Cambuk Hati Para Pendamba Surga

“. . .begitu cerah mentari memoles kemuningnya siang ini. Sinarnya menerobos celah-celah maupun jendela masjid lalu menerpa lantai kemudian memantul indah. Jiwa-jiwa orang bertakwa sedang merasakan kenikmatan. . .”

***
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. . .

Kami memuji Allah yang tiada sesembahan yang diibadahi dengan hak selain-Nya. Dialah Allah yang telah menjadikan bulan dan bintang gemintang sebagai penghias langit kala datang malam menyelimuti bumi. Dialah Allah yang menjadikan matahari yang begitu mempesona kala siang.

Kami –insya Allah- mengusahakan bershalawat teruntuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap pagi dan petang sesuai dengan tuntunan sebagai salah satu bukti cinta untuknya. Dialah lelaki yang sangat mengharapkan Surga untuk umatnya. Dialah pula yang mewanti-wanti umatnya agar menjauh sejauh-jauhnya dari Neraka. Subhanallah.

~Sekitar Jam 7 Pagi~

Telah tiba saatnya Allah menggantikan malam dengan sejuknya udara pagi yang ditandai dengan terbitnya mentari di ufuk timur. Embun yang menetesi dedaunan terlihat mulai mengering. Burung-burung terdengar berkicauan sambil mengepakkan sayapnya. Manusia dan hewan-hewan mulai bertebaran mencari rizki. Sekiranya matahari atau pun bulan enggan mengintip bumi niscaya hancurlah kehidupan di alam ini karena manusia tak akan mampu menikmati kehidupan tanpa cahaya.

“maha suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan bercahaya. Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” [1]

~Pukul 11.45 WITA di Masjid ‘Aisyah~

Kami merasakan begitu cerah mentari memoles kemuningnya siang ini. Sinarnya menerobos celah-celah maupun jendela masjid lalu menerpa lantai kemudian memantul indah. Jiwa-jiwa orang bertakwa sedang merasakan kenikmatan. Mereka sedang meningkatkan level ketakwaannya dengan ibadah-ibadah yang sangat dianjurkan untuk dilakoni pada hari ini.

Kami dapati dalam kitab Al-Jum’atul Adaab wa Ahkamu Dirasah Fiqhiyyah Muqaranah  bahwa hari ini adalah sebaik-baik hari kala mentari menampakkan diri di ufuk timur. Hari ini adalah hari dimana Nabi Adam ‘alaihisslam diciptakan, dimasukkan dan pula dikeluarkan dari Surga, diterima taubatnya oleh Allah dan diwafatkan. Kelak kiamat akan terjadi pada hari ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“sebaik-baik hari (di dunia) yang matahari terbit di hari itu adalah hari jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan dan pada hari itu beliau diturunkkan dari Surga. Pada hari itu pula diterima taubat darinya dan ia diwafatkan. Pada hari itu juga akan terjadi hari kiamat.” [2]

Bahkan kami dapati pula semua hewan melata yang ada di bumi memasang pendengarannya pada hari ini mulai dari pagi hingga terbit matahari karena takut akan datangnya hari kiamat, kecuali jin dan manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“tidak ada satupun hewan melata yang ada di muka bumi kecuali memasang pendengarannya pada hari jum’at mulai pagi hingga terbit matahari karena takut datangnya hari kiamat, kecuali jin dan manusia.” [3]

~Pukul 12.50 WITA~

Kami merasakan suara imam shalat jum’at begitu lembut terdengar. Makhraj dan tajwidnya tepat terucap. Terasa menyejukkan hati dan menyentuh jiwa. Semakin lama semakin mengikis karat hati dan meyemburkan kesadaran akan fananya dunia. Tiba pada rakaat kedua, suaranya masih mengalun syahdu namun lebih terasa haru hingga ada yang mengucurkan air mata. Seorang laki-laki meneteskan bening kristal dari matanya lalu menyusuri pipi. Isak tangisnya semakin terdengar. Bagaimana tidak, kawan? Surat Al-Ghaasyiyah yang dibacakan sang imam begitu mencambuk hati.

Seperti yang dikatakan Ibnu Abbas dan lainnya, Al-Ghaasyiyah merupakan salah satu nama diantara nama-nama hari kiamat. Kami dapati dalam Shahih Tafsir Ibnu Katsir (mengenai tafsir surat ini ayat 1-7) bahwa pada hari itu banyak wajah yang tunduk dan terhina. Kelak akan ada orang-orang yang akan memasuki api Neraka yang sangat panas nan membakar. Mereka diberi minum dari sumber mata air yang panasnya memuncak lagi mendidih dahsyat. Makanan mereka berasal dari pohon berduri yang paling buruk, paling menjijikkan dan paling memuakkan. Pula, makanan tersebut tak akan menghilangkan kelaparan.

Berbicara tentang Neraka, kami teringat sejenak kisah orang-orang shalih terdahulu yang telah amat jauh mendahului kami dan juga anda dalam hal ilmu dan amal. Kami temui kisah-kisah mereka yang mengagumkan dalam kitab at-Takhwif min an-Nar wa at-Ta’rif Bihal Dar al-Bawar.
Pernah suatu ketika Manshur bin Ammar berbincang-bincang di Masjidil Haram mengenai suatu tema maka Fudhail bin Iyadh menjerit begitu keras hingga pingsan karena teringat tentang Neraka.

Uwais al-Qarni pernah berdiri di tempat tukang besi lalu memperhatikan tukang besi meniup ubupan api. Terdengarlah suara api. Maka spontan Uwais menjerit lalu pingsan karena ingat dan terstimulus akan semburan api Neraka.

Atha’ as-Salimi pernah melewati seorang anak kecil yang membawa obor. Lalu obor tersebut tertiup angin. Saat mendengar suaranya, maka atha’ jatuh pingsan karena mengingat suara semburan dahsyat di Neraka.

Ada seorang pemuda dari anshar yang hatinya dirasuki rasa takut pada Neraka. Ketika dia duduk di rumah, Nabipun mendatanginya, maka dia berdiri menghampiri beliau dan segera memeluknya. Tiba-tiba laki-laki itu menjerit histeris, lalu meninggal dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi sawallam menyuruh sahabat mempersiapkan jenazahnya.

Subhanallah. . ,

Pembicaraan tentang Neraka sungguh membuat mereka pingsan, tubuh mereka bergetar hebat, tidak bisa tidur bahkan Aisyah pun menangis ketika mengingat siksa Neraka. Lebih-lebih lelaki anshar tadi detak jantungya berhenti karena takutnya akan Neraka.

Kami dapati pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika membaca ayat-ayat tentang Neraka maka beliau akan berlindung kepada Allah agar benar-benar dijauhkan dari Neraka. Padahal, beliau dan 10 sahabat lainnya telah mendapat rekomendasi jaminan masuk ke dalam Surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdo’a:

“ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari panasnya Jahannam.” [4]

Demikian pula para nabi yang lain, para syhuhada dan orang-orang shalih senantiasa takut terhadap neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“para nabi, orang-orang yang benar, para syuhada, dan orang-orang shalih senantiasa takut terhadap neraka dan [mereka] menakut-menakuti [guna memperingatkan] (orang lain) terhadap neraka.” [5]

Ketika membaca tentang Neraka dan menulis catatan sederhana yang semoga bermanfaat ini maka kami dapati diri kami lebih pantas takut akan siksa yang Allah sediakan dan janjikan. Baiklah kawan, kami harus mengakhiri goresan pena kami. Sekiranya diteruskan tentu saja pembicaraan akan melebar panjang.

Sekiranya merindukan Surga maka sudah seyogyanya pula “merindukan” Neraka agar hati tercambuk dari kelalaian diri dalam merengkuh hidayah di jalan keimanan.

Semoga Allah menjauhkan kami dan anda dari siksaan-Nya yang amat dahsyat.
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila hailla anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.
Wa akhiru da’wana ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin

akhukum fillah,

Fachrian Almer Akiera
(Yani Fachriansyah Muhammad As-Samawiy)

Mataram, selesai tertulis saat burung-burung masih berkicauan di hangatnya waktu pagi.
_sabtu, 20 Rajab 1431 H/ 03 julil 2010_

Sebagai amanat ilmiah, perlu kami sampaikan bahwa kami banyak mengambil manfaat dari beberapa kitab (edisi terjemahan) berikut:

1. Al-Mausuu’atul Aadab al-Islamiyyah karya Syaikh ‘Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada.

2. Al-Mishbaahul Muniir Fii Tahdziibi Tafsiiri Ibni Katsir yang disusun oleh Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

3. At-Takhwif min an-Nar wa at-Ta’rif Bihal Dar al-Bawar  karya Ibnu Rajab al-Hambali. Kitab ini ditahqiq, takhrij dan ta’liq oleh Syaikh Basir Muhammad ‘Uyun.

4. Al-Jum’atul Adaab wa Ahkamu Dirasah Fiqhiyyah Muqaranah  oleh Syaikh Jabir as-Saidi.

____________
Footnotes:
[1]. QS. al-Furqan: 61-62

[2]. HR Malik (I/108), Ahmad (II/104, 418, 486, 504, 512, 540), dll. Lihat Shahiihul Jami’ (3334)

[3]. Ibid

[4]. Hadist shahih dalam Sunan an-Nasa’i (VIII/278-279). Lihat Jami’ al-Ushul (2381)

[5]. HR al-Bukhari

(http://raudhatul-muhibbin.blogspot.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s