Do’a Mama



Panggung adalah tempat aku mengekspresikan seluruh jiwa seni yang kupunya. Dari berlenggak-lenggok dalam peragaan busana hingga beraksi dalam merdunya suara. Ya, aku memang bergelut dalam dunia fashion juga anak band. Panggung ibarat rumah kedua buatku. Kilatan kamera adalah hidupku.

Uang, materi… jangan ditanya. Aku sudah bisa meraupnya sejak usia belia, aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri juga membantu ekonomi keluarga. Sayang, seiring bertambahnya waktu dan usiaku, semua berubah. Bukan perubahan baik, namun inilah awal dari kehancuranku.

Usia remaja membawaku pada pencarian jati diri, begitu orang bilang. Aku yang semula anak mama, kini merasa terkekang dengan kehadiran mama. Ya, mama yang membuat seluruh jadwal kegiatanku. Katanya sih, agar aku punya waktu istirahat, bisa ngaji, mengerjakan tugas sekolah ataupun show, hingga tak bertabrakan waktunya. Mulanya aku memahami maksud baik mama, tapi kini semua penilaianku berubah. Aku merasa mama mengatur hidupku.

Aku mulai menjadi pemberontak dan pembangkang. Bila mama mengingatkan aku harus mengaji, shalat, mengerjakan PR atau jadwal kegiatanku, aku akan marah pada mama. Aku akan pergi dari rumah tanpa pamit, menghabiskan waktu bersama teman-teman dan baru pulang larut malam.

Kontan saja mama yang khawatir menjadi sangat marah, lebih-lebih karena aku perempuan. Mama sampai menangis karena panik dan khawatir. Bayangkan, pukul satu dini hari aku baru tiba di rumah. Itu pengalaman pertamaku pulang malam.

Shalat dan mengaji mulai aku lalaikan. Tugas sekolahpun banyak yang terbengkalai. Padahal ujian kenaikan kelas hampir tiba. Aku tak peduli. Hari-hariku sibuk di luar rumah. Di luar kegiatan show, aku lebih banyak nongkrong bersama teman-teman. Aku makin susah diatur. Pertengkaran demi pertengkaran mewarnai hubunganku dengan mama.

Aku makin tak menghargai mama sebagai orang tua tunggalku, semenjak papa meninggal. Aku tak pernah peduli apa kata mama dan segudang nasihat baiknya. Dari hari ke hari, aku kian tak terkendali. Bahkan suatu hari, aku pernah mengumpat mama dan menganggapnya parasit dalam hidupku. Gara-garanya sepele, mama mengingatkan aku untuk tidak berhubungan dengan seorang pria.

Aku yang tengah mabuk cinta menjadi gelap mata. Aku mengumpat mama dan menuduhnya ingin menikmati hasil jerih payahku. Mama tak berkata apa-apa saat itu. Ia hanya menangis diiringi pandangan iba dua orang adikku. Adik bungsuku bahkan mengatakan aku anak durhaka dan mendoakan buruk diriku. Kukemasi baju-bajuku, dengan hati meradang. Satu tujuanku, menginap di rumah teman dan bersenang-senang. Mama sempat menahanku, tapi kuhempas tangannya dengan keras.

Astaghfirullah… Mama nggak punya maksud apa-apa Ri. Mama hanya ingin menjagamu…!”

Memang dibanding dua adik perempuanku, aku berbeda. Dari sejak SD, adik-adikku telah rapi menutup aurat. Sementara aku justru sebaliknya. Aku selalu membayangkan diriku menjadi seorang bintang panggung. Dari semula mama kurang setuju, tapi ia tak bisa menahan keinginanku.

Begitulah, hari itu aku pergi bersama teman-teman, berbaur dengan teman-teman pria dalam satu mobil. Kami menghabiskan hari itu hingga larut malam. Satu per satu teman-temanku diantar pulang. Tinggal aku dan tiga orang teman priaku. Mobil melaju tenang membelah jalan. Dari kaca spion, kulihat mereka berbisik. Aku tiba-tiba merasa gelisah. Hatiku kian tak tenang, saat mobil berbelok di jalan yang tak biasa kulalui, jalan alternatif keluar kota dan sepi…

Di perkebunan yang sepi, mobil mendadak berhenti. Jantungku berdegup kencang. Tiga teman priaku itu berniat buruk padaku. Alhamdulillah, otakku berpikir cepat. Sesaat sebelum mereka melakukan niat jahatnya, aku secepat mungkin membuka pintu. Tanganku sempat ditarik keras oleh sopir, hingga terasa sangat ngilu dan sakit. Yang ada dalam benakku aku harus bisa lepas apapun yang terjadi, hidup atau mati.

Begitu paniknya aku, ketika mereka mengejarku. Hatiku tak henti menyebut asma Allah. Aku berlari sambil menangis ketakutan. Bayangan mama berkelebat. Sungguh aku merasa menyesal mengabaikan nasihat mama. Di tengah ketakutan, kepanikan, lelah yang sangat juga kepasrahan atau lebih tepatnya putus asa, aku berpikir inilah akhir hidupku. Bayangkan, tempat itu gelap dan sepi sejauh mata memandang, tak ada tempat sembunyi dan berlindung. Kusebut asma Allah dan mama sepanjang tangis pelarianku. Sementara kakiku sudah begitu lelah, tubuhku bergetar karena takut yang sangat.

Alhamdulillah, dari jauh kulihat ada kerlip beberapa lampu yang kian mendekat. Dua buah mobil rupanya. Aku melambaikan tangan. Semula mobil itu hanya melewatiku namun kemudian kembali mundur. Aku menangis menghiba minta diizinkan naik. Alhamdulillah, aku merasa aman, mereka rombongan orang usai hajatan.

Di mobil pikiranku kacau. Kuhubungi mama untuk menjemputku di sebuah rumah sakit. Saat bertemu mama tangisku pecah, aku minta maaf padanya atas semua sikapku. Aku percaya doa mamalah yang menjagaku atas izin-Nya. Semenjak peristiwa itu, aku berubah. Peristiwa masa SMU-ku belasan tahun silam masih saja kukenang, kujadikan pelajaran berharga dalam hidupku. (***)

Jazakillah khair untuk mama

(Majalah Sakinah Volume 11, No. 1 / Jumadil Awal – Jumadil Akhir 1433)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s