Mekarkan Bunga-Bunga Cinta di Taman Pernikahan


Oleh Sejuta Pesona Lombok

Maha Suci Allah yang telah menciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya. Dan Maha Suci Allah yang telah menciptakan semua makhluk-Nya dengan al haq dan penuh dengan berbagai hikmah dan kebaikan bagi seluruh umat.

 “Allah menciptakan langit dan bumi dengan al haq (penuh hikmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasan Allah bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al ‘Ankabut: 44)

Pada ayat lain Allah berfirman:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru, dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Fusshilat: 53)

Segala yang ada di dunia ini termasuk diri kita dan segala yang ada pada diri kita adalah bagian dari tanda-tanda ke-Agungan dan ke-Esaan Allah, dan bukti bahwa hanya Allah lah yang menciptakan, mengatur dan yang layak untuk disembah, dipuji, diagungkan dan ditaati.

Dan diantara tanda-tanda ke-Agungan Allah yang ada pada diri kita ialah diciptakan-Nya bagi manusia pasangan dari makhluk yang sama dengan mereka. Pria sebagai pasangan wanita dan wanita sebagai pasangan pria. Dan pada masing-masing dari mereka terdapat berbagai hal yang merupakan penyempurna bagi pasangannya. Dengan demikian terciptalah diantara mereka hubungan yang harmonis, kedamaian, saling mencintai, menyayangi, saling berkorban untuk pasangannya dan saling melindungi.

 “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu menyatu dan merasa tentram kepadanya. Dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum: 21).

Pelabuhan Cinta

Untuk merealisasikan rasa cinta dua insan yang saling mencintai maka dibutuhkanlah suatu ikatan suci yang dapat mempersatukan mereka. Ikatan suci tersebut adalah pernikahan.

Kenapa harus pernikahan??? Karena ikatan pernikahan merupakan realisasi dari cinta sejati antara dua sejoli tersebut.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :  

“Kami tidak pernah mendapatkan suatu ikatakan bagi orang yangt saling mencintai yang serupa dengan ikatan pernikahan.’” (Riwayat Abdurrazzaq, Ibnu Majah, At Thabrany, Al Hakim, Al Baihaqy dan dishahihkan oleh Al Albany).

 

Sunnah Para Rasul

Menikah adalah sunnah para Rasul Allah, oleh sebab itulah barang siapa yang melaksanakannya berarti ia telah mengikuti petunjuk Allah dan rasul-Nya. Dan barang siapa yang menentangnya, maka sungguh dia akan merugi.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:  

“Ada empat perkara  yang termasuk Sunnah para Rasul; rasa malu, memakai wangi-wangian, bersiwak dan menikah.”[HR. At-Tirmidzi dalam Kitab an-Nikaah, dan ia mengatakan; Hadist Hasan Shohih].

“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah) 

Menyempurnakan setengah agama

Pernikahan adalah kebaikan hakiki bagi agama si pria dan wanita, dimana di dalam pernikahan akan menyempurnakan setengah agama seseorang, sebagaimana dalam sabda Nabi yang mulia:

“Jika seorang hamba menikah, maka telah sempurnalah setengah agamanya, maka bertakwalah kepada Alloh pada sebagian lainnya.” (HR Al-Hakim).

 

Menjaga Pandangan, Kemaluan dan Kesucian

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Wahai para pemuda, barang siapa dari kamu telah mampu memikul tanggul jawab keluarga, hendaknya segera menikah, karena dengan pernikahan engkau lebih mampu untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluanmu. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, karena puasa itu dapat mengendalikan dorongan seksualnya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Dan pada hadits lain, Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: 

“Tiga golongan manusia yang layak untuk ditolong oleh Allah: Seorang pejuang (mujahid) di jalan Allah, seorang budak yang berjanji menebus dirinya dengan niat ia akan memenuhi tebusannya, dan orang yang menikah agar dapat menjaga dirinya.” (Riwayat At Tirmizy dan ia menyatakan: Hadits ini adalah hadits hasan lagi shahih, dan diriwayatkan juga oleh Ibnu Hibban, Al Hakim dan dihasankan oleh Al Albani).

Memperbanyak jumlah ummat islam

Suatu hal yang lazim terjadi dari pernikahan adalah dilahirkannya keturunan yang diatas punggung merekalah terletak tanggung jawab perjuangan, dakwah, pembelaan terhadap negara dan agama.

Sebagaimana dengan pernikahan yang kemudian melahirkan anak keturunan, kita berarti sedang berupaya mewujudkan keinginan Nabi shollallahu’alaihiwasallam, yaitu berbangga-bangga dihadapan para nabi lainnya kelak pada hari qiyamat.

  

“Nikahilah wanita-wanita yang bersifat penyayang dan subur (banyak anak), karena aku akan berbangga-bangga dengan (jumlah) kalian dihadapan umat-umat lainnya kelak pada hari qiyamat.” (Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban, At Thabrany dan dishahihkan oleh Al Albani

 

Membina rumah tangga yang islami dan menerapkan syari’at

Rumah tangga adalah suatu tatanan masyarakat kecil yang terdiri dari suami, istri dan anak, dan dari keluarga inilah penerapan syariat dimulai. Setiap anggota keluarga bahu membahu dalam menanamkan keimanan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, mentumbuh suburkan pengamalan syari’at dan memerangi kemungkaran.

Dengan demikian bila jumlah keluarga yang benar-benar telah menegakkan syari’at telah banyak, maka suatu saat dari komunitas tersebut akan terbentuklah suatu tatanan masyarakat yang islami. Dan dari tatanan masyarakat yang islami itulah akan muncul tokoh-tokoh masyarakat yang akan memperjuangkan kebenaran, baik melalui tulisan, tindakan, pendanaan, kekuatan fisik dan lain-lainnya. Demikianlah sunnatullah dalam menegakkan syari’at, yaitu dimulai dari penegakan syari’at pada diri sendiri, kemudian dilanjutkan penagakan syari’at dalam keluarga:

 “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakaranya adalah manusia dan batu; penjaganya mailakt-malaikat yang kasar yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim 6)

Diantara gambaran nyata penegakkan syari’at dalam kehidupan rumah tangga ialah apa yang disebutkan dalam hadits berikut:

 

“Dari sahabat Abu Hurairah rodiallahu’anhu ia menuturkan: Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: “Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun malam, lalu shalat dan membangunkan istrinya, bila ia enggan maka ia menciprati wajahnya dengan air, dan semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam kemudian shalat dan membangunkan suaminya, bila ia enggan, maka ia menciprati wajahnya dengan air.” (Riwayat Abu Dawud, An Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al Hakim dan dihasankan oleh Al Albany)

Bila penegakan syari’at pada diri sendiri dan keluarga telah dilaksanakan dengan baik, maka barulah upaya penegakan syari’at dalam lingkup masyarakat yang lebih luas, yang mencakup sanak saudara dan berlanjut kepada masyarakat sekitar dan seterusnya. Allah Ta’ala berfirman:

 

“Dan orang-oang yang beriman lelaki dan perempuan sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka memerintahkan yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah 71).

Berikut ini akan kami nukilkan beberapa perkataan para ulama Salaf  yang menganjurkan untuk menikah.

– Al-Bukhari meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, Ibnu Abbas bertanya kepadaku: “Apakah engkau sudah menikah?” Aku menjawab: “Belum.” Dia mengatakan: “ Menikahlah, karena sebaik-baik ummat ini adalah yang paling banyak istrinya.”

– Abdullah bin Mas’ud berkata: “Seandainya aku tahu bahwa ajalku tinggal 10 hari lagi, niscaya aku ingin pada malam-malam yang tersisa tersebut seorang istri tidak berpisah dariku.”[diriwayatkan Al-Bukhari dan Ahmad].

– Wahb bin Munabbih berkata: “Bujangan itu seperti pohon di tanah gersang yang diombang-ambingkan angin, demikian dan demikian.”[Diriwayatkan Abdurrazzaq].

Semoga tulisan kami ini bisa menjadi penyemangat, umumnya bagi ikhwafillah semua dan khususnya bagi penulis sendiri agar segera menyempurnakan setengah dari agamanya.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alahi Wasallam,keluarga dan para sahabatnya beserta orang yang mengikuti beliau dengan baik sampai hari kiamat

Wa akhiru da’wana ‘anil Hamdi lillahi Robbil Alamin.

 

 

Mataram kota Ibadah, Selasa 14 shofar 1432 H./

                                                         18  januari 2011

 

                           Penulis

               

                  Ibnu Musa as-Sasakiy

 

 

Editor: Fachrian Cansa Akiera As-Samawiy

______

Maraji’:

 

1. Isyaratun Nisaa’ minal alif ilal yaa’, Abu Hafsh Usamah bin Kamal Pustaka   Ibnu Katsir.

2. Pernikahan dalam syari’at islam, Ust. Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.

3. Menikah itu Indah , Ust. Abu Bakr M.Ali (Pembahasan ketika kajian di IKIP)

One response to this post.

  1. Posted by Bang Uddin on November 20, 2012 at 7:19 pm

    Menikah untuk menyempurnakan separuh agama, cukupkah?

    ”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.” (H.R. Baihaqi)

    Hadist di atas sangat masyhur di kalangan muslim. Tapi sayang, yang banyak dibicarakan sekedar menikah itu menyempurnakan separuh agamanya. Padahal kan nggak berhenti di situ. Coba kita amati lagi hadist tersebut. Di bagian belakang hadist tersebut ada kata-kata “…maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya”.

    Ini yang mungkin kurang dibahas. Bahwa menyempurnakan agama itu nggak cukup hanya separuh saja (dengan jalan menikah). Tapi mustinya ada ghirah, ada semangat untuk menyempurnakan agamanya secara utuh. Nggak lucu dong kita menyempurnakan tapi separuhnya doang. Ibarat kita bangun rumah tapi temboknya cuma setengah tingginya trus nggak ada atapnya. Mana bisa dipakai buat berteduh, ya nggak?

    Terus bagaimana tuh caranya? Nggak ada cara lain, ya dengan bertakwa kepada Allah supaya agamanya sempurna, utuh.

    Nah, di sinilah pernikahan itu akan menjadi barokah, akan menjadi manfaat ketika pernikahan itu dipakai sebagai sarana meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Jadi mustinya pernikahan itu membuat ketakwaan atau paling tidak semangat seseorang untuk memperbaiki ketakwaannya kepada Allah meningkat. Ibadahnya makin rajin, shodaqohnya makin bagus, yang jadi suami lebih rajin, lebih semangat nyari nafkah, dll.

    Jadi lucu kalau ada orang yang setelah nikah justru ibadahnya melorot. Musti ada yang dikoreksi dalam dirinya. Apa nih kira-kira yang salah?

    Lalu ada pertanyaan begini: kan nggak ada ukuran baku buat menilai ketakwaan seseorang naik apa nggak, gimana cara ngukurnya?

    Kita mah nggak perlu menilai orang lain ya. Cukup kita nilai diri kita sendiri. Setelah nikah, shalat kita gimana? Shadaqah kita gimana? Ngaji kita gimana? Intinya, seberapa baik kita menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya. Ada perbaikan, tetep segitu aja, atau malah merosot?

    Yuk, yang udah pada nikah kita introspeksi diri lagi, muhasabah lagi. Tapi nggak cuma yang udah nikah aja. Yang belum nikah juga kudu introspeksi, kudu muhasabah. Mempersiapkan diri dan mengingatkan diri sendiri supaya kalau nanti udah nikah tambah baik lagi.

    Jadi sekarang kita punya goal nih, punya target yang amat sangat penting buat kita raih.
    Targetnya: MENYEMPURNAKAN AGAMA SECARA UTUH, NGGAK CUMA SETENGAH.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s