remaja putri Denmark seusiaku. Faham yang paling besar di negeri Denmark adalah ajaran Ateis atau Protestan. Sementara aku menganut agama Kristen Katolik yang sangat bertentangan dengan masyarakat Denmark.

Ayahku berkebangsaan Armenia Artsudzkisy dan ibu­ku berkebangsaan Bosnia yang beragama Islam. Ibuku mengenal Islam hanya sebatas nama semata. Dan ia be­lum pernah mengerti bahwa seorang wanita Muslimah itu tidak boleh menikah dengan seorang laki-laki yang menganut agama Kristen. Hanyasanya setelah aku me­meluk agama Islam, barulah aku mengerti bahwa hal itu tidak diperbolehkan.

Dahulu aku belajar di sebuah sekolah khusus Katolik. Hal itu semata-mata karena di rumah kami tidak ada agama tertentu yang menjadi anutan kami sekeluarga, sehingga hal itu mempermudah diriku untuk memeluk ajaran di sekolah Katolik tersebut. Sejak di sekolah itulah aku mulai diarahkan untuk menjadi seorang biarawati, hal itu karena aku dianggap memiliki kemampuan dan per­hatian untuk mempelajari berbagai bahasa. Dan ka­rena aku menekuni sebagian bahasa kuno, seperti bahasa Yahudi misalnya. Walaupun ketika itu, ketekunanku mem­butuhkan banyak tambahan pelajaran khusus bahasa dan dorongan semangat hingga mampu memahami nash-nash agama, khususnya tiga agama, yaitu Yahudi, Kristen dan agama Islam.

Baca lebih lanjut