Aku Koki Setengah Jadi…


Ah, tugasnya bertumpuk mengurus rumah, memasak, mencuci, mendidik si atau para buah hati, dan banyak kegiatan lainnya. Wanita yang merupakan istri dan ibu dari anak-anak kita itu, amat berusaha mendedikasikan dirinya sebagai wanita yang mulia dan ingin membantu kita mengarahkan biduk rumah tangga menuju surga Allah. Subhanallah.

Diusahakannya tak tidur malam demi sang buah hati yang menangis. Dicucinya baju kita yang terkena noda kemarin hari. Dibuatnya bubur nasi untuk si buah hati kita. Dipelnya lantai rumah kemudian menyapu halaman. Setelah kita bersiap-siap kerja, disediakannya baju kita yang sudah disetrika dan diwangi-wangi, kemudian membetulkan kerah baju kita yang tak asyik terlihat.

Pagi tadi, diirisnya bawang dengan penuh cinta untuk menciptakan cita rasa istimewa untuk masakan yang akan kita santap. Begitu spesial terasa di lidah kita, bukan?

Benar. Rasanya begitu spesial. Tak terjual di tempat makan di luar sana. Ia meracik bumbu-bumbu dengan lihai agar kita bisa tersenyum penuh kehangatan kasih setelah menyantap masakannya itu. Dan kita harus jujur kepada diri sendiri atau kepadanya bahwa masakannyalah yang membuat kita rindu rumah, salah satunya.

>>Harapan di Sudut Ruang Hatinya

Mari sedikit jeli untuk meneropong sebuah harapan yang menunas di sudut ruang hatinya. Setidaknya, ada keinginan darinya agar kita pun bisa menyenyumkan wajahnya dengan apa yang kita mampu lakukan.

Diantara mereka, para istri, berkata:

“Salah satu kebanggaan bagi kami, para istri, adalah jika sang suami bisa membuat kejutan-kejutan kecil untuk kami, salah satunya dengan memasak makanan kesukaan kami.”

Masya Allah. Begitu tulusnya ungkapan di atas. Terlihat ada timbal balik dari apa yang mereka perbuat di arena rumah tangga. Sesekali, begitu inginnya si dia agar kita sedikit terampil di dapur untuk menjadi koki walaupun tak semahir ahlinya.

Meraka juga bertutur:

“Hal yang sangat istmewa saat kaum adam begitu mahir dalam memasak, padahal dapur bukan dunia mereka. Rasanya tidak ada istri yang tidak akan bahagia.”

“Betapa bahagia amat dirasakan seorang istri apabila sang suami mencitakan kejutan-kejutan. Selain menambah rasa cinta, hal itu akan mampu menelurkan sikap pengertian dari sang suami.”

“Saat betapa lelah dan sulitnya meramu masakan, bergulat dengan panasnya kompor, sang suami menjadi mengerti betapa hebatnya sang istri menekuni pekerjaan ini setiap hari untuknya. Cinta pun akan terus bersemi seiring bertambahnya rasa pengrtian.”

Memasak, cukup menyenangkan jika kita mengerjakannya dengan hati ikhlas. Ada sebuah tantangan bagaimana agar hasil kreasi kita layak untuk dinikmati sang istri.  Baginya, ada poin tambahan dan kitapun memanjakannya lalu muncullah kekaguman itu darinya. Maka, dengan kejutan yang romantis, sekaligus menjadi bukti cinta kita bahwa kita adalah sejatinya lelaki di hatinya yang berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik. Indah nan syahdu, bukan?

Bukanlah suatu hal yang hina sekiranya lelaki terlihat di dapur untuk memasak. Itu merupakan bukti bahwa kita pun meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dikeluarkan Al-Bukhariy dari jalan Al-Aswad bin Thariq bahwa dia bertanya kepada ‘A`isyah: “Apa yang dikerjakan Nabi ketika berada di rumah?” ‘Aisyah berkata: “Adalah beliau (suka) membantu keluarganya dan apabila mendengar adzan beliau keluar.” (HR. Al-Bukhariy no.5363)

Inilah tauladan dari orang yang paling mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau biasa membantu pekerjaan istrinya, menjahit bajunya yang robek, menyambung tali sandalnya yang putus dan yang lainnya.

>>Masak-masak Mesra

Pun, bukanlah hal yang aneh jika sepasang suami istri mengatur ritme kemesran di dapur, saling memadukan resep-resep kreatif mereka yang mampu menambah rasa kasih sayang diantara mereka. Ini adalah sesuatu yang sangat istimewa buat sang istri bahwa ternyata sang suamipun mampu diajak kerja sama di bagian dapur.

Seorang suami bercerita untuk kita tentang tema ini:

“Sambil tersipu, aku melihat pancaran kebahagiaan lahir di bola matanya. Seakan-akan kebahagiaan itu kembali tersegarkan. Meski sekian tahun lamanya dia menemaniku.  Alangkah mudahnya membuat lukisan senyuman di mulutnya. Tak perlu hadiah yang mewah, tak perlu materi yang wah. Namun, tak diduga, masakan yang baru kali ini aku coba untuk membuatnya ternyata memiliki arti di hatinya. Benar-benar berarti di dalam hatinya. Semoga romantisme ini menjadi penyegar dan memekarkan dua hati yang berbalut cinta di atas cinta suci nan syar’i.”

Lebih dari itu, seorang lelaki lain mengisahkan:

‎”curahkanlah kasih sayangmu padanya melalui karyamu yang tidak ia sangka sebelumnya, beriIah Ia kejutan kecil dengan hasil ekspresi kasih sayangmu dengan masakan ini. Selintas raut wajah ini merona dan membayangkan wajahnya, semangatpun kini terpacu, tanganku pun sedikit gemetar untuk memulai membuat masakan itu. Aku juga khawatir kalau dia pulang sementara masakan ini belum matang.

Aku mulai mengiris bawang ini lau dengan proses berikutnya, dalam proses mengolah kejutan ini, kucoba mendalami maksud dan detail langkah dari apa yang tertulis pada buku resep masakan Isteriku, apa yang harus aku lakukan pada tiap langkahnya.

Sesekali, dalam hati, aku berdoa semoga dia pulang atau datang di saat yang tepat, di saat karya ini siap tuk kami nikmati. Hati ini kembali berkata “Jika masakan ini sudah siap, apakah dia akan memujinya?”

Kutepis pikiran itu dan kuucapkan dengan suara bisikan, ”kuharap istriku diam di saat masakanku ini tidak enak.” Hal itu sudah cukup membuat hati ini senang dan tidak membuat hatiku yang lemah ini berputus asa untuk membuat karya berikutnya yang lebih istimewa untuknya, bahkan aku kan berjuang sampai ia memuji masakanku ini.

Disaat dia memujinya nanti, kan kukatakan padanya, “aku tidak hanya menyempurnakan rasa masakan ini, tapi juga selalu menyempurnakan kasih sayangku padamu wahai isteriku.”

>>Tak Takut Gagal

l

Tak perlu takut gagal dengan masakan yang dibuat karena usaha untuk menyenangkan sang ratu rumah akan membuat hatinya tersentuh. Begitulah wanita mudah tersentuh dengan hal-hal kecil namun besar baginya.

Seorang wanita bertutur:

“Mungkin ia, sang istri, tak harapkan keromantisan yang berlebih bak pujangga namun kejutan kecil yang dibuat dari hati tulus dari sang pangeran hati akan menambah kecintaannya. Bukan tentang bagusnya hasil masakan sang suami dan juga bukan tentang rasa yang lezat (walaupun itu penting) tapi tentang upaya keras dari sang suami yang ingin membuat dirinya bahagia lah yang membuat ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karena ia memiliki suami seprti itu.”

>>Siap-siap Dibohongi

وَلَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ الْحَرْبُ وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ

  وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا

“Saya tidak pernah mendengar diperbolehkannya dusta yang diucapkan oleh manusia kecuali dalam tiga hal: Dusta dalam peperangan, dusta untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, dan dusta suami terhadap istri atau istri terhadap suami.” (HR Muslim)

 

Dusta suami terhadap istri untuk kemaslahatan keduanya diperbolehkan, termasuk tentang masakan yang tak enak. Maka, kita pun harus bersiap-siap ketika sang istri berbohong atas masakan kita yang kurang garam misalnya. Upss, tak apa, agar canda saat makan bersama tercipta.

Maka, sebagai penutup, Bismillah, aku belajar memasak.

 

Kontributor: Pak Yugo, Hariyandi Saputra, Faiza Alhusna, Risma Dewi Zain An-Najm, Syahidah Mawaddah Az Zahra, Rahmah Rayhaana, Atieq Schetxzee, Etik’Aracellia Flos Javanica, Nurfitriyah Hidayah.

Editor & Penyusun Ulang: Abdullah Akiera Van As-samawiey (Fahri Aboe Syazwiena).

Sabtu malam, 15 Sya’ban 1432 H (16 July 2011).

Selesai disusun setelah kajian di masjid Nurul Huda Bandara Ngurah Rai Denpasar, Bali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s