Semua Belum Terlambat



Usiaku belum lagi masuk kepala empat. Tapi bila orang melihat, mungkin usiaku lebih tua dari sebenarnya. Itu karena kesalahanku sendiri. Selain dulu bergelimang maksiat, aku juga tak peduli pada kesehatanku. Tubuhku tak lagi segagah dulu, bahkan tulang punggungku kini melengkung. Ya, aku menjadi cacat. Tapi semuanya sudah menjadi bubur…

Sejak masuk usia remaja, aku mulai mengenal aneka jenis kemaksiatan. Dari mulai merokok, berjudi, juga minuman keras. Ditegur darimana pun dan oleh siapapun, semua tak mempan menghentikan perbuatan burukku. Bila awalnya aku  bermodal harta orang tua sampai ludes untuk semua “hobiku”, hal itu makin menggila saat aku bisa bekerja sendiri.

Kuakui meski bermoral bejat, aku termasuk orang yang selalu beruntung. Dikaruniai otak encer, muka dan fisik yang diidamkan setiap pria, punya orang tua berada, juga hoki yang tak ada putusnya. Semua keberuntunganku ternyata semakin membuatku terjerumus dalam maksiat karena aku tak bisa mensyukuri semuanya.

Saat asyik bermaksiat, acapkali aku berhadapan dengan maut. Empat kali aku mengalami kecelakaan maut yang nyaris mengantarku ke pintu kematian. Namun, itu semua belum juga membuatku jera.

Pernah saat aku hendak pergi berjudi sabung ayam, di tengah jalan aku mengalami kecelakaan. Aku terluka parah hingga masuk ke ruang ICU. Yang luar biasa adalah meski tubuhku koyak di sana-sini dengan luka menganga juga beberapa bagian tubuh patah dan retak, aku tak pingsan. Namun aku mengerang-ngerang karena merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuh. Obat tidur dan penghilang rasa sakit yang diberi dokter, sama sekali tak mempan. Jadilah bangsal penuh dengan rintihanku. Barangkali Allah menegurku dengan membiarkanku merasakan sakit  yang sakit luar biasa dan tetap siuman. Namun alih-alih sadar, setelah sembuh aku tetap bermaksiat dan itu terjadi berulang kali.

Pernah diam-diam kugadaikan BPKB mobil milik orang tua. Hingga habislah tiga mobil keluargaku. Semua kuhabiskan di meja judi. Aku bisa kuat tak tidur selama empat hari empat malam bila tengah berada di meja setan. Makanya orang menjulukiku raja judi. Di mana orang punya hajatan, pasti aku selalu ada di sana. Bahkan mereka sengaja mengundangku, untuk meramaikan judi yang digelar di pesta hajatan. Hal itu membuatku bangga. Naudzubillah!

Entah, aku sendiri tak mengerti otak encerku selalu menjadi buntu bila telah berada di meja judi. Aku rela mangkir dari kerja kantor demi judi. Dan itu terjadi berulang kali. Awalnya aku hanya menerima teguran dari atasan. Kemudian aku memperoleh surat peringatan. Oleh orang tua, aku sudah dinasihati, sayang bila kerja di kantor bonafide yang sudah susah-susah kuraih, tidak kutekuni demi judi. Orang tuaku takut aku dipecat dari kantor kerjaku. Beberapa waktu kemudian, ketakutan mereka terbukti. Aku dikeluarkan dengan tidak hormat dari tempat kerja. Tak hanya itu, kantor juga membawaku ke meja hukum karena korupsi yang kulakukan. Ibu sangat terpukul hingga sakit hampir sebulan.

Hotel prodeo tak menciutkan nyaliku. Hobiku tetap saja berlanjut. Bersama narapidana lain yang “sehobi” kami menggelar judi kecil-kecilan untuk membunuh waktu. Bahkan aku dapatkan banyak “ilmu baru” selama di penjara. Pak Sam, penghuni lama satu selku sering menegur. Ia kadang bertanya kepadaku: Apakah semua maksiat yang kulakukan belumlah cukup? Apakah aku tak berpikir tentang mati dan pertanggungjawaban kelak? Dengan ringan kujawab, “Saya sudah seringkali mau mati pak.”

Istighfar anak muda, sebelum semua terlambat.” Katanya.

Aku tak pernah mengambil pusing nasihatnya. Dua bulan berikutnya aku tak m elihatnya lagi, beliau bebas lebih awal dari seharusnya. Diam-diam aku kehilangan sosok tua yang selama ini tak bosan menasihatiku. Tak lagi kulihat di pojok sel seperti malam-malam sebelumnya sosok tua yang sujud dan menangis di setiap akhir malam. Seketika aku merasa jiwaku kering.

Pulang dari penjara praktis aku menganggur. Hobi judi dan begadang sambil minum masih saja berjalan. Istriku masih saja setia melayaniku meski sering tak kunafkahi dan sering kusakiti. Ia setia membukakan pintu kapan saja aku pulang tanpa mengeluh. Keluar penjara, aku memang bekerja serabutan. Meski begitu, hasil yang seharusnya untuk keluargaku kubawa ke meja judi.

Suatu hari, saat orang menawariku membetulkan atap, senang hati kuterima. Bayangan uang dan meja judi membuatku bersemangat. Jangankan uang, hari itu aku justru masuk Rumah Sakit. Punggung, kaki, dan lenganku patah, jatuh dari atap. Tubuhku mendadak lumpuh, aku tak dapat merasakan apa-apa. Itulah kali pertama aku merasa ketakutan dan tak berdaya.

Alhamdulillah, lumpuhku pulih dalam beberapa bulan. Namun punggungku tak lagi tegak. Aku menjadi bungkuk. Dokter bilang ada syaraf punggung yang terjepit. Dan itu juga karena pengaruh kebiasaan minuman keras, begadang, serta banyak minum kopi. Kebiasaan-kebiasaan buruk itu pulalah yang membuat syarafku mengalami penyempitan.

Sedih? Sudah pasti. Dan musibah inilah yang membuatku menyadari semua kesalahanku. Bersyukur Allah tetap membiarkan aku menghirup udara segar untuk menebus semua kesalahanku. Semoga Allah mengampuni semua dosaku. Sejenak nasihat Pak Sam berkelebat, “Istighfar anak muda, sebelum semua terlambat…” (***)

Syukran untuk Pak Sam & semua nasihatnya.

(Majalah Sakinah Vol. 10 No. 11 / Shafar – Rabiul Awal 1433)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s