Gemuk Tidak Selalu Makmur…


Tahun 1998, WHO menyatakan obesitas dalam tingkat epidemik. Kalau dibiarkan akan timbul penyakit bom waktu. Masalah kegemukan sudah mencapai tahap serius dan harus segera diatasi. “Ini sebuah pandemi baru,” kata Prof. DR. Dr. Askandar Tjokroprawiro, MD, Ph.D. “Bakal terjadi global obesity. Sekarang inilah awal dari globesity atau global obesity ini, kalau intervensi tidak berhasil,” tutur Prof. Askandar

Di dunia, lebih dari 1 miliar orang dewasa menderita kegemukan (overweight). Sekurangnya 300 juta di antaranya gemuk dengan indeks massa tubuh lebih dari 30 kg/m2. Kriteria Indonesia untuk gemuk (obese) lebih atau sama dengan 25 kg/m2. Fakta ini menjadi risiko besar bagi munculnya beragam penyakit kronis seperti diabetes melitus tipe-2, hipertensi, penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah), stroke, dan beberapa tipe kanker.

“Penyebab utama dari semua ini adalah perubahan gaya hidup yang tidak sehat, terutama berlebihnya konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan gula, sedangkan aktivitas fisik sangat kurang,” ujar kepala Pusat Diabetes dan Nutrisi RSU Dr. Soetomo-FK Universitas Airlangga, Surabaya ini, dalam simposium nasional bertajuk The 6th National Obesity Symposium; Obesity and Related Disorders di Bali, pekan lalu.

Simposium yang diadakan oleh Himpunan Studi Obesitas Indonesia (Hisobi) ini memaparkan beberapa pandangan dan temuan baru. Prof. DR.Dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FACE, yang menjadi salah satu pembicara utama, mengungkapkan bahwa yang menjadi masalah sekarang bukanlah persoalan indeks massa tubuh.

“Ukuran paling nyata yang bisa kita lihat bahwa dalam tubuh kita ada masalah adalah lingkar pinggang,” kata ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) ini. Makin besar lingkar pinggang, makin tidak sehat. Namun, saat ini masyarakat masih sering salah kaprah dengan hanya melihat berat badan. Indikasi kegemukan yang baik adalah lingkar pinggang, bukan berat badan lagi. Jika lingkar pinggang mengecil, berat badan mengikuti. Tetapi belum tentu orang yang berat badannya berkurang, lingkar pinggangnya mengecil. Terkadang ada sebagian sahabat yang berlebihan memperhatikan berat badannya sehingga meminum teh herbal, herbal atau obat-obatan yang dapat menurunkan berat badan dengan cepat. Padahal sebagian dari itu bersifat diuretik, yang menurunkan berat badan lebih cepat dengan jalan mengeluarkan cairan tubuh melalui urin atau keringat. Apa yang terjadi jika tubuh kehilangan banyak cairan tubuh? Fatal akibatnya.

Pada orang yang kegemukan, lemak ada di mana-mana. Lemak di pantat tidak menjadi masalah karena akan terpakai untuk energi dan hormon tambahan estrogen, juga di tangan, kaki, leher, atau paha. “Lemak yang berbahaya justru yang ada di perut,” ujarnya. Tepatnya lemak yang ada pada perut bagian dalam atau intraabdominal.

Pada praktik sedot lemak, yang diambil adalah lemak yang berada di bawah kulit. “Ini tidak berbahaya,” kata Prof. Sidartawan. Jadi, sedot lemak lebih mengarah ke upaya memperindah, bukan mempersehat. Oleh karena itu di RSH, untuk mengatasi penumpukan lemak, terutama di perut, bukan dengan sedot lemak, yaitu dengan Akupunktur. Akupunktur kesehatan yang digunakan bertujuan untuk menormalkan kembali keseimbangan metabolisme tubuh yang berhubungan dengan pemecahan dan pembentukan lemak. Sehingga tidak hanya sekedar menghilangkan lemak yang menumpuk, tetapi juga menyehatkan metabolisme yang bertanggung jawab terhadap penumpukan lemak di tubuh.

“Lemak dalam perut berbahaya karena hormon-hormon dan asam lemak bebasnya bisa langsung masuk ke lever dan menimbulkan banyak masalah,” sebut Prof. Sidartawan.

Nah, sahabat sudah tahukan bahwa kegemukan (obesitas) sekarang tidak hanya sekedar masalah penampilan saja. Tentu sahabat sudah tahu apa yang terjadi jika obesitas ini mewabah. Kemudian ada sedikit mitos tentang makna KELAPARAN. Mungkin sahabat membayangkan bahwa seseorang yang kelaparan adalah berwajah sangat tirus, dengan tulang pipi yang menonjol. Perutnya sangat kurus. Berat badan yang sangat ringan. Tulang rusuk yang terlihat. Namun, ternyata kelaparan tidak hanya untuk orang yang seperti sahabat bayangkan tadi. Kelaparan juga terjadi pada seseorang yang obesitas. Sehingga orang yang gemuk belum tentu cukup gizi atau kelebihan gizi. Kegemukan bisa terjadi karena kekurangan gizi. Seseorang yang kegemukan tetapi kelaparan seperti ini dikarenakan tubuhnya tidak mendapatkan kecukupan gizi dari yang ia makan. Sel-sel di dalam tubuhnya kekurangan gizi dari makanannya sehingga otak memintanya untuk terus makan, nafsu makan tinggi, dan terus menerus makan. Semakin orang yang seperti ini makan, maka tubuhnya semakin mal-nutrisi. Ironis sekali. Bahkan pernah ada yang berpendapat bahwa kecukupan gizi antara anak miskin kurus India dan anak gemuk (obesitas) kaya Amerika, ternyata kecukupan gizinya lebih tinggi anak miskin kurus India.

Beberapa faktor lain yang juga menambah parah kekurangan gizi sehingga menyebabkan kegemukan adalah:

  • Terjadinya penurunan kandungan gizi pada sayuran, buah dan makanan lain seiring naiknya kandungan zat racun kimia yang terkandung di dalamnya. Zat Gizi 1 batang wortel 50 tahun lalu dengan sekarang, sudah berbeda jauh. Hal ini dikarenakan pertanian modern lebih berfokus pada kuantitas wortel yang dihasilkan, bukan pada kualitas. Wortel atau tanaman “dipaksa” untuk menghasilkan lebih banyak dan lebih besar dengan menggunakan pupuk buatan, modifikasi genetik dan semprotan racun anti hama. Padahal tanaman menghasilkan sesuatu tidak hanya mengandalkan zat urea saja, tetapi tetap membutuhkan berbagai zat organik maupun non-organik dari dalam tanah yang bermacam-macam. Namun, dikarenakan jika urea ditambah, hasilnya cepat besar, maka petani-petani beramai-ramai untuk menggunakan pupuk tersebut. Kemandirian tanah tidak diperhatikan sehingga semakin lama semakin membutuhkan pupuk urea yang lebih banyak untuk menghasilkan yang sama banyak atau lebih banyak lagi. Padahal urea ini jika diteruskan akan banyak mengendap di dalam tubuh manusia yang memakannya. Ketika banyak mengendap, jangan kaget kalau sekarang mulai banyak yang bermasalah dengan asam urat dan tumbuh lebih cepat besar (cepat tua dan mungkin lebih cepat mati).
  • Terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang sudah melalui banyak proses sehingga vitamin, mineral dan enzim yang terkandung di dalamnya sudah sangat berkurang. Kebiasaan ini muncul dengan fenomena budaya serba instan, yaitu junk food. Padahal junkfood adalah makanan yang miskin magnesium.
  • Diet lapar yang awalnya bertujuan untuk mengurangi berat badan, malah membuat tubuh menjadi semakin mudah gemuk kembali. Ternyata dengan diet lapar, bukan hanya mengurangi kalori, tetapi juga mengurangi mineral yang vital dibutuhkan oleh tubuh, salah satu mineral yang paling penting adalah magnesium. Ketika mineral ini berkurang, ternyata otak semakin menstimulasi nafsu makan agar lebih tinggi lagi. Oleh karena itu diet lapar menjadi sering gagal. Bahkan ada yang sampai masuk UGD gara-gara kekurangan gizi yang parah.

Seseorang yang kegemukan secara umum mempunyai masalah hyperinsulinemia (kadar insulin yang sangat tinggi di dalam darah) dan insulin menyebabkan lemak disimpan di dalam sel-sel. Begitu juga dengan kadar gula darah yang menjadi sangat rendah akibat insulin berlebih ini. Ketika kadar gula sangat rendah, tubuh menjadi kelaparan dan nafsu makannya sangat tinggi walau makanan yang sudah masuk di lambungnya sudah penuh. Makanan yang dimakan tidak dapat memuaskan nafsu makannya. Jika polanya seperti ini dapat menyebabkan kelaparan terus menerus, letargi (kehilangan konsentrasi, kadang diiringi seperti mengigau) dan stress. Sindrom ini disebut sebagai sindrom metabolik atau kumpulan penyakit akibat ketidakseimbangan metabolisme. Kombinasi ketidak seimbangan tersebut terdiri dari resistansi insulin, resistansi leptin dan intoleransi glukosa (keadaan dimana tubuh tidak mampu memetabolisir gula sebagaimana mestinya).

Leptin dan Magnesium

Hormon Leptin dan Mineral Magnesium adalah dua zat yang berperan dalam wabah kegemukan saat ini. Dua faktor zat tersebut tidak bisa berdiri sendiri untuk mencegah atau mengakibatkan kegemukan. Ketika kandungan Leptin berlebih di dalam darah, membuat tubuh merespon dengan cara sering kencing (diuresis) dan natriuresis (pembuangan natrium melalui ginjal/ BAK). Keadaan ini membuat banyak mineral magnesium hilang atau dibuang melalui kencing. Kondisi ini seperti pada penyakit diabetes. Perlu diketahui bahwa leptin diproduksi berlebih jika lemak di dalam tubuh berlebih (obesitas).

Magnesium dibutuhkan oleh tubuh untuk mendukung otak agar lebih sensitif terhadap leptin, sehingga tubuh tidak menderita resistensi leptin. Ketika tubuh menderita resistensi leptin, maka sensitifitas leptin berkurang, menyebabkan tubuh memproduksi leptin berlebih atau kurang terkontrol. Magnesium dibutuhkan oleh tubuh selama hidupnya. Oleh karena itu dengan mengkonsumsi mineral vital, terutama magnesium yang cukup, mengatasi obesitas bisa menjadi lebih mudah.

Penelitian menunjukkan bahwa leptin dan magnesium mempunyai peran penting di dalam terjangkitnya penyakit kronis seperti:

  1. Penyakit jantung
  2. Obesitas
  3. Diabetes
  4. Osteoporosis
  5. Penyakit auto-immune
  6. Kelainan reproduksi
  7. Penuaan dini

Penyakit seperti penyakit jantung dan diabetes sangat erat kaitannya dengan peradangan (inflamasi). Sedangkan leptin yang terlalu tinggi dan magnesium yang rendah adalah faktor yang mendukung peradangan. Obesitas hanyalah penanda awal sebelum penyakit jantung dan diabetes terjadi.

Kenali Leptin lebih dekat

Salah satu peran Leptin adalah hormon yang berfungsi untuk menjadi sensor atau pertanda bahwa tubuh sudah kenyang. Ketika tubuh kekurangan leptin, tubuh akan terus menerus makan yang akan menyebabkan kegemukan dan penyakit yang berhubungan dengan kegemukan. Namun kenyataannya tubuh tidak pernah kekurangan leptin, yang ada hanyalah resistensi leptin. Seperti juga resistensi insulin pada diabetes tipe II, sebenarnya leptin dan insulin tetap bisa diproduksi, tetapi sensitifitas tubuh terhadap zat tersebut berkurang. Sehingga membutuhkan lebih banyak leptin, tubuh tidak bisa menggunakan leptin dengan efektif. Apabila leptin yang diproduksi tidak sesuai dengan kebutuhan, maka tubh tidak bisa berhenti makan. Ketika terjadi seperti ini, sebenarnya tubuh kelaparan (kekurangan) magnesium, namun karena yang dimakan berupa junkfood (makanan miskin magnesium) maka tubuh terus ingin makan.

Seseorang yang mempunyai penyakit jantung mempunyai kadar leptin di darahnya 16% lebih tinggi dibandingkan orang yang mempunyai jantung yang sehat (The Journal Circulation).  Setiap kenaikan 30% leptin dari jumlah wajar, meningkatkan resiko serangan jantung sebesar 25%. (Wallace et al 2001)

Jadi sahabat, anggapan masyarakat yang mengatakan bahwa makan terlalu banyak gula menyebabkan kegemukan dan diabetes baru separuhnya benar. Sebagian besar dokter dan masyarakat masih beranggapan tentang diabetes hanyalah ada hubungannya antara kegemukan dan diabetes saja. Kenyataannya, tidak sesederhana itu. Pandemik obesitas dan diabetes tipe II yang merebak saat ini perlu dipahami lebih dalam dan diselesaikan tidak hanya sekedar menurunkan berat badan atau menurunkan kadar gula saja. Butuh penyelesaian secara menyeluruh, tidak hanya parsial, yaitu dengan HOLISTIK (terpadu).

Jika leptin bekerja normal, leptin memberitahu pancreas untuk berhenti memproduksi insulin jika makan sudah cukup atau kenyang. Setiap kali tubuh makan berlebih, maka semakin butuh lebih banyak energi untuk mencernanya. Inilah yang menyebabkan kebiasaan buruk mengantuk setelah makan. Penyebabnya adalah makan berlebih diakibatkan pencernaannya tidak efektif, atau yang bisa diserap dan diubah menjadi energi tidak optimal.

Resistensi leptin menyebabkan tubuh juga menjadi resistensi insulin. Ketika resisten terhadap insulin, membuat tubuh menjadi kurang sensitif dengan insulin. Sehingga tubuh butuh lebih banyak insulin untuk mengubah dan memasukkan glukosa ke dalam sel otot dan liver. Jika sudah terjadi resistensi insulin, berat (massa) badan tubuh bisa tiba-tiba berkurang drastis. Insulin inilah yang dianalisa ketika sahabat melakukan LBA (Live Blood cell Analysis) di RSH. Bukan kadar gula darah yang diperhatikan, tetapi keseimbangan insulinnya yang diperhatikan. Karena insulin yang kurang seimbang belum tentu mengakibatkan kenaikan kadar gula darah berlebih. Ketika ketidakseimbangan insulin diketahui lebih awal, sahabat dapat mencegah diabetes lebih dini, yaitu dengan pola makan dan pola hidup serta bisa dibantu dengan terapi yang tepat.

Sepanjang pengalaman di RSH, yang mempunyai ketidak seimbangan insulin dan leptin juga disebabkan karena pola makan “balas dendam.” Ketika tubuh sudah lapar, tidak langsung makan, namun sekali makan tubuh langsung diberi banyak makanan.

Begadang atau tidur kurang efektif dalam jangka panjang juga menghambat produksi leptin dan menstimulasi tubuh untuk memproduksi lebih banyak Ghrelin. Ghrelin adalah hormon kebalikan dari leptin. Ghrelin berfungsi untuk menstimulasi nafsu makan lebih banyak. Riset juga mengungkapkan bahwa kurang tidur juga berefek pada penumpukan Belly Fat di perut. Nah, bagi sahabat yang Insomnia, yuk terapi di RSH sebelum terjadi kemungkinan yang lebih buruk lagi. Jika insomnia diakibatkan karena masalah psikis, sahabat sangat dianjurkan untuk Hypnotherapy di RSH juga.

Leptin dan Melatonin ternyata juga sangat erat kaitannya. Melatonin adalah hormon yang mengatur siklus sirkadian atau jam metabolisme tubuh. Melatonin lah yang mengatur agar Leptin diproduksi paling banyak di waktu malam dan waktu tidur. Subhanallah, Allah telah menciptakan manusia dan system tubuhnya dengan sangat sempurna. Apakah mungkin manusia diciptakan dengan penyempurnaan bertahap seperti evolusi? NikmatNya yang manakah yang akan engkau dustai? Tidak ada.

Tips: tidurlah dalam ruang yang remang, karena ruang yang terang membuat tubuh sedikit memproduksi leptin karena ruang yang terang mengganggu melatonin. Subhanallah tubuh ternyata tetap ada yang mengatur, walau kita sedang tidur. Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah yang jiwa kita di tanganNya.

Mengenal lebih dekat Magnesium

Salah satu faktor penyebab obesitas adalah kekurangan mineral magnesium dari makanan yang dimakan. Sindrom kekurangan magnesium disebut Hypomagnesemia (serum magnesium kurang dari 0,78 mmol/l). Hypomagnesemia ditemukan pada 27% anak sehat dan 55% anak obesitas.

Sedangkan salah satu penyebab kekurangan magnesium adalah kelebihan konsumsi obat kimia sintetis baik yang diresepkan oleh dokter ataupun tidak. Obat kimia sintetis tersebut menghambat penyerapan magnesium. Inilah yang membuat seseorang yang sakit kronis, terutama diabetes selalu berada di dalam siklus obat-obatan kimia. Diabetes diakibatkan karena kekurangan magnesium, namun diberi obat kimia yang membuat penyerapan magnesium terhambat. Ini juga lah yang menjadi penjelas bahwa konsumsi obat kimia untuk jangka panjang berbahaya.

Ternyata magnesium juga mempunyai peran untuk menyerap nutrisi dan menggunakan nutrisi yang telah diserap. Tanpa magnesium, tubuh tidak dapat menggunakan vitamin, lemak, protein dan karbohidrat yang dikonsumsi setiap hari. Magnesium mengaktifkan ratusan enzim di dalam tubuh yang bermanfaat untuk menyerap nutrisi yang telah dimakan oleh tubuh. Apabila tubuh tidak mendapatkan apa yang dibutuhkan, otomatis tubuh akan makan lebih banyak. Kemudian semakin lebih banyak yang menumpuk juga di tubuh.

Magnesium juga berperan dalam ekstraksi energy dari makanan. Apa yang terjadi jika kekurangan magnesium? Banyak makan, tetapi energi yang dihasilkan sedikit kan? Makan menjadi kurang efektif untuk menghasilkan energi. Semakin banyak energi yang bisa diekstrak dari makanan, maka semakin sedikit pula makanan yang dibutuhkan untuk terasa sehat.

Begitu juga dengan kekurangan vitamin D pada tubuh bisa disebabkan oleh kekurangan magnesium. Magnesium dibutuhkan sebagai kofaktor untuk vitamin D sehingga tubuh bisa mempertahankan kadar vitamin D. Penelitian ternyata juga menunjukkan bahwa pemberian vitamin D juga dapat meningkatkan serum magnesium pada darah. Vitamin D juga dapat mengurangi resiko diabetes tipe II. Vitamin D ternyata banyak di kacang-kacangan, seperti kedelai, kacang hijau dan kacang merah.

Stress bikin gemuk dan gemuk bikin stress

Emosi dan spiritual sebagai 90% penyebab sakit fisik, terutama sakit kronis memang sangat sesuai, termasuk obesitas. Traditional Chinese Medicine telah menemukan hubungan antara kesehatan fisik dengan emosi. Ketika organ tertentu sakit, dapat memunculkan emosi negatif tertentu. Begitu juga sebaliknya, ketika emosi berlebihan dan terus menerus muncul, dapat menyebabkan penyakit fisik pada organ tertentu. Penjelasan lebih lanjut tentang emosi-emosi negatif dapat sahabat baca di artikel kami tentang 7 emosi negatif (http://www.facebook.com/note.php?note_id=248937605173484).

Ketika seseorang stress, hormon adrenalin dan kortisol dilepaskan dengan kadar yang tinggi di darah. Ketika hormone-hormon ini dilepaskan dengan kadar yang tinggi, tubuh bereaksi menekan hormone tiroksin agar mengurangi kadarnya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi efek samping dari hormon adrenalin yang meningkatkan tekanan darah dan detak jantung. Jika tidak dikurangi, metabolisme tubuh bisa rusak keseimbangannya. Tiroksin adalah hormon yang mempunyai peran sebagai salah satu pengatur cepat lambat metabolisme. Ketika tiroksin berkurang kadarnya, metabolisme tubuh melambat. Detak jantung, tekanan darah, pemecahan energy dan lain sebagainya. Oleh karena itu ketika tiroksin terus menerus rendah, menyebabkan penyakit hipotiroid. Sehingga metabolisme (pemecahan) lemak juga menjadi lambat. Ketika pemecahannya melambat maka penumpukan lemak terjadi. Stress memicu obesitas, apalagi untuk sahabat yang jika stress pelariannya ke makan lebih banyak. InsyaAllah sahabat masuk jalur cepat menuju obesitas.

Sedangkan magnesium merupakan mineral vital untuk meraih kesehatan kelenjar hormon dan respon syaraf. Ketika kekurangan magnesium, hormone adrenalin dan kortisol diproduksi berlebih. Hormon ini kemudian memicu munculnya rasa atau emosi stress. Stress dipicu oleh masalah fisik juga. Jadi kalau ada sahabat yang tiba-tiba stress tanpa ada sebab masalah psikis, bisa jadi penyebabnya karena masalah metabolisme. Mungkin inilah salah satu hikmah puasa. Berpuasa secara fisik ternyata juga melatih psikis untuk berpuasa juga. Dengan catatan Puasanya sesuai Sunnah.

Sedangkan untuk terapi masalah psikis yang menyebabkan kegemukan, terapi RSH menggunakan Hypnotherapy. Ketika sesi hypnotherapy, Sahabat diajak untuk mendalami terlebih dahulu sumber masalah dalam internal pribadi dahulu. Setelah ditemukan sumbernya, barulah teknik-teknik hypnotherapy diterapkan sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi. Sedangkan untuk masalah fisiknya kembali, menggunakan terapi PLB (Peluruhan Lemak Badan). PLB di RSH dengan jalan mengembalikan fungsi normal metabolisme tubuh. Sehingga mengatasi obesitas dengan jalan alami, yaitu oleh tubuh sendiri.

Bagi sahabat yang sedang mengerjakan skripsi, kemudian sepanjang mengerjakan skripsi kok menjadi tambah berat badannya. Artikel ini semoga menjadi jawabannya.

Semoga catatan kecil ini menjadi manfaat dan menambah keberkahan pada kesehatan kita semua. Bagi sahabat yang ingin mengetahui lebih jauh tentang hypnotherapy, PLB (Peluruhan Lemak Badan), akupunktur dan berbagai terapi lainnya di RSH, sahabat boleh hubungi 0274-8516868/ 0878-3966-0590.

oleh Hasnil Afrizal Muttaqien, S.Si, CPNLP, CHt.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s