Berdzikir Dengan Cara Yang Salah, Berakhir Dengan Fitnah


Berikut ini adalah sebuah kisah yang pernah terjadi berkaitan dengan masalah ini, bagaimana seseorang yang memuji dan mengagungkan Alloh serta menyucikanNya, akan tetapi menyimpang dalam hal cara berdzikir, tersebut, kemudian berakhir dengan memerangi orang-orang yang sholih bersama para pemberontak.

Dari Amr bin Yahya bin Amr bin Salamah al-Hamadzani, ia berkata, “Aku telah mendengar ayahku berkata:

“Kami pernah duduk di pintu ‘Abdullah bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu  sebelum sholat subuh. Apabila beliau keluar maka kami berjalan bersama ke masjid.

Lalu datanglah kepada kami Abu Musa al-Asy’ari rodhiyallohu ‘anhu, lalu beliau berkata, “Apakah Abu ‘Abdurrohman (yaitu ‘Abdulloh bin Mas’ud) telah keluar menuju kalian?”

Kami menjawab, “Belum sama sekali.”

Lalu beliau (Abu Musa al-Asy’ari) duduk bersama kami, sampai ‘Abdulloh bin Mas’ud keluar.

Ketika beliau keluar, maka kami bangkit bersama-sama.

Abu Musa berkata, “Wahai Abu ‘Abdurrohman, sesungguhnya aku melihat di masjid tadi sebuah perkara yang aku ingkari dan aku melihat – segala puji bagi Allah – melainkan berupa kebaikan.”

‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Apakah itu?”

Beliau menjawab, “Apabila engkau hidup, maka engkau akan melihatnya. Sesungguhnya aku melihat di masjid ada segolongan kaum yang berhalaqoh-halaqoh dengan duduk. Mereka menanti sholat, di setiap kelompok ada seorang lelaki, di tangan mereka terdapat batu kerikil. Lalu ia berkata, “Bertakbirlah seratus kali,” maka mereka bertakbir seratus kali, ia berkata, “Bertahlillah seratus kali,” maka merekapun bertahlil seratus kali. Lalu ia berkata, “Bertasbihlah seratus kali,” maka mereka bertasbih seratus kali.”

Lalu ‘Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Apa yang engkau katakan kepada mereka?”

Abu Musa berkata, “Aku tidak mengatakan apa-apa kepada mereka, sampai aku menanti pendapatmu.”

Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Tidakkah engkau memerintahkan mereka untuk menghitung keburukan-keburukan mereka, aku menjamin tidak akan hilang kebaikan-kebaikan mereka.”

Kemudian berlalu dan kamipun berlalu sampai menuju kepada kelompok-kelompok tersebut. Lalu beliau berdiri menghadap kepada mereka.

Ibnu Mas’ud berkata, “Apa yang kalian kerjakan ini?”

Mereka menjawab, “Wahai Abu Abdurrohman, ini adalah kerikil yang kami pergunakan untuk bertakbir, bertahlil, dan bertasbih.”

Beliau (Ibnu Mas’ud) berkata, “Hitunglah keburukan-keburukan kalian, aku jamin tidak akan hilang kebaikan-kebaikan kalian. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad. Alangkah cepatnya kebinasaan kalian. Para sahabat Nabi kalian masih banyak, dan ini pakaian beliau shollallohu ‘alaihi wasallam belum usang, dan barang-barangnya belum hancur. Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya kalian berada di atas sebuah millah (ajaran) yang lebih baik daripada millah Muhammad ataukah kalian itu adalah para pembuka pintu kesesatan.”

Mereka menjawab, “Demi Alloh, wahai Abu Abdurrohman, kami tidak menginginkan melainkan kebaikan.”

Beliau (Ibnu Mas’ud) berkata, “Berapa banyak orang-orang yang menghendaki kebaikan akan tetapi tidak  mendapatkannya. Sesungguhnya Rosululloh telah bersabda bahwa segolongan kaum membaca al-Qur’an tidak sampai kepada kerongkongan mereka, demi Alloh, barangkali kebanyakan dari mereka adalah dari kalangan kalian.” Kemudian beliau berpaling.

Amr bin Salamah berkata, “Lalu kemudian hari, kebanyakan orang-orang yang berada di kelompok tersebut memerangi kami pada hari Nahrowan bersama Khowarij (firqoh sesat yang mengatakan kafirnya pelaku dosa besar).””

(Dikeluarkan oleh Imam ad-Darimi, no. 210, dan Syaikh al-Albani berkata dalam ash-Shohihah, no.2005, bahwa isnadnya shohih, jilid 5, hal. 11-12)

  • Bid’ah Yang Kecil Pengantar Kepada Bid’ah Yang Besar

Perkara-perkara bid’ah yang tampak kecil dan remeh dapat menyeret dan menjerumuskan kepada bid’ah yang besar lagi menghancurkan.

Berkaitan dengan riwayat ini, Syaikh al-Albani berkata tatkala menjelaskan Fawa’idnya: “Di antaranya adalah bahwa bid’ah yang kecil, adalah merupakan pengantar menuju bid’ah yang besar. Tidakkah engkau melihat bahwa orang-orang yang berada di halaqoh itu kemudian menjadi bagian dari kaum Khowarij yang diperangi oleh kholifah yang rosyid , ‘Ali bin Abi Tholib. Apakah ada yang mengambil pelajaran?” (Ash-Shohihah, jilid 5’ hal. 14)

Dinukil dari Majalah Adz-Dzakhiirah Vol. 9 No. 04 Edisi 70 1432 H / 2011

One response to this post.

  1. Subhanallah , Semoga Bermanfaat

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s