Persaksian Akidah asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab


Pembaca yang budiman, kali ini kami sampaikan terjemahan dari sebuah tulisan berjudul Risalatu asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab ila Ahlil Qashim lamma Sa`alu-hu ‘an ‘Aqidatih. Judul tersebut jika diartikan secara langsung berarti “Surat asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab kepada penduduk al-Qashim ketika mereka bertanya tentang akidah beliau.”

Secara kenyataan, risalah ini memang sebuah jawaban dari asy-Syaikh kepada penduduk al-Qashim, sekaligus sebagai persaksian akidah beliau rahimahullaah. Meskipun ringkas, setidaknya tulisan ini telah mewakili sebagai sebuah bantahan atas sederet tuduhan dusta dan kebohongan yang disandarkan kepada beliau.

Kami tidak ingin berpanjang-lebar untuk memberi pembukaan, selanjutnya kami persilakan kepada pembaca untuk menyimak terjemah dari risalah tersebut di atas.

Terjemahan:

Bismillaahir rahmanir rahim

Aku mempersaksikan kepada Allah, dan malaikat-malaikat yang menghadiriku. Dan aku mempersaksikan kepada kalian bahwa sesungguhnya aku berakidah dengan akidah al-Firqatun Najiyah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Di dalamnya terdapat keimanan kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, kebangkitan setelah kematian, keimanan kepada takdir baik dan yang buruk. Dan termasuk dalam keimanan kepada Allah, ialah beriman dengan sifat yang Allah menyifati diri-Nya dengan sifat tersebut melalui lisan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tanpa melakukan perubahan maupun penolakan. Bahkan aku berkeyakinan bahwa Allah subhaanahu wa ta’aalaa:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” Asy-Syura: 11

Sehingga aku tidak akan menafikan segala yang telah Allah subhaanahu wa ta’aalaa sifatkan untuk diri-Nya, aku pun tidak merubah-rubah kalimat-kalimat dari tempat-tempatnya. Aku juga tidak menyimpangkan satu pun dari nama-nama dan ayat-ayat-Nya, aku tidak pula menanyakan “bagaimana” tentang sifat-sifat itu. Aku tidak akan memisalkan sifat-sifat Allah subhaanahu wa ta’aalaa dengan sifat makhluk-Nya, karena Allah tidak ada yang sebanding dan tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada tandingan bagi-Nya. Allah subhaanahu wa ta’aalaa tidak dikiaskan dengan dengan makhluk-Nya, sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aalaa lebih tahu tentang diri-Nya dan tentang selain-Nya. Allah adalah yang paling benar dan paling baik ucapan-Nya, sehingga Allah menyucikan diri-Nya dari segala yang disifatkan oleh orang-orang yang menyelisihi-Nya, termasuk orang ahlut takyif (orang yang bertanya tentang bagaimana hakikat sifat Allah subhaanahu wa ta’aalaa) dan ahlut tamtsil (orang yang memisalkan sifat Allah subhaanahu wa ta’aalaa dengan sifat makhluk-Nya). Allah juga menyucikan diri-Nya dari orang-orang yang meniadakan sifat-sifat bagi Allah, termasuk di dalamnya ahlut tahrif (orang yang merubah-rubah makna sifat dari makna yang sebenarnya) dan ahlut ta’thil (orang yang menolak adanya sifat-sifat bagi Allah), Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمّا يَصِفُوْنَ . وَسَلاَمٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.” Ash-Shaffat: 180-182

Adapun al-Firqatun Najiyah, mereka dalam hal perbuatan-perbuatan Allah subhaanahu wa ta’aalaa telah bersikap tengah antara Qadariyah (kelompok yang mengingkari takdir) dan Jabriyah (kelompok yang menetapkan takdir tetapi meniadakan kehendak bagi manusia), dalam hal ancaman Allah mereka bersikap tengah antara Murji`ah (kelompok yang menyatakan bahwa perbuatan maksiat seorang hamba tidak akan berakibat siksaan atasnya) dan Wa’idiyyah (kelompok yang berlebihan dalam menetapkan ancaman Allah). Al-Firqatun Najiyah dalam hal keimanan dan agama mereka bersikap tengah antara Haruriyah dan Mu’tazilah, juga pertengahan antara Murji`ah dan Jahmiyah. Adapun tentang para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, al-Firqatun Najiyah bersikap tengah antara Rafidhah dan Khawarij.

Aku berkeyakinan bahwa Al-Qur`an adalah Kalamullah yang diturunkan dari-Nya dan bukan makhluk. Al-Qur`an itu bermula dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya pula. Aku berkeyakinan bahwa Allah subhaanahu wa ta’aalaa benar-benar berbicara dengan Al-Qur`an itu, dan Allah menurunkan Al-Qur`an kepada Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, hamba, utusan, dan kepercayaan-Nya melalui wahyu dan perantara antara Dia dan hamba-hamba-Nya. Aku beriman bahwa Allah subhaanahu wa ta’aalaa mengerjakan segala yang Allah kehendaki, tidak ada satu pun yang terjadi melainkan atas kehendak-Nya, dan tidak ada satu pun yang keluar dari keinginan-Nya. Tidak ada satu pun di alam ini yang keluar dari takdir-Nya, dan tidak ada satu pun yang muncul melainkan termasuk dalam pengaturan-Nya. Tidak ada tempat menghindar bagi siapapun untuk terlepas dari takdir yang ditentukan, dan tidak ada seorang pun yang bisa melebihi apa yang telah dituliskan baginya di dalam lembaran yang tertulis.

Aku meyakini wajibnya beriman kepada segala hal yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kabarkan tentang perkara yang akan terjadi setelah kematian. Sehingga aku beriman kepada ujian dan nikmat kubur, aku beriman kepada peristiwa dikembalikannya ruh-ruh ke dalam jasad-jasadnya, yang kemudian manusia semuanya berdiri menuju Rabbul ‘Alamin dalam keadaan mereka itu tidak beralas kaki, telanjang dan tidak membawa bekal. Sementara matahari menjadi dekat dengan mereka. Kemudian timbangan-timbangan ditegakkan, sehingga amalan-amalan para hamba ditimbang dengannya. Siapa saja yang timbangannya berat maka mereka itulah orang-orang yang beruntung, dan siapa saja yang timbangannya ringan maka mereka itulah yang merugikan diri-diri mereka, dan mereka kekal di dalam neraka selamanya. Lalu buku-buku catatan amalan dibagikan, maka sebagian mereka mengambil dengan tangan kanan dan sebagian mereka mengambil dengan tangan kirinya.

Aku beriman kepada telaga Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam di tempat berkumpulnya manusia pada hari kiamat nanti.  Air telaga itu lebih putih daripada susu, lebih manis daripada madu. Bejana-bejananya sebanyak bintang-bintang di langit. Barangsiapa meminum satu teguk saja dari telaga itu niscaya setelah itu dia tidak akan merasa haus selamanya. Aku pun beriman bahwa ash-Shirath (jembatan) itu dibentangkan di atas tepi Jahannam, manusia akan melintasinya menurut kadar amalan-amalan mereka.

Aku beriman kepada syafaat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan aku beriman bahwa beliau adalah orang pertama yang menyampaikan syafaat dan yang pertama diberi syafaat. Tidak ada seorang pun yang mengingkari syafaat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kecuali para penyeru bid’ah dan kesesatan. Akan tetapi syafaat itu tidak akan terjadi kecuali setelah izin dan ridha Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَلاَ يَشْفَعُوْنَ إلاَّ لِمَنْ ارْتَضَى

“Mereka tidak memberi syafaat kecuali kepada orang-orang yang Allah meridhainya.” Al-Anbiya`: 28

Dan Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak ada seorang pun yang memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya.” Al-Baqarah: 255

Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِيْ السَّمَوَاتِ لا تُغْنِيْ شَفَاعَتُهُمْ شَيْئاً إلاَّ مِنْ بَعْدِ أنْ يَأذَنَ اللهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

“Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka tidak akan bermanfaat kecuali setelah Allah mengijinkan bagi orang yang Allah kehendaki dan Allah ridhai.” An-Najm: 26

Allah subhaanahu wa ta’aalaa tidak akan meridhai selain kepada orang yang bertauhid. Adapun orang-orang musyrik, maka mereka tidak mendapatkan sedikit pun bagian dari syafaat tersebut. Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’aalaa firmankan:

فَمَا تَنْفَعُهُمُ شَفَاعَةُ الشَّافِعِيْنَ

“Tidak akan bermanfaat bagi mereka syafaat orang-orang yang memberi syafaat.” Al-Muddatstsir: 48

Aku beriman bahwa surga dan neraka adalah dua makhluk yang keduanya telah tercipta. Surga dan neraka telah ada pada hari ini dan keduanya tidak akan sirna. Aku beriman bahwa kaum mukminun akan melihat Rabb mereka dengan mata kepala mereka pada hari kiamat nanti. Mereka akan melihat-Nya sebagaimana mereka melihat bulan purnama, yakni mereka tidak terhalangi (tidak berdesakan) ketika melihatnya.

Aku beriman bahwa Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi dan Rasul. Tidak akan sah iman seorang hamba sampai dia beriman kepada risalah beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bersaksi dengan kenabian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Aku beriman bahwa umat yang paling utama ialah Abu Bakr ash-Shiddiq, kemudian ‘Umar al-Faruq, kemudian ‘Utsman Dzun Nurain kemudian ‘Ali al-Murtadha, kemudian sahabat yang lain yang termasuk dalam 10 orang (yang telah dipersaksikan bahwa mereka akan masuk surga), kemudian para sahabat yang ikut perang Badr, kemudian para sahabat yang ikut dalam baiat di bawah pohon dalam Bai’atur Ridhwan, kemudian seluruh sahabat radhiyallahu ‘anhum. Aku mencintai para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan aku menyebut kebaikan-kebaikan mereka, aku mengakui keridhaan Allah subhaanahu wa ta’aalaa atas mereka, dan aku memintakan ampun untuk mereka. Aku menahan diri dari menyebutkan kejelekan mereka, aku tidak berbicara tentang apa yang mereka perselisihkan di antara mereka. Aku meyakini keutamaan mereka, sebagai bentuk pengamalan firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa:

وَالَّذِيْنَ جَاؤُا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوُلُوْنَ رَبّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبّنَا إنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka yang berkata,”Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan, dan jangan engkau jadikan di dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” Al-Hasyr: 10

Dan aku menyatakan keridhaan Allah subhaanahu wa ta’aalaa atas Ummahatul Mukminin (para ibunda kaum mukminin), yang mereka itu disucikan dari segala bentuk kejelekan.

Dan aku menetapkan karamah para wali Allah subhaanahu wa ta’aalaa serta mukasyafah (firasat) mereka. Akan tetapi mereka tidak memiliki hak sedikit pun dari hak-hak Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Tidak boleh diminta dari mereka segala perkara yang tidak dimampui selain oleh Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Dan aku tidak mempersaksikan atas seorang pun dari kaum muslimin dengan surga maupun neraka kecuali orang-orang yang telah dipersaksikan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi aku berharap bagi orang yang berbuat baik (untuk mendapat surga) dan aku menakutkan (terjatuh ke dalam neraka) atas diri orang yang berbuat buruk. Dan aku tidak mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin dengan suatu dosa, dan aku tidak mengeluarkannya dari lingkaran Islam. Aku pun berpandangan bahwa jihad akan terus tegak bersama setiap pemimpin, yang baik maupun yang jahat. Shalat jamaah di belakang mereka pun tetap diperbolehkan. Dan jihad tetap berlangsung semenjak Allah subhaanahu wa ta’aalaa mengutus Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam sampai golongan terakhir dari umat ini berperang melawan Dajjal. Kejahatan seorang yang jahat dan keadilan seorang yang adil tidak bisa membatalkan (meniadakan) jihad itu. Aku juga berpandangan bahwa wajib untuk mendengar dan taat kepada para pemimpin kaum muslimin, yang baik maupun yang jahat, selama mereka tidak memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Siapapun yang menduduki kekhilafahan dan manusia bersepakat atas kepemimpinannya, mereka ridha atasnya sedangkan dia menang atas mereka dengan pedangnya hingga menjadi khalifah maka wajib menaatinya. Memberontak kepadanya adalah haram. Aku pun memandang bahwa hajr (meninggalkan) penyeru bid’ah dan memisahkan diri darinya berlaku sampai mereka bertaubat. Aku menghukumi mereka berdasar apa yang tampak dari mereka, dan aku menyerahkan rahasia-rahasia mereka kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Dan aku meyakini bahwa segala perkara yang diada-adakan dalam agama ini adalah bid’ah.

Aku meyakini bahwa iman itu adalah ucapan dengan lisan, perbuatan dengan anggota badan, keyakinan dengan hati. Aku meyakini bahwa iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Aku juga berkeyakinan bahwa iman itu memiliki 70 sekian cabang, yang paling tinggi adalah syahadat Laa ilaha illallah, yang paling bawah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Aku memandang wajib untuk memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, sesuai dengan yang diwajibkan oleh syariat Muhammadiyyah yang suci.

Inilah akidah yang ringkas, aku menulisnya dalam keadaanku yang sibuk. Dengan tujuan agar kalian mengetahui apa yang ada di sisiku, dan Allah saksi atas apa yang kita ucapkan.

Kemudian setelah itu, tidak tersamarkan bagi kalian bahwa telah sampai kepadaku berita bahwa surat dari Sulaiman bin Sahim telah sampai kepada kalian. Dan sebagian orang yang menisbahkan dirinya kepada ilmu di antara kalian telah menerima dan membenarkannya. Dan sungguh, Allah subhaanahu wa ta’aalaa Mengetahui bahwa laki-laki itu (Sulaiman) telah berdusta atas namaku dengan banyak hal yang aku tidak pernah mengatakannya, dan sebagian besar dari perkara-perkara itu tidak terlintas di pikiranku. Di antara perkara yang ia tuduhkan itu ialah ucapannya bahwa:

–          Aku membatilkan (menolak) kitab-kitab empat madzhab.

–          Aku mengatakan bahwa manusia sejak 600 tahun mereka tidak berada di atas sesuatu pun, dan ucapannya bahwa aku mengaku berhak untuk berijtihad.

–          Aku keluar dari taklid dan aku berkata bahwa perselisihan ulama adalah adzab.

–          Aku mengkafirkan orang yang bertawassul dengan orang-orang shalih.

–          Aku mengkafirkan al-Bushiri disebabkan ucapannya, “Ya akramal khalqi.”

–          Aku berucap bahwa sekiranya aku bisa merobohkan kubah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam niscaya aku akan merobohkannya. Dan sekiranya aku berkuasa atas Ka’bah niscaya aku jadikan saluran airnya dari kayu.

–          Aku mengharamkan untuk menziarahi kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan aku mengingkari ziarah kubur kedua orang tua dan yang selain keduanya.

–          Aku mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Allah subhaanahu wa ta’aalaa.

–          Aku mengkafirkan Ibnul Faridh dan Ibnu ‘Arabi.

–          Aku membakar buku Dala`ilul Khairat dan Raudhur Riyahain dan aku menamainya Raudhusy Syayathin.

Jawabanku terhadap perkara-perkara ini dengan aku katakan, “Subhaanaka hadza buhtanun ‘azhim (Maha Suci Engkau ya Allah, ini adalah kedustaan yang besar).” Sebelum ini, ada orang yang membuat kedustaan bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam mencela ‘Isa bin Maryam dan mencela orang-orang shalih. Maka sungguh, hati-hati mereka memiliki keserupaan dengan kebohongan yang dibuat-buat dan perkataan dusta. Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِآيَاتِ اللهِ وَأُلَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” An-Nahl: 105

Mereka telah berdusta terhadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya para malaikat, ‘Isa dan ‘Uzair berada di dalam neraka.” Kemudian Allah subhaanahu wa ta’aalaa menurunkan tentang hal ini:

إِنَّ الَّذِيْنَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِّنَّا الْحُسْنَى أُوْلَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُوْنَ

“Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.” Al-Anbiya`: 101

Adapun permasalahan-permasalahan yang lain, yakni bahwa aku berkata:

–          Tidak sempurna keislaman seseorang sampai dia mengetahui makna Laa ilaha illallah dan aku menjelaskan maknanya kepada orang yang datang kepadaku.

–          Aku mengkafirkan orang yang bernadzar jika ia berkeinginan dengan nadzar itu untuk mendekatkan diri kepada selain Allah dan melakukan nadzar semata-mata bertujuan untuk itu.

–          Bahwa menyembelih untuk selain Allah adalah kekufuran, dan sembelihannya haram untuk dimakan.

Maka permasalahan-permasalahan ini benar dariku dan aku lah yang mengatakannya. Aku memiliki dalil-dalil dari Kalamullah dan ucapan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam, juga dari ucapan para ulama yang diikuti semisal imam yang empat. Jika Allah memudahkan, aku akan menjelaskan jawabannya di dalam risalah tersendiri Insya Allah ta’ala.

Kemudian ketahui dan renungkanlah firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوْا أَنْ تُصِيْبُوْا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِيْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” Al-Hujurat: 6

(http://sahab.web.id/)

2 responses to this post.

  1. […] Selengkapnya Makalah ARAB      Makalah TERJEMAH […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s