Anugerahkan Aku “Al-Furqaan” Wahai Rabb-ku (Catatan Akhir Pekan Part 15)


إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله

Wanita tetaplah wanita dengan berbagai kemilau godaan syaitan yang “memperindah” mereka baik dalam tutur kata, suara, apalagi bahasa tubuhnya. Pada saat yang sama, lelaki tetaplah lelaki yang jiwanya melemah di hadapan wanita, di balik kejantanannya sebagai laki-laki.”

***

Dengan pesona takwa yang membias dari mata air keimanan, seorang penuntut ilmu kan meraih mutiara “Al-Furqaan” yang Allah hadiahkan untuknya. Dengan mutiara “Al-Furqaan” yang cahayanya berkemilau tersebut, bertambahlah kemampuan untuk membedakan yang haq dan bathil, bertambahlah hidayah yang Allah kucurkan dan terkikislah kesesatan.

Allah menegaskan mutiara “Al-Furqaan” dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu “furqaan” dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”[1]

>>Makna-makna Al-Furqaan yang Disebutkan Mufassirin

Apakah yang dimaksud “Al-Furqaan” dalam ayat di atas?

Muhammad Ibnu Ishaq berkata, seperti yang dikutip Ibnu Katsir:

{فُرْقَاناً} أَيْ فَصْلًا بين الحق والباطل

““Al-Furqaan” adalah pembeda antara kebenaran dan kebathilan”[2]

Jabir bin Musa Al-jazairi rahimahullah berkata:

فرقاناً: نوراً في بصائركم تفرقون به بين النافع والضار والصالح والفاسد.

““Al-Furqaan” adalah cahaya dalam pandangan kalian sehingga kalian dapat membedakan hal yang bermanfaat dan mencelakan atau antara yang baik dan kerusakan.”[3]

Dalam kitab At-Tafsir al-Hadits dikatakan:

فرقانا: هنا بمعنى الهداية والنصر والتأييد أو القدرة على تمييز الحق من الباطل.

و مخرجا من الشبهات وتوفيقا.

““Al-Furqaan bermakna hidayah, pertolongan, pengokohan (iman), kemampuan dalam membedakan yang haq dan bathil, bermakna jalan keluar dari syubhat dan merupakan sebuah taufiq.”[4]

Syaikh Muhyiddin bin Ahmad Musthafa Darwis berkata:

«الفرقان» هنا، فقال بعضهم: هو ما يفرق به بين الحق والباطل، والمعنى أنه يجعل لهم من ثبات القلوب، وثقوب البصائر، وحسن الهداية

“Berkata sebagian ulama, “Al-Furqaan” berkmakna sesuatu yang bisa membedakan antara haq dan bathil. Maknanya pula bahwa Allah menjadikan mereka dalam ketetapan hati, tajamnya pandangan dan kebaikan hidayah”[5]

Ibnu Katsir berkata:

وقيل:الفرقان المخرج من الشبهات،

“Dikatakan pula bahwa “Al-Furqaan” adalah jalan keluar dari syubhat”[6]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata:

الفرقان: وهو العلم والهدى الذي يفرق به صاحبه بين الهدى والضلال، والحق والباطل، والحلال والحرام

““Al-Furqaan” bermakna ilmu dan petunjuk yang mampu menjadikan pemiliknya dapat memisahkan petunjuk dan kesesatan, kebenaran dan kebathilan, halal dan haram”[7]

>>“Al-Furqaan” dan Sensitifitas Jiwa

Sebenarnya banyak makna yang dibawakan para ulama tentang “Al-Furqaan” dalam surat al-Anfal ayat 30 di atas.

Dari ungkapan ulama yang kami bawakan, kami lebih menangkap adanya kesan “sensitif” dalam makna-makna yang ada. Sensitif yang kami maksudkan adalah kepekaan jiwa dalam membedakan antara kebenaran dan kebathilan, kepekaan hati dalam menangkap “sinyal” yang menandakan bahwa syubhat maupun syahwat sedang menguji keimanan, kepekaan dalam membedakan halal dan haram , kepekaan dalam menjaga hidayah dan sensitifitas lainnya yang merupakan instrumen pengokoh ataupun penambah keimanan.

Kami mengibaratkan “Al-Furqaan” dengan mutiara hati yang kemilaunya amat menakjubkan. Inilah anugerah Allah kepada sosok-sosok yang berusaha mengualitaskan ketakwaannya sehingga mereka lebih sensitif dalam mendeteksi adanya fitnah syubhat dan syahwat. Tak hanya mendeteksi, mereka juga diberi taufik oleh Allah untuk keluar dari fitnah tersebut.

Syaikh Muhyiddin bin ahmad Musthafa Darwis berkata:

«الفرقان» هنا، فقال بعضهم: هو ما يفرق به بين الحق والباطل، والمعنى أنه يجعل لهم من ثبات القلوب، وثقوب البصائر، وحسن الهداية

“Berkata sebagian ulama, “Al-Furqaan” berkmakna sesuatu yang bisa membedakan antara haq dan bathil. Maknanya pula bahwa Allah menjadikan mereka dalam ketetapan hati, tajamnya pandangan dan kebaikan hidayah”[8]

Ibnu Katsir berkata:

وقيل:الفرقان المخرج من الشبهات،

“Dikatakan pula bahwa “Al-Furqaan” adalah jalan keluar dari syubhat”[9]

>>Pudarnya Kemilau “Al-Furqaan” di Facebook.

Hanya saja syaitan tentu tak akan tinggal diam melihat kemilau “Al-Furqaan” yang merona ini. Dengan berbagai trik dan tipu muslihat yang lembut dan halus, ia akan melancarkan serangannya sehingga secara perlahan mampu memudarkan cahaya “Al-Furqaan”.

Di dunia maya pun terbentang banyak fitnah. Dengan “Al-Furqaan” yang ada di hatinya, diharapkan penuntut ilmu lebih sensitif baik terhadap pengetahuan terhadap adanya fitnah tersebut maupun kemampuan hati dalam melerai diri dari fitnah yang siap menumpukkan dosa.

Berikut beberapa fitnah bagi para penuntut ilmu di Facebook.

I. Ikhlas yang Ternoda

Semoga saja hati kami dan anda tak jenuh mendengar kata ikhlas yang merupakan mutiara yang menyahdukan hati. Begitu istimewa ketika niat hati tak bercabang dua atau lebih. Kan ia memutiara ketika hanya kepada Allah niat diarahkan, bukan kepada dunia yang hendak diraih nan diangan-angankan dan belum tentu tergapai, bukan pula kepada saudari fulanah yang ingin dinikahi dan belum tentu menjadi istri.

Begitu tepat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan,

«إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها، أو إلى امرأة ينكحها، فهجرته إلى ما هاجر إليه»

“Sungguh amal itu hanyalah tergantung niatnya dan setiap perkara berdasarkan apa yang diniatkan. Siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendaki dan karena wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai apa yang ia tujukan.”[10]

Jika harus melibatkan diri dalam dunia maya, harus diniatkan untuk kebaikan dan mengharap wajah Allah sehingga berkahnya dirasakan oleh pemilik akun maupun teman berkawan, minimal se-friendlist. Bukan untuk menghabiskan waktu, medominasinya dengan canda, atau hal-hal lain yang tak bersahaja, apalagi sampai maksiat kepada Allah. Jika berfacebook dengan niat yang “mendua” ditambah dengan aktifitas maksiat di dalamya maka inilah petaka. Inilah petaka.

II. Fitnah waktu

Tak bisa disangkal waktu banyak terbuang namun kualitas diri tak jua membaik baik dari segi ilmu apalagi amal yang merupakan buahnya.

Salah satu indikasi banyaknya waktu terbuang adalah banyaknya status dari pemilik akun dalam sehari. Rentang waktu antara status yang bermunculan dari akun yang sama amat sedikit. Artinya kuantitas waktu di Facebook amat banyak. Parahnya status yang bermunculan hanya sekedar keluhan-keluhan ataupun laporan kegiatan pribadi yang amat minim faidah, kalau tidak dikatakan tak berfaidah.

Katakanlah minimal 1 jam 30 menit membuka Facebook maka terdapat minimal 10 jam dalam waktu seminggu.

Apa yang bisa dilakukan dalam waktu 10 jam di luar Facebook?

Buanyak: membaca kitab para ulama, mempelajari bahasa arab dan kaidahnya, menulis banyak faidah, memuraja’ah hafalan Al-qur’an dan hadits, dan lain-lain yang sifatnya multi manfaat.

Dalam kitab Shahih Muslim terdapat 7275 hadits dengan adanya pengulangan hadits sejenis. Jika pengulangan hadits ditiadakan maka terdapat 4000 hadits tanpa pengulangan. Jika proyek menghafal 1 hadits per hari maka dibutuhkan waktu minimal 11 tahun untuk menghafal Shahih Muslim.

Bayangkanlah bahwa menghafal satu hadits dibutuhkan minimal 50 kali pengulangan pembacaan teks hadits dan ini membutuhkan waktu minimal 1 jam. Untuk muraja’ahnya pun dibutuhkan 30 pengulangan pembacaan teks. Tentu bertambah pula waktu yang dibutuhkan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kuatnya hafalan setelah membaca teks sebanyak 320 kali.

Di sana, masih ada Al-qur’an, kitab Shahih Bukhari maupun kitab haditys lainnya, ilmu bahasa arab dan kaidahnya beserta disiplin ilmu lainnya yang lebih membutuhkan perhatian dan keseriusan yang amat tinggi dibanding menghabiskan waktu di Facebook, apalagi sekedar bermain game Facebook.

Sangat baik untuk mengurangi waktu di Facebook termasuk dengan menonaktifkannya selamanya atau dalam periode waktu tertentu. Jika tidak, pudarlah kemilau “Al-Furqaan”.

III. Wanita: Syahwat Dunia Maya

Sudah banyak artikel para ustadz maupun rekan-rekan penuntut ilmu yang membahas dahsyatnya fitnah wanita namun tingkat penerapannya adalah masih nol besar. Masih banyak yang bermudah-mudahan dengan lawan jenis termasuk di dunia maya.

Mereka tak malu mengobral canda/mesra baik “ringan” hingga ke level vulgar baik di status maupun note, terlebih via inbox yang kelihatan lebih “aman” dari pantauan publik. Jika anda melihat para pembawa risalah ilmu termasuk mereka yang dipanggil ustadz bermudah-mudahan dengan wanita maka itu bukanlah pembenaran terhadap apa yang mereka lakoni tersebut.

Maksiat tetaplah maksiat dan wanita tetaplah wanita dengan berbagai kemilau godaan syaitan yang serba “memperindah” wanita baik tutur kata, suara, apalagi bahasa tubuhnya. Pada saat yang sama, lelaki tetaplah lelaki yang jiwanya melemah di hadapan wanita, di balik kejantanannya sebagai laki-laki.

Kami yakin, sudah banyak kisah asmara yang terlakoni berlatar dunia maya. Ada yang berujung tangisan, pernikahan bahkan hingga zina.

Putuskanlah mata rantai fitnah ini dengan semakin mengasah tajam “Al-furqaan” dan melakukan langkah-langkah aplikatif yaitu ikhwan berteman dengan ikhwan saja dan akhwat cukup berteman dengan akhwat saja kecuali mahram.

IV. ‘Ujub/riya’/sum’ah/hasad dan yang sejenis

Berbicara tentang penyampaian ilmu, Facebook adalah salah satu lahan yang dijadikan wasilah penyampaian risalah agama, secara tertulis tentunya. Mereka, para penuntut ilmu, berusaha ikut andil dalam menyebarkan ilmu yang mereka peroleh dalam proses belajar.

Mereka berusaha memberikan inspirasi untuk memberikan “warna special” di Facebook melalui status maupun note dengan cara menyebarkan tulisan para ulama/asatidz maupun tulisan pribadi dengan harapan membagi secercah cahaya kepada mereka yang masih minim pemahaman dan praktek keagamaan sehingga tak sedikit pengguna Facebook yang mengenal manaj salaf.

Namun, syaitan tak akan tinggal diam melihat kebaikan ini. Ia menggoda para penuntut ilmu dengan berbagai penyakit hati sehingga bersaranglah ‘ujub, riya’, serta iri hati kepada sesama penuntut ilmu.

Mereka larut dalam pujian terhadap status/note yang mereka tulis namun pada saat yang sama begitu memanas ketika melihat pujian terhadiahkan kepada pihak lain. Mereka pun ada yang memanas ketika status atau note pihak lain banyak disukai.

Inilah dengki. Sang pemilik hati seolah-olah menangis melihat kelebihan orang lain. Allah melarang dengki ini.

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”[11]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata:

ينهى تعالى المؤمنين عن أن يتمنى بعضهم ما فضل الله به غيره

“Allah melarang kaum mukminin iri hati kepada sebagian orang yang Allah berikan keutamaan”[12]

Ada 8 tanda hasad seperti yang disebutkan ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz dan beliau nukil dari kitab Ma’aalim Fie Thariq Thalabi Al-‘ilmi:

– Senang dengan kesalahan temannya.

– Senang dengan ketidakhadiran temannya.

– Senang dan merasa puas jika temannya dicela.

– Hatinya akan terasa sakit dan dadanya terasa sempit apabila ada pertanyaan dilontarkan kepada temannya dan dia ada saat itu.

-Tidak menghargai ilmu atau manfaat yang dimiliki temannya.

– Mencoba menyalahkan pembicaraan temannya dan mengkiritik apabila temannya menjawab.

-Tidak menisbatkan keutamaan dan pelajaran kepada orang yang mengajari dia.[13]

Ustadz Yazid hafidzahullahu pun berkata:

“Dengki akan mengurangi pahala seseorang dalam mencari ilmu, memperlemah hafalannya dan akan mengurangi konsentrasinya dalam menghadiri dan memahami ilmu.”[14]

Lebih parah lagi akibat hasad yaitu seolah menggugat apa yang Allah takdirkan, seperti yang diungkapkan syaikh Muhammad bin Shalih Al-ustaimin rahimahullah. Beliau berkata pada pasal khusus tentang hasad dalam kitab beliau yang masyhur Kitaabu Al-‘ilmi:

النه اعتراض على قضاء الله وقدره وعدم رضا بما قدره الله. لأن الحاسد يكر هذه النعمة التي أنعم الله بها على المحسود.

“sesungguhnya hasad berusaha menghalangi ketentuan yang Allah takdirka dan menghilangkan ridha terhadap apa yang Allah takdirkan pula. Orang yang hasad, sesungguhnya, membenci nikmat yang Allah berikan kepada orang yang dihasadkan.”[15]

***

Marilah kembali menghormati dan memuliakan ilmu yang ada dalam dada kita walaupun secuil. Marilah kembali mengemilaukan “Al-Furqaan” yang mungin baru saja meredup. Marilah kembali memantikkan sumbunya dengan takwa yang terperagakan oleh hati, lisan dan anggota badan agar “Al-furqaan” berkobar hingga dengan kemilaunya mampu meningkatkan sensitifitas hati terhadap fitnah syubhat dan syahwat.

Sangat banyak fitnah untuk penuntut ilmu. Tak hanya yang kami sebutkan. Inilah nasehat kami untuk diri kami pribadi.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Fachriy Aboe Syazwiena

Asrama Ansharussunnah, Lantai III Islamic Centre, Mataram Kota Ibadah, Lombok

Rabu, 08 Rabiul Awwal 1433 H/01 Feb. 2012 M

_______

End Notes:

[1] QS Al-Anfal: 29

[2] Lihat Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir oleh Muhammad Ali ash-Shabuni II/99, Asy-syamilah

[3] Lihat kitab tafsir beliau yang berjudul Aisaru At-Tafaasir Likalaami Al-Ali Al-Kabiir II/229 penerbit Maktabah Al-‘Ulum Wa Al-Hukm. Madinah Munawwarah 1424 H, asy-Syamilah

[4] Lihat kitab At-Tafsir al-Hadits VII/32, penerbit Dar ihya Alkutub al-Arabiyyah, Al-qahirah, 1383 H, Asy-syamilah

[5] Lihat kitab I’rabul Qur’an Wa Bayanuhu (III/558) karya syaikh Muhyiddin Ibnu Ahmad Musthafa Darwis, penerbit Dar Ibnu Katsir, Beirut 1415 H.

[6] Lihat end notes no. 1

[7] Lihat kitab tafsir Taisiru Al-Karim Ar-Rahman Fie Tafsir Al-Kalam Al-Mannan I/139, penerbit Muassisah ar-Risalah, 1420 H. Asy-syamilah

[8] Lihat kitab I’rabul Qur’an Wa Bayanuhu (III/558) karya syaikh Muhyiddin Ibnu Ahmad Musthafa Darwis, penerbit Dar Ibnu Katsir, Beirut 1415 H. Asy-syamilah

[9] Lihat end notes no. 1

[10] HR Bukhari

[11] QS An-Nisa’: 32

[12] Lihat kitab tafsir Taisiru Al-Karim Ar-Rahman Fie Tafsir Al-Kalam Al-Mannan I/176, penerbit Muassisah ar-Risalah, 1420 H.

[13] Lihat buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga oleh ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz, hal 195, Pustaka At-takwa, Bogor, 2009 M.

[14] Ibid, hal 194.

[15] Lihat Kitaabul ‘Ilmi oleh syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin hal 231, penerbit Maktabah Taufiqiyyah, Mesir.

One response to this post.

  1. Posted by irwan on September 19, 2013 at 7:17 pm

    saya izin copy

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s