Tak Ada Yang Sempurna…


           Teet! Teet…! Suara klakson mobil membuyarkan lamunanku. Sepeda sempat oleng karena terkejut. Traffic light menyala hijau, tapi aku masih bengong di tepi jalan menghabiskan sisa keterkejutanku. Terlintas bayangan ibu. Tanpa kusadari, air mataku menganak sungai. Satu dua orang menatapku heran. Aku tak peduli, demi Allah perih hati ini tak lagi bisa kututupi…

            Ibu orang yang selama ini kukagumi semangatnya, tiba-tiba berubah drastis, semenjak bapak berselingkuh dengan bu haji, tetangga depan rumah. Ibu yang semula pendiam, tak banyak bicara tiba-tiba suka memaki mengumpat dengan kata-kata kotor, hilang kesadaran, melepas jilbab dan gemar ke dukun. Naudzubillah…

            Sebetulnya bapak sudah minta maaf pada ibu. Tapi ibu tetap tak bisa menerimanya. Di mata ibu, bapak bukan laki-laki yang bisa diuntung dan dikasihani. Apalagi menurutnya, ibu tak lagi perlu berbakti seperti dulu lagi. Baginya, bapak bukan laki-laki yang tahu terima kasih dan bersyukur pada istri.

            Memang, ibulah yang selama ini menafkahi rumah tangga, ibu yang membanting tulang, memasak juga mengurus bapak. Sementara bapak praktis menganggur di rumah. Sambil mengurus ayam dan beberapa ekor kambing serta menyelesaikan beberapa pekerjaan ringan di rumah.

****

            Aku dan saudaraku harus banyak menahan malu dengan sikap ibu yang tak bisa terkontrol lagi. Tiap bertemu orang berjilbab, ia akan mengatainya dengan sumpah serapah, cacian, hinaan dan bergunung-gunung kata-kata kotor. Ibu memang kini benci pada orang-orang berjilbab. Ia menyamakannya dengan bu haji. Ibu kehilangan kepercayaan…

            Bila dinasihati ibu akan meradang, kian dan sangat meradang. Dua saudaraku telah angkat tangan. Bapak pun begitu. Namun bila ada kesempatan ia akan menasihati ibu. Kulihat bapak memang sangat menyesal, tapi nasi telah menjadi bubur. Pernah suatu kali, bapak sampai bersimpuh di kakiku sambil menangis….. Gara-gara kala itu, ibu menyentak kerudungku dengan keras hingga terhempas lepas di hadapan banyak orang. Leherku sampai tercekik dan luka. Malu, sakit dan sedih rasanya…

            “Awas ya, kalau pakai kerudung lagi! Buat apa pakai kerudung kalau suka nyakitin orang. Kelakuannya ngga’ bener! Pakai kerudung kayak setan!…” Makian dan sumpah serapah ibu tak terbendung. Naudzubillah. Bapak yang tahu perbuatan ibu, mati-matian menutup auratku yang terbuka. Melepas baju luarnya dan menutupkannya di kepalaku. Ya Allah, ampuni aku, ampuni ibu juga bapak…

            Tak hanya sampai di situ, ibu juga jadi rajin ke dukun, menempelkan rajah-rajah di setiap jendela dan pintu rumah. Melakukan ritual-ritual aneh, meski ia tetap rajin shalat. Miris tiap kali melihatnya. Ia juga memaksaku dan seisi rumah memakai kalung, untuk tolak bala. Saat tahu kami membuangnya, kami ditampar bertubi-tubi dan rambut kami ditarik-tariknya sampai rontok dan terasa sakit. Penderitaan kami tak cuma sampai di situ…

****

            Keadaan ibu kini mulai mengkhawatirkan. Ia mulai hilang kesadaran. Sering keluar rumah sambil komat-kamit dan ngomong tak karuan. Tapi bila sedang tak kambuh, ia seperti orang biasa dan beraktivitas layaknya orang normal. Wajahnya akan terlihat lelah dan penuh beban. Ibu mengalami depresi berat. Ditambah lagi dukun yang sering didatangi ibu menambah sakitnya. Terbukti, bila aku atau orang rumah yang lain mengaji ia akan marah, merasa tidak suka, terlihat gelisah dan mengamuk minta tilawah dihentikan. Ataupun tiba-tiba ia berjalan di tengah malam seolah bicara dengan seseorang kemudian menangis lantas pingsan.

            Pernah aku meminta bantuan seorang ummahat untuk meruqyah ibu. Tapi ibu malah marah besar, ia berbuat membahayakan orang-orang dan memaki sang teman. Tak kurang kami mengusahakan kesembuhan ibu secara syar’i atau medis psikiater. Alhamdulillah, usaha kami tak sia-sia. Meski hasilnya lambat, tapi sudah mulai terlihat. Secara fisik ibu memang terlihat jauh lebih kurus, namun secara psikis ibu jauh lebih baik dari sebelumnya.

            Ibu mulai terlihat lebih tenang dan tidak segelisah dulu. Ibu juga mulai terbiasa mendengar tilawah Al Quran dari CD/kaset. Meski belum membaca lagi seperti dulu. Bila kuamati, tiap ibu mencoba tilawah sendiri, mulutnya mendadak kelu dan kaku. Mudah-mudahan ibu sabar dan terus berusaha serta Allah berkenan memudahkan dan menyembuhkannya. Sungguh, 4 tahun melihat penderitaan ibu dalam maksiat adalah hal yang menyakitkan. Aku pernah ketakutan akan kehilangan ibu selamanya, tenggelam dalam dunianya. Atau ia akan meninggalkan dunia dalam keadaan yang buruk…

            Walhamdulillah, Allah masih menyayanginya. Allah mendengar doaku. Mudah-mudahan ibu akan taubat nasuha setelah sembuhnya… Ibu juga mulai bisa menerima bapak apa adanya. Meski sesekali ia kadang menangis bila melihat bapak. Bila demikian aku dan saudaraku akan mengingatkannya.

            “Istighfar ya bu. Manusia tak ada yang sempurna. Manusia itu tempat khilaf dan salah. Tapi selama kita mau bertaubat, insya Allah, Allah akan mengampuni kita…” Biasanya ibu akan menangis di pelukanku atau bapak. Ibu juga mengalami lumpuh layu mendadak. Tapi kini sudah mulai bisa digerakkan dengan bantuan penyangga. Semoga semua ada hikmahnya untuk kami sekeluarga, khususnya bapak dan ibu. Harapanku di sisa usia mereka, mereka selalu rukun dan istiqamah meniti jalan illahi. Sementara bu haji, keluarganya berantakan, dan ia, entah di mana…(***)

Kisah nyata kiriman mbak I.

(Majalah Sakinah Vol 10, No 4 Rajab – Sya’ban 1432)

2 responses to this post.

  1. Assalaamu’alaikum..
    Afwan ya dek, lagi sempat isi komentar.. Jazaakallaahu khairan wis mampir ke web-ku.. Mampir lagi ya, saiki wis ana radio online e…

    Kangen karo kalimenur, kapan nang musholla bareng maneh? Ketemu nang internet ya, YM ku: abusaid.nizaar@yahoo.co.id

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s