Antara Perawi Hadits dan Perawi Gosip (Catatan Akhir Pekan – Part 11)


إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله

{يا أيّها الذين آمنوا اتقوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ولا تَمُوتُنَّ إلاَّ وأَنتُم مُسْلِمُونَ}

{يا أيّها الناسُ اتّقُوا ربَّكمُ الَّذي خَلَقَكُم مِن نَفْسٍ واحِدَةٍ وخَلَقَ مِنْها زَوْجَها وبَثَّ مِنْهُما رِجالاً كَثِيراً وَنِساءً واتَّقُوا اللهََ الَّذِي تَسَائَلُونَ بِهِ والأَرْحامَ إِنَّ اللهَ كان عَلَيْكُمْ رَقِيباً }

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمالَكمْ ويَغْفِرْ لَكمْ ذُنوبَكُمْ ومَن يُطِعِ اللهَ ورَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً}

أما بعد،فإن أصدق الحديث كلام الله وخير الهدي هدي محمد

 وشر الأمور محدثاتها وكلّ محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار

Segala puji bagi Allah yang menjadikan Islam sebagai agama yang mulia nan agung. Allah pula menjadikan orang-orang yang menyampaikan dan menebarkan wewangi Islam adalah orang-orang yang berjiwa agung lagi terpilih.

***

Saat kami pertama kali mengikuti pembahasan kitab Al-Jaami’u Lima’anii al-Baiquniyyah dengan bertatap muka langsung dengan guru kami, ternyata pembahasannya sudah mencapai sub pembahasan tentang hal-hal yang menodai ke’adaalahhan (keadilan)[1] seorang perawi hadits.

Seperti yang disebutkan dalam kitab yang ditulis syaikh Abu Nujaid ‘Usham Ibnu Ahmad tersebut, ada lima hal yang menodai ke’adaalahhan seorang perawi hadits sehingga tidak bisa diterima periwayatan hadits darinya. Dengan kata lain, kevalidan hadits darinya ditolak.

Hal pertama dan utama yang dipaparkan oleh penulis kitab tersebut adalah:

الكذب بقصد أو بغير قصد بثبوته عنه ولو مرة واحدة.

“Terbukti telah berdusta walaupun hanya sekali, baik disengaja atau tidak”[2]

Lantas bagaimana jika ada perawi berdusta lalu bertaubat dari kedustaannya?

Berikut pendapat pertama:

 

فذهب الاٍمام أحمد، وأبو بكر الحميدي – شيخ البخاري – وأبو بكر الصيرفي إلى ان توبته لا تؤثر ولا تقبل روايته أبدا، بل يتحتم جرحه أبدا.

“Imam Ahmad, Abu Bakr al-Humadiy (guru Imam Bukhari), dan Abu Bakr ash-Shairafiy cenderung memilih pendapat yang menyatakan bahwa taubatnya tidak berpengaruh dan riwayatnya tidak diterima selamanya, bahkan wajib untuk menJarhnya selamanya.”[3]

Dalam disiplin ilmu Musthalah Hadits, seperti yang disebutkan Syaikh Utsaimin rahimahullah, Aj-Jarh bermakna:

هو ذكر الراوي بما يوجب رد أو نفي صفة قبول مثل أن يقال: هو كذاب أو فاسق أو ضعيف أو ليس بثقته أو لايعتبر أو لايكتب حديثه

“Penyebutan perawi hadits dengan statement tertentu sehingga wajib menolak atau meniadakan sifat penerimaan (hadits darinya). Misalnya dengan ungkapan: Dia pendusta, dia fasik, dia lemah, dia tidak terpercaya, dia tidak diakui, tidak ditulis hadits darinya.”[4]

Dari pendapat pertama ini, jika seorang perawi berdusta sekali saja lalu bertaubat dari dustanya maka tetaplah tidak bisa diterima hadits darinya, selamanya, bahkan wajib baginya untuk diJarh selamanya.

Pendapat kedua:

 

وذهب آخرون ألى قبول روايته إذا صحت توبته و صححه النووي وقال أنه الجاري على قواعد الشرع وقاسة على رواية الكافر إذا

أسلم

“Ulama yang lain berpendapat bolehnya menerima riwayat dari perawi yang bertaubat dari kedustaannya jika ia taubat dengan sebenar-benar taubat. Hal ini dikuatkan Imam an-Nawawi. Beliau berkata[5] bahwa penerimaan riwayat ini berlaku sesuai dengan kaidah syar’i dan diqiyaskan dengan diterimanya riwayat orang-orang kafir setelah mereka masuk islam.”[6]

Syaikh Abu Nujaid Usamah Ibnu Ahmad merajihkan pendapat pertama dengan berkata:

والرجح الأول فإن الكذب على رسول الله ليس كالكذب على غيره لذاته ولما يكون من نسبة شيء الشرع ليس منه

“Dan pendapat yang rajih adalah pendapat pertama. Secara dzat, berdusta atas/tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbeda dengan berdusta atas/tentang selain beliau, dan hal itu merupakan nisbat sesuatu kepada syariat yang bukan bagian dari syariat.”[7]

Apakah dusta tersebut dalam hal-hal yang berhubungan dengan hadits saja? Atau juga termasuk dalam dusta ketika bermu’amalah dengan manusia secara umum (bersifat keduniaan)? 

 

Pertanyaan di atas tersirat dalam hal kedua yang menodai ke’adaalahhan seorang perawi, yaitu:

الاتهام بالكذب

 

“tertuduh berdusta.”[8]

Imam Al-hafidz Ibnu Hajar menyebutkan salah satu dari dua jenis perawi yang tertuduh sebagai pendusta dan tidak boleh diriwayatkan haditsnya, yaitu:

من عرف الكذب في كلامه العادي وإن لم ينظر منه وقوع ذلك في الحديث النبوي

“(Yaitu) siapa yang dikenal berdusta dalam obrolan sehari-hari walaupun kedustaannya tak terlihat dalam (hal yang berhubungan dengan) hadits nabawi.”[9]

Dari poin ini begitu jelas bahwa dusta yang dimaksud tidak hanya dalam hal periwayatan hadits namun dalam hal obrolan atau pembicaraan keseharian yang bersifat keduniaan.

>>Kado Untuk Rekan-rekan Sejawat

 

Subhanallah. Saya takjub mendengar kalimat di atas. Betapa tidak, sebuah syarat yang amat ketat. Ibarat saringan yang hanya akan menghasilkan para perawi hadits yang berkualitas. Mereka tak pernah berdusta walaupun hanya sekali dalam seumur hidup baik disengaja atau tidak, baik dalam keadaan bercanda atau tidak, baik yang berhubungan dengan hadits maupun percakapan sehari-hari.

Allah memilih mereka sebagai punggawa di jalan keimanan untuk berjuang segigih-gigihnya dalam mentransfortasikan estafet kebenaran. Mereka mencari satu hadits berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan ada diantara mereka yang menjual pakaiannya, menjual atap rumah hanya untuk memudahkan mereka dalam menelusuri hadits dan kevalidannya.

Wahai rekan-rekan sejawat para penuntut ilmu, kami tuangkan pena ini untuk memberikan penghormatan setinggi-tingginya untuk kalian. Begitu mulianya kalian dengan ilmu yang kalian raih dengan gigih, kalian mempelajari hadits-hadits rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam siang dan malam sebagai tanda cinta kalian kepada beliau.

Seorang penuntut ilmu yang bijak, apalagi penuntut ilmu yang mempelajari tema di atas akan tersadar bahwa kejujuran adalah kemuliaan. Kejujuran adalah kewajiban seorang muslim dan terlebih ditekankan untuk para penuntut ilmu karena merekalah teladan dalam bersikap di tengah-tengah masyarakat, merekalah pengemban risalah langit yang mendedikasikan diri untuk berjuang dalam menebar cahaya risalah langit itu. Mereka hidup dengan kejujuran dan mempelajari figur-figur yang penuh kejujuran. Mereka menerima dan menyampaikan kebenaran dengan kejujuran.

Mereka bukan dan bahkan berbeda dengan perawi gosip yang menerima kedustaan dari orang-orang yang dusta lalu menyampaikan kedustaan publik di depan publik dengan cara yang dusta.

>>Santapan Gosip di Layar Kaca

 

Gosip dan infotainment telah mengajarkan publik bagaimana cara berdusta. Lihatlah acara-acara murahan di layar kaca itu, seorang wanita seksi sedang melaksanakan tugasnya sebagai pembawa acara gosip. Dengan gaya bicara dan bahasa tubuhnya, ia mengajarkan kedustaan dengan cara yang dusta. Segala hal tentang artis dan tetek-bengeknya dibicarakan secara lengkap dan tuntas. Inilah yang menjadi santapan anak-anak remaja kaum muslimin di rumah mereka bahkan santapan wajib orang tuanya, terutama ibu-ibu. Bahkan tak sedikit penuntut ilmu yang menikmati acara-acara murahan seperti itu.

>>Penuntut Ilmu dan Perawi Gosip

 

Lalu di zaman ini, muncul pula para penuntut ilmu yang merangkap sebagai perawi gosip. Mereka bukan menggosipkan tentang artis, atau tentang tetek bengek dunia namun mereka menggosipkan tentang ustadz fulan. Mereka menggosipkan tentang dugaan-dugaan dan prasangka yang dibisiki syaitan tentang ustadz fulan, padahal ustadz fulan bermanhaj rabbani lagi berilmu.

Di Facebook, status-status dan artikel yang mereka publish umumnya bertemakan tahdzir, kedustaan ustad fulan, kekeliruan ustad fulan, yang sekali lagi tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, bahkan ustad fulan adalah guru-guru mereka tempat menimba ilmu syar’i.

Mereka, pada saat yang sama pula, dalam gosipnya itu, menggelari ustadz fulan dengan gelar-gelar tak beradab, tak bersantun dan dengan gelar lain yang tak layak keluar dari lisan para penuntut ilmu. Bahkan kami mendapati mereka menggelari sang ustadz dengan nama-nama binatang. Wal iyadzubillah.

 

Lisan-lisan mereka seolah-olah disetting spesial hanya untuk menyenandungkan gosip tentang ustad fulan. Mereka menJarh ustadz fulan dengan semena-mena seolah merekalah ulama pemegang bendera Jarh wa ta’dil padahal bahasa arab yang merupakan pintu ilmu pun belum dikuasai atau bahkan malas mereka pelajari.

>>Allah Sediakan Petaka di Neraka

 

Kenapa mereka tidak memahami sebuah ayat yang merekam perintah Allah untuk memerangi dan mengusir orang-orang munafik yang menyebarkan dusta di kota Madinah?

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلا قَلِيلا

“Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar”[10]

Kenapa mereka begitu menikmati bangkai saudaranya sesama muslim?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.

 

Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”[11] 

Kenapa mereka tidak takut dengan ancaman dalam hadits yang diriwayatkan sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dalam kitab Sunan Abi Dawud?

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:لَمَّا عُرِجَ بِي مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ، فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ، قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ، وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ “

“Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Ketika Allah me-mi’raj-kanku, kulewati suatu kaum berkuku tembaga yang mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Aku bertanya: “siapakah mereka, wahai Jibril?” Jibril menjawab: ‘mereka adalah orang-orang yang gemar menyantap daging manusia dan mencemarkan kehormatan mereka.’”[12]

 

Kenapa mereka tidak mengacuhkan ucapan ‘Ali bin Husain radhiyallahu ‘anhu yang berkata:

“Janganlah engkau menggibah, karena ghibah itu adalah makanan anjing manusia.”[13]

Sebagai penutup, ada sebuah pertanyaan dari kami dan kami pula yang akan menjawabnya.

Jika mereka, para penuntut ilmu yang memerawikan kedustaan itu bertaubat dari kedustaannya, hidup di zaman para perawi hadits, maka bisakah mereka digelari “perawi hadits”? Maka, jawaban saya:

لا تؤثر ولا تقبل روايته أبدا، بل يتحتم جرحه أبدا

. 

 

“(taubat mereka) tak berpengaruh, tidak diterima periwayatan hadits darinya selamanya, bahkan wajib men-Jarh-nya selamanya.”

 

***

 

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Penulis: Abdullah Akiera Van As-Samawiey

Akurator: Ustadzuna Zahid Zuhendra Lc. (Jurusan Hadits Univ. Islam Madinah)

Mataram, Sabtu, 02 Dzulhijjah 1432 H (29 Oktober 2011)

_______

Sumber:

  1. Al-Qur’an Digital dan Terjemahan.
  2. Kitab Al-Jaami’u Lima’anii al-Baiquniyyah yang ditulis syaikh Abu Nujaid ‘Usham Ibnu Ahmad. Cetakan I, 2010 M, penerbit Dar al-Atsariyyah, ‘Amman-Urdu.
  3. Sunan Abi Daud, Maktabah Syamilah.
  4. Kitab Musthalah Al-Hadits, Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin, Penerbit Dar Al-Aqidah, 2008 M, Al-Iskandariyah-Mesir.
  5. Kitab Asy-Syai’at, Dr Sulaiman bin ‘Abdillah, diterjemahkan oleh Wacana Ilmiah Press dengan judul Menyantap Bangkai Manusia, 2003 M, Solo-Indonesia.

__ _______

End Notes:

[1] Untuk lebih memahami definisi ‘Adaalah, bisa membuka kitab Musthalah Hadits karya syaikh Ibnu Utsaimin

[2] Lihat kitab Al-Jaami’u Lima’anii al-Baiquniyyah yang ditulis syaikh Abu Nujaid ‘Usham Ibnu Ahmad, hal14

[3] Ibid.

[4] Lihat kitab Musthalah Al-hadits, syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, hal 29.

[5] Ucapan Imam Nawawi termaktub dalam Syarah Muslim (1/70)

[6] Lihat kitab Al-Jaami’u Lima’anii al-Baiquniyyah yang ditulis syaikh Abu Nujaid ‘Usham Ibnu Ahmad, hal14

[7] Ibid

[8] Ibid, hal 15.

[9] Ibid.

[10] QS. Al-Ahzab: 60

[11] QS. Al-Hujurat: 12

[12] Sunan Abi Daud, Bab Ghibah Juz 4.

[13] Lihat kitab Asy-Syai’at, Dr Sulaiman bin ‘Abdillah, hal 25.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s