Fatimah binti Rosululloh – Sayyidat Nissa Al-‘Aalamin



Oleh: Ustadzah Gustini Ramadhani

Tokoh wanita sahabat ini atau qudwah wanita muslimah kali ini seyogyanya dari dulu-dulu telah dimuat di rubrik kita ini. Ia yang sedianya pertama-tama menghiasi lembaran majalah kita ini. Kenapa? Karena ia putri pemimpin orang-orang yang bertakwa dan sebaik-baik manusia, bahkan ia putri kesayangan beliau.

Dialah putri  Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ibundanya adalah Khodijah binti Khuwailid, istri yang sangat dicintai Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Beliau memberinya nama Fatimah, dan ia biasa digelari Ummu Abiha (ibu ayahnya). Lahir ketika Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam berumur 35 tahun, lima tahun sebelum masa kenabian.

Penulis tidak bermaksud mengupas panjang lebar sejarah hidup putri terkasih Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ini, karena ia adalah Sayyidat nisaa al-‘aalamin (wanita dunia termulia). Hidup beliau mulai dari lahir sampai kematiannya penuh dengan pembelajaran dan suri tauladan bagi setiap wanita muslimah. Penulis hanya berusaha mengetengahkan sedikit dari satu sisi dari kehidupannya, yaitu sisi kehidupannya sebagai pasutri.

BAJU BESI USANG SEBAGAI MAHAR

Ketika mulai menginjak usia remaja, Fatimah yang cantik dan berakhlak mulia mulai didatangi para pelamar yang ingin mempersuntingnya. Ternyata pemuda beruntung yang dapat mempersunting putri kesayangan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ini adalah Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ‘anhu, anak paman Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sendiri, anak kecil pertama memeluk Islam. Diterimanya ia sebagai menantu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah suatu keberuntungan besar bagi pemuda yang sholih seperti Ali rodhiyallohu ‘anhu. Nah, mari kita simak cerita Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ‘anhu tentang pernikahan itu:

Ketika Fatimah dilamar oleh beberapa pemuda yang datang kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, budak perempuanku datang kepadaku dan bertanya, “Tahukah engkau bahwa Fatimah telah dilamar seseorang kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam?

Aku menjawab, “Tidak.”

Ia berkata, “Lalu mengapa engkau tidak melamarnya pula kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam?”

Aku berkata, “Aku hanya pemuda miskin yang tidak memiliki apapun untuk menikahinya.”

Budakku berkata lagi, “Jika engkau menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan melamarnya, maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam pasti akan menikahkannya denganmu.”

Ia (budak Ali, red.) terus mendesak dan memaksaku sampai akhirnya aku pun memberanikan diri menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ketika aku duduk berhadapan dengan beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam, aku hanya membisu. Demi Alloh, aku tidak bisa berbicara sedikitpun karena keagungan beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam. Maka sampai akhirnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Apakah engkau datang untuk melamar Fatimah?”

Aku menjawab, “Ya.”

Lalu beliau berkata, “Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk maharnya?”

Aku menjawab, “Tidak, wahai Rosululloh.”

Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bagaimana dengan baju besimu?”

(Ali berkata dalam hati) Demi Alloh, baju itu sudah jelek, mungkin harganya hanya 400 dirham. Lalu aku menjawab, “Ya, ada padaku.”

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku menikahkannya dengamu (dengan mahar baju besi itu). Kirimkanlah baju besi itu padanya sebagai mahar.”

ISTRI YANG QONA’AH (MERASA CUKUP)

Kehidupan pasutri orang-orang terkasih Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam ini jauh dari kemegahan dan kekayaan. Mereka hidup dalam kezuhudan dan kesederhanaan, kesabaran, dan perjuangan. Mereka tidak mempunyai kasur empuk. Mereka tidur beralaskan kulit domba yang dibentang ketika hendak tidur, dan ketika telah bangun digulung kembali. Mereka juga tidak mempunyai seorang pembantu pun.

Kesulitan hidup mereka bukanlah disebabkan Ali bin Abi Tholib malas dan tidak mau bekerja mencari nafkah. Tetapi di masa itu memang masa-masa sulit bagi kaum muslimin, terutama bagi mereka yang hijrah dari Makkah ke Madinah. Untuk mencari nafkah Ali bekerja apa saja. Pernah di saat kelaparan ia bekerja membantu seorang wanita memetik kurma dan ia hanya mendapat upah 16 butir kurma.

ISTRI SIAGA DENGAN BANYAK PEKERJAAN

Sebagai seorang istri yang sholihah, Fatimah putri Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ini tidaklah berpangku tangan selama menunggu kedatangan suaminya dari mencari nafkah. Ia giat mengerjakan berbagai pekerjaan rumah, mulai dari membersihkan rumah, mencuci, mengadon roti dan seterusnya, sampai tangannya pernah melepuh karena banyaknya bekerja.

Karena kasihan melihat istrinya bekerja keras setiap hari, suatu ketika Ali menyarankan kepada Fatimah untuk meminta kepada ayahnya seorang pembantu, karena ia tahu bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam memiliki beberapa tawanan. Ketika mereka menyampaikan keinginan itu, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menolak memberikan pembantu. Dan pada malamnya beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka dan mengajarkan kepada mereka dzikir, yaitu ketika hendak tidur membaca tasbih 30 kali, tahmid 30 kali, dan takbir 34 kali, dan itu lebih baik daripada pembantu, bahkan dunia beserta seluruh isinya.

DIDIKAN LANSUNG ROSULULLOH SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Begitulah cara Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam menghadapi krisis moneter. Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam lebih mendahulukan kebutuhan yang sangat mendesak dan mengajarkan putri serta menantunya bagaimana cara menghadapi kesulitan, bahwa sesulit apapun hidup namun kepedulian dan cinta terhadap sesame harus tetap dipentingkan, karena tawanan yang ada pada beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah untuk Ahlus-Suffah.

Beliau tidak mau memberikan pembantu untuk putrinya sementara orang lain kelaparan, karena kebutuhan Ahlus-Suffah ditutupi dari penjualan para tawanan itu. Hidup harus saling menolong karena dengan itu akan tercipta kerukunan dan kedamaian. Bukannya di saat sulit hidup hanya mementingkan perut dan kebutuhan sendiri, karena dengan itu akan terjadi kesenjangan dan kebencian antara umat manusia. Dan yang terpenting adalah dzikir kepada Alloh tidak ditinggalkan kapan pun dan di mana pun, dan tawakkal serta berserah diri kepada-Nya.

Pernikahan Fatimah dan Ali bin Abi Tholib dikaruniai lima anak. Mereka adalah: Hasan, Husain, Ummu Kultsum, Zainab, dan Muhassin.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sangat mencintai dan menyayangi putri bungsunya ini. Hal ini sangat terlihat jelas dari perkataan dan perbuatan beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam. Bila hendak melakukan perjalan, tempat terakhir yang dikunjungi beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah rumah Fatimah. Dan tempat pertama yang didatangi sepulang dari perjalanan setelah masjid adalah rumah Fatimah. Baru setelah itu rumah istri-istrinya. Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Fatimah adalah bagian dari diriku. Siapa yang dibencinya maka aku juga membencinya.”

Fatimah meninggal enam bulan setelah wafatnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tahun ke- 11 H, tepat sebagaimana yang dijanjikan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sebelum kematiannya, rodhiallohu ta’ala wa ardhooha.

Referensi: 

  • Al-Ishoobah fi tamyiz Shohabah, Ibnu Hajar.
  • Thobaqot Kubro, Ibn Sa’ad.
  • Al-Isti’aab, Ibnu Abdil Barr.

Diketik ulang dari Majalah Al Mawaddah :: vol. 39 :: Robi’uts Tsani 1432 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s