Catatan Akhir Pekan (Part 3): “Suratku untuk Nadia”

Langit mendung tengah menyelimuti kota kami dan beberapa menit kemudian gerimis mulai menyapa atap rumah penduduk. Semakin lama semakin terdengar deras suara hujan itu. Tentu saja dingin mulai meraba setiap penjuru kota mataram yang bermotokan kota ibadah ini.

Di lantai 2 rumah kontrakan ini, aku berdiri di samping jendela berkusen cokelat sambil memandang hujan yang mungkin akan lama mereda. Aku melihat langit mewarnakan gelap. Aku melihat langit menangis dan menderaikan air mata.
Tahukah engkau, Nadia, apakah air mata yang menghantam bumi itu adalah air mata kecewa atau air mata bahagia? Aku tak tahu apakah air mata itu adalah air mata untuk menyuburkan bumi pertiwi ataukah air mata yang mengundang bencana di alam ini.

Berbicara tentang bencana, Nadia, beberapa koran lokal maupun nasional menurunkan berita yang mungkin sudah engkau ketahui. Aku sendiri telah membaca sebuah surat kabar harian yang mengabarkan bencana di negeri kita. Seperti yang mereka beritakan itu, dalam bulan Oktober ini, ada tiga bencana alam besar yang melanda tanah air.

Adalah banjir bandang telah melanda Wasior (Papua Barat) pada tanggal 4 Oktober 2010. Peristiwa ini sungguh memilukan hati, Nadia. Bayangkanlah 150 warga tewas dan 150 orang hilang. Warga yang mengungsi mencapai 6000 orang. Itulah laporan sementara yang kutemui dalam surat kabar yang tertanggal 30 Oktober 2010 itu.

Tak hanya air yang meluap, bumi pun menggempakan dirinya dengan kekuatan 7,2 skala richter atas kehendak Allah. Gempa yang terjadi di Mentawai (Sumatera Barat ) tersebut dilanjutkan tsunami yang dahsyat. Seperti yang dikatakan pepatah: “sudah jatuh, terkena tangga pula.” Sungguh menyedihkan apa yang mereka alami. Aku tahu, engkau pun bersedih.

Kudapati bahwa tsunami dengan ketinggian mencapai 7 meter itu benar-benar menghantam dua buah pulau di kabupaten Kepulauan Mentawai. Lihatlah olehmu, Nadia, tsunami yang diakibatkan oleh gempa tektonik itu meluluhlantakkan permukiman, infrastruktur jalan, kapal nelayan, dan bangunan apa saja yang berada di sekitar pesisir.

Nadia, kejadian tersebut menewaskan 413 orang. Ini adalah angka kematian yang besar pada populasi yang kecil. Disana ada 270 orang luka berat dan 142 orang luka ringan. Sebanyak 163 orang dinyatakan hilang dan para pengungsi mencapai 12.579 orang. Begitu dahysat kejadian yang menimpa saudara kita di pulau Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai, bagian barat Indonesia itu.

Di tempat lain, bencana lain pun menyapa tanah air kita, tepatnya di perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah. Gunung merapi meletus sehingga menewaskan lebih dari 30 orang dan belasan ribu orang harus mengungsi. Benar-benar tak terbilang lagi harta benda yang musnah akibat bencana alam tersebut.

Dalam beberapa artikel yang kubaca, awan panas Merapi itu bak badai yang terdiri dari gumpalan batu-batuan tercampur kerikil, pasir, debu, asap dan gas pijar serta sangat panas dengan temperatur 300 hingga 500 derajat celcius, meluncur dan menyebar dengan kecepatan 60 kilometer per detik. Jangkauannya dapat mencapai 5 hingga 10 kilometer dari kawah.

Ada hal yang lebih dahsyat lagi yang menyebabkan mereka menjadi korban yaitu apa yang disebut oleh ahli geologi sebagai Lahar, sebuah aliran lumpur pasir tercampur batu yang berasal dari timbunan vulkanik di lereng. Ketika digelontor hujan, timbunan itu melongsor lalu mengalir menuju saluran-saluran sungai. Lahar ini mampu bergerak dengan kecepatan 60 kilometer per jam. Karena sifat  arusnya begitu pekat dan berat jenisnya besar, di dalam lahar itu dapat terangkut batu-batu sebesar gajah dengan daya erosi yang sangat besar pula.

Itulah yang menghantam rumah-rumah penduduk di desa. Sungguh Nadia, Indonesia benar-benar berduka. Begitu menyedihkan. Begitu menyayat hati. Begitu membulirkan air mata. Dalam surat kabar harian itu, kulihat mayat anak adam terbangkaikan tak dikenali.

Aku melihat dua orang kakak-beradik berpelukan sambil menangis sedih nan pilu kesyahduan. Mungkin keduanya baru saja berjumpa setelah berpisah tapi begitu jelas kuketahui bahwa keduanya baru saja piatu karena sang ibu telah terkubur bersama korban lain. Sungguh, tak ada lagi canda tawa dengan sang bunda. Tak ada lagi senyum bahagia.

Lihatlah Nadia, seorang anak sedang membawa ibunya ke Puskesmas dengan gerobak besi  yang biasanya dipakai untuk mengangkut semen. Secara tertatih-tatih, anak itu mendorong gerobak. sang ibu yang menjadi korban bencana ada di dalam gerobak itu.

Aku melihat anak kecil menenteng ember hitam di bahunya. Tahukah engkau apa yang dia bawa, Nadia? Ada makanan kecil dan mie instan untuk menghilangkan lapar yang mereka alami berjam-jam bahkan berhari-hari. Iya Nadia, mereka benar-benar lapar.

Nadia, kulihat seorang anak kecil dalam keadaan sakit dan kritis sedang ditolong oleh seorang relawan. Badannya melemas dan mata terlihat meredup. Bisa jadi si kecil itu sedang berhadapan dengan malaikat maut. Mungkinkah itu adik kesayanganmu, Nadia?

Kasihan. Kasihan. Begitu kasihan. Kulihat empat anak kecil duduk termangu di tempat pengungsian dengan luka-luka di wajah mereka. Senyum mereka telah terenggut dan entahlah kapan kembali terbit. Mereka melamun seolah-olah tak percaya dengan musibah yang mereka alami. wajah-wajah lugu nan ayu kini menerbitkan sejuta kesedihan.

Dan aku melihatmu duduk di bagian paling kanan diantara ke empat anak itu, Nadia. Wajah polosmu kulihat penuh dengan luka. Bagian bawah matamu memar dan pojok bibirmu bagian kanan robek. Aku pula melihat darah yang menggumpal di pipi kirimu. Matamu membengkak akibat tangisanmu yang pecah saat itu.

Tak terdengarkah oleh mereka deraian air matamu, Nadia? Telah membatu kah jiwa-jiwa mereka atas dosa dan maksiat yang mereka peragakan, Nadia?

Nadia, Nadia, aku benar-benar tak tega melihat hitam bola matamu yang berkaca terbalut sedih penuh cemas.

Dimanakah kini ayah dan ibumu, Nadia? Atau kakakmu? Atau adikmu?

Nadia, bisakah kau sedikit saja tersenyum untuk kak Fahri?

Nadia, tersenyumlah, tersenyumlah.

Do’akanlah para pezina yang telah mengetuk pintu bencana itu agar tak lagi bermaksiat kepada Allah. Do’akanlah para pemakan riba agar tak lagi mengundang petaka. Do’akanlah, do’akanlah mereka, Nadia ?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Jika zina dan riba merajalela di suatu negeri maka mereka telah menghalalkan adzab Allah terhadap diri mereka.”[1]

Nadia tersayang, kabarkanlah kepada mereka sebuah perkataan yang dituturkan Ka’ab radhiyallahu ‘anhu:

“Bumi hanyalah berguncang ketika kemaksiatan dilakukan didalamnya, lalu bumi menjadi gemetar karena takut kepada Allah bila Dia melihatnya.”[2]

Nadia, bisikkanlah kepada para penyanyi, para pecinta musik dan para peneguk khamr bahwa mereka telah menyebabkan rumahmu dan tempatmu bermain terbenam bencana.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berabda:

“Akan terjadi pada akhir zaman pembenaman (tempat tinggal), fitnah (ujian) dan pengubahan rupa jika ma’azif (alat-alat musik) dan para biduan (penyanyi) merajalela serta khamr dianggap halal.”[3]

Nadia terkasih, dahulu sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu pernah menemui Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau menuturkan bahwa seseorang yang bersama Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu:

“Wahai ummul mukminin (ibunda orang-orang beriman), ceritakanlah kepada kami tentang az-zalzalah (goncangan/gempa).”

Mendengar pertanyaan itu, Nadia, Aisyah radhiayallahu ‘anha memalingkan wajahnya. Anas radhiyallahu ‘anhu kembali bertanya dengan penuh penasaran:

“Ceritakanlah kepada kami wahai ummul mukminin tentang az-zalzalah.”

Barulah Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab:

“Wahai Anas, sekiranya kuceritakan padamu tentangnya maka engkau (akan) hidup dalam keadaan bersedih dan engkau dibangkitkan dalam keadaan sedih itu masih ada di hatimu.”

Sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu bertambah penasaran, Nadia, sehingga beliau kembali bertanya:

“Wahai ibu, ceritakanlah kepada kami.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab:

“…jika mereka menghalalkan zina  dan minum khamr (minuman memabukkan) setelah ini serta memukul (memainkan) alat-alat musik maka Allah cemburu di langit-Nya lalu berfirman kepada bumi: ‘bergoncanglah kepada mereka’.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha kembali melanjutkan:

“Jika (mereka) tidak (bertaubat dan menyesal) maka goncangan bumi (itu) akan menghancurkan mereka.”[4]

Nadia, kabarkanlah kepada mereka tentang adzab yang Allah turunkan kepada kaum nabi Nuh ‘alaihissalam. Karat-karat dosa telah mengundang air bah yang menenggelamkan mereka bahkan puncak gunung yang tinggi pun ikut tenggelam. Setelah itu bersihlah bumi Allah dari kotoran syirik, bid’ah dan kedzaliman.

“Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul. Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang lalim azab yang pedih”[5]

Kabarkanlah olehmu Nadia kepada mereka tentang kaum ‘Aad. Karena pembangkangan terhadap nabi Hud ‘alaihissalam, Allah kirimkan mereka angin yang amat dahsyat sehingga meluluhlantakkan rumah, tanaman, sawah ladang beserta keturunan mereka.

“Adapun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus, maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).”[6]

 

“Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari naas yang terus menerus.”[7]

Kabarkanlah olehmu Nadia kepada mereka tentang adzab yang Allah timpakan kepada penduduk Madyan, kaum nabi Syu’aib ‘alaihissalam. Mereka menipu harta manusia, kurangi takaran dan timbangan, membuat kerusakan, maka Allah mendatangkan gempa dan suara yang mengguntur di negeri mereka sehingga jadilah mereka bangkai-bangkai dan rumah mereka pun rata dengan tanah.

“…dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa.”[8]

Nadia, dengan darah yang mengalir dari lukamu, kabarkanlah mereka bahwa segala dosa dan maksiat, apalagi syirik, benar-benar mengundang bencana di bumi pertiwi. Semua jenis dosa dan maksiat telah terperagakan dengan sempurna maka pantas saja tanah air kita terhadiahkan segala jenis bala dan bencana pula.

Sungguh benarlah apa yang dituturkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Akan terjadi pada akhir umat ini pembenaman tempat tinggal, pengubahan rupa, fitnah.”

Kemudian ditanyakan kepada beliau:

“Wahai Rasulullah, apakah kami akan (ikut) dibinasakan padahal di tengah-tengah kami ada orang-orang shalih?.”

Beliau menjawab:

“Ya (benar), sekiranya kenistaan telah merajalela.”[9]

***

____________
Catatan Penulis:

Tidak ada unsur fiktif dalam tulisan diatas. Nadia adalah seorang gadis kecil berumur 4 tahun yang menjadi salah satu dari ribuan korban bencana di tanah air. Semua hal yang berhubungan bencana dan para korban termasuk beberapa data statistik dalam tulisan bersumber dari koran KOMPAS Edisi Sabtu 30 Oktober 2010. Sedangkan hadits-hadits yang tertera kami kutip dari kitab Tadzkiir Dzawil Quluub bi Khataril Ma’aashii wadz Dzunuub karya syaikh Shabri Salamah Syahin.

Semoga Allah menjaga Nadia dan teman-temannya yang masih hidup. Semoga karat-karat dosa pun terkikis. Aamiin.
Wallahu a’lam. Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.

Mataram, Kota Ibadah,  selesai ditulis saat sejuknya waktu pagi ketika burung-burung bersimponi menyambut mentari di ufuk timur.

_______
Endnotes:

[1] Hadits riwayat ath-Thabrani dalam Al-Kabiir dan al-Hakim. Dishahihkan oleh syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jami’ (no. 679).

[2] Ucapan ini dikutip dari kitab Tadzkiir Dzawil Quluub yang ditulis oleh syaikh Shabri Salamah Syahin.

[3] Hadits riwayat ath-Thabrani dalam Al-Kabiir. Dishahihkan oleh syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jami’ (no. 3665).

[4] Hadits riwayat al-Hakim dan ia berkata: “Hadits ini shahih berdasarkan kriteria Muslim dan keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.

[5] QS al-Furqan: 37.

[6] QS al-Haqqah: 6-8.

[7] QS al-Qamar: 19.

[8] QS Hud: 94-95.

[9] Hadits shahih yang diriwayatkan at-Tirmidzi (no. 2185). Dishahihkan oleh syaikh al-Albani dalam ash-shahihah (no. 987) dan dalam Shahiihul Jaami’ (no. 8156).

 

Penulis             : Fachrian Almer Akiera

Akurator         : Izhar S.Pd.I dan Fachrian Almer Akiera

(http://raudhatul-muhibbin.blogspot.com)

One response to this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s