Kesabaran Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam


Oleh: Ustadz Abu Abidah Ash-Shoqoli

Dialah seorang nabi yang tidak dijelaskan secara gamblang tentang zaman kenabiannya dan di kaum apa beliau berdakwah. Semua cerita tentang Nabi Dzulkifli hanya sebatas pendapat-pendapat, tidak berdasar dalil yang qoth’i.

Alloh subhanahu wa ta’ala telah mencatat beliau ‘Alaihissalam sebagai jajaran orang-orang yang sabar dan menjadi hamba pilihan.

Dan ingatlah Nabi Isma’il, Nabi Idris, dan Nabi Dzulkifli, semuanya termasuk orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anbiya’ [21]:85)

Dan ingatlah Nabi Isma’il, Nabi Yasa’, dan Nabi Dzulkifli, semuanya termasuk orang-orang pilihan. (QS. Shad [38]: 48)

Dzulkifli adalah julukan untuk beliau. Nama beliau sebenarnya tidak diketahui secara pasti. Sebab musabbanya juga beragam .الْكِفْلِ   itu maknanya menjamin tanggungan. Telah terjadi silang pendapat tentang di masa apa Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam hidup. Pendapat yang pertama menyatakan bahwa Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam adalah anak Nabi Ayyub ‘Alaihissalam yang mana nama lengkapnya adalah Bisyr bin Ayyub. Beliau berdakwah di daerah Syam. Pendapat ini mengatakan bahwa Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam adalah seorang nabi bukan dari kalangan Bani Isro’il.

Pendapat yang kedua menyebutkan bahwa Nabi Dzulkifli adalah seorang nabi dari kalangan Bani Isro’il. Beliau hidup di masa Nabi Yasa’, seorang nabi yang hidup setelah Nabi Ilyas ‘Alaihissalam. Alasan mereka, karena ada riwayat yang disebutkan dengan jelas perihal nama Nabi Yasa’ sebagaimana diriwayatkan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari jalan Mujahid. Dan Ibnu Katsir menukilnya dalam kitab Qoshosh al-Anbiya’ 217 dan beliau tidak berkomentar tentang derajat kisah ini.

Mujahid berkata: Ketika Nabi Yasa’ telah berusia tua, beliau ingin memberikan mandate kepada seseorang untuk mengurusi kaumnya saat dirinya masih hidup agar dia tahu bagaimana cara kerjanya. Maka Nabi Yasa’ mengumumkan pada kaumnya, “Siapa yang bisa menerima tiga kewajiban dariku, yaitu berpuasa di siang hari, sholat tahajjud di malam hari, dan sekali-kali tidak akan marah, maka aku berikan mandat padanya.”

Maka majulah seorang laki-laki yang rendahan di antara mereka, sambil menjawab, “Saya.”

Nabi Yasa’ bertanya, “Apakah engkau sanggup?”

Ia menjawab, “Ya.”

Maka sejak saat itulah Nabi Dzulkifli diberikan mandat untuk menggantikan tugas nabi tersebut untuk memutuskan segala urusan pada kaumnya waktu itu. Beliau terbukti mampu menunaikan tugasnya dan sanggup melaksanakan tiga kewajiban yang dibebankan padanya.

Sejak saat itu, setan ingin menggodanya. Setan menjelma sebagai seorang yang tua renta lagi kelihatan miskin papa. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan Nabi Dzulkifli karena terlalu sibuknya dalam kesehariannya beliau tidak ada waktu untuk tidur kecuali sesaat di waktu siang. Maka datanglah setan yang menjelma sebagai lelaki tua itu ketika Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam hendak tidur siang. Tujuannya adalah agar Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam menjadi marah karenanya.

Mula-mula lelaki tua itu mengetuk pintu rumah Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam, padahal beliau sudah berbaring untuk istirahat. Begitu pintu diketuk, menyahutlah Nabi Dzulkifli dari dalam, “Siapa ?!”

“Saya lelaki tua yang teraniaya,” jawab lelaki tua itu. Setelah pintu terbuka, mengadulah lelaki tua itu pada Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam. Dia berkata, “Saya seorang tua yang teraniaya. Telah terjadi pertikaian antara diriku dan kaumku, lalu mereka berbuat zholim kepadaku dan mereka juga berbuat begini dan begitu.”

Lelaki it uterus bercerita dan menambah ceritanya hingga datanglah waktu sore. Hingga pada akhirnya, hilanglah kesempatan tidur siang Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam. Beliau berkata, “Wahai tuan, hendaklah engkau dating di majelisku sore ini. Nanti akan aku selesaikan hakmu dari kaummu.” Maka pulanglah lelaki tua itu dan Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam tidak jadi beristirahat karenanya.

Selanjutnya, sore itu Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam duduk di majelisnya untuk menyelesaikan urusan-urusan kaumnya. Beliau menunggu lelaki tua yang dating barusan tadi untuk diselesaikan urusannya. Namun lelaki tua itu tidak muncul-muncul. Keesokan harinya ketika Nabi Dzulkifli kembali duduk di majelisnya untuk menyelesaikan berbagai urusan kaumnya, beliaupun tidak mendapati lelaki tua itu. Baru ketika datang siang dan Nabi Dzulkifli beranjak untuk istirahat, kembali pintu rumahnya terketuk. Selanjutnya Nabi Dzulkifli membukakan pintu dan ternyata lelaki tua itulah yang muncul. Nabi Dzulkifli lalu berkata, “Wahai tuan, bukankah sudah aku katakana, jika aku di majelis, datanglah padaku lalu aku akan menyelesaikan urusanmu.”

Lelaki tua itupun beralasan, “Wahai Nabi Alloh, sesungguhnya kaumku sejelek-jelek manusia. Ketika mereka tahu bahwa engkau duduk di majelis untuk menampung berbagai aduan rakyatmu, mereka bersegera memberikan hakku. Namun ketika mereka tahu bahwa dirimu tidak ada di majelis, mereka kembali merampas hakku.”

Begitulah lelaki itu di hari kedua terus bercerita dan menambah ceritanya hingga datanglah waktu sore. Hingga pada akhirnya, hilanglah kesempatan tidur siang bagi Nabi Dzulkifli untuk kedua kalinya. Namun Nabi Dzulklifli tidak marah karenanya. Dan sore harinya, kembalilah Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam duduk di majelisnya untuk menyelesaikan urusan-urusan kaumnya. Namun lagi-lagi lelaki tua itu tidak muncul batang hidungnya. Maka di siang harinya pada hari ketiganya, Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam tertimpa rasa kantuk yang luar biasa, beliau berpesan kepada sebagian keluarganya, “Sekali-kali jangan biarkan seorang pun untuk mendekati pintu kamarku ini sampai diriku bangun tidur. Sungguh rasa kantuk yang sangat telah menimpaku.”

Beberapa saat kemudian, datanglah kembali lelaki tua itu. Penjaga pintu langsung menghalanginya, “Pergilah tuan! Nabi Dzulkifli sedang beristirahat. Beliau tidak bisa diganggu!”

Namun lelaki tua itu tetap bersikeras, “Sungguh aku telah datang di hari kemarin dan aku telah bercerita padanya akan masalahku. Sekarang aku betul-betul mendesak bertemu dengan beliau.”

Penjaga pintu tetap bersikukuh, “Tidak, sekali-kali kami tidak memperbolehkan seorang pun untuk mendekati pintu itu.”

Maka ketika menemui jalan buntu dalam perdebatan itu, lelaki itu melihat ada suatu lubang angin di rumah Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam, lalu dengan sigap ia pun menyusup ke rumah Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam lewat lubang itu. Hal itu mudah baginya karena memang dirinya adalah setan.

Ketika sampai di dalam, lelaki itu mengetuk pintu dari dalam. Mendengar pintu terketuk, bangunlah Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam dan tercenganglah beliau karena ternyata di dalam kamarnya ada orang. Beliau pun bangun lalu memeriksa pintu rumahnya, dan didapatinya pintu rumah masih terkunci rapat. Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam selanjutnya tahu siapa lelaki tua itu. “Apakah dirimu musuh Alloh, yakni setan?”

Lelaki itu menjawab, “Ya. Sungguh kau telah membuatku payah. Aku telah melakukan berbagai cara, sebagaimana  kau lihat, supaya aku bisa membuatmu marah, namun ternyata usahaku itu sia-sia.”

Maka begitulah Alloh Subhanahu wa ta’ala memberi nama pada beliau Dzulkifli, karena apabila beliau menjamin atau menanggung sesuatu, maka beliau bisa menuntaskannya.

Wallohu a’lam.

Diketik ulang dari Majalah al Mawaddah Vol. 37 Shofar 1432 H Januari-Pebruari 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s