Kisah Masjid Putih


Aku selalu merenung dalam perjalanan menuju Jeddah untuk menjalankan tugas-tugasku. Kira-kira di tengah perjalanan, aku mengarahkan pandangan ke arah masjid putih yang kosong yang terletak diantara pegunungan yang berdiri di tengah-tengah gurun. Sepertiga bagian dari masjid tersebut telah dirobohkan. Aku terus bertanya dalam hati bagaimana kisah masjid yang jauh dari manusia ini?! Mengapa sepertiga bagiannya dirobohkan? Setiap kali aku ingin bertanya tentang masjid ini, aku lupa. Hingga berlalulah beberapa tahun, aku lupa dan aku tidak tahu mengapa?!

Berlalulah beberapa hari, dan disuatu malam dalam perjalananku ke Jeddah, aku menikmati sebuah kaset yang dihadiahkan kepadaku oleh seseorang. Kaset itu berjudul “Air Mata Di Sana Sini”, yang disampaikan oleh Syaikh Ibrahim al-Marwani. Tiba-tiba dari kaset itu aku mendengar kisah perihal masjid ini. Ini adalah kisah yang mungkin mendekati khayalan untuk ukuran saat ini. Aku akan meringkasnya untuk anda kisah ini sesuai dengan ucapan Syaikh.

Syaikh menceritakan, “Kami pernah di Jeddah di rumah ibu (semoga Allah menjaganya) pada pagi hari jum’at. Ketika waktu dhuha aku bertanya kepada paman dari pihak ibuku, “Bagaimana pendapatmu jika kita pergi ke Mekah untuk shalat jum’at lalu segera kem-bali?” Paman menjawab: “Ide yang bagus!” Kemudian kami berangkat. Ketika berada di jalan tol sebelum memasuki Mekah yang jaraknya kira-kira 45 km, pandanganku tertuju ke salah satu Rumah Allah yang berwarna putih. Sebuah masjid! Pandanganku tertuju ke-pada warnanya yang putih menawan, menara masjid yang indah dan tinggi. Masjid tersebut kira-kira dibangun diatas kaki bukit yang paling bawah atau diatas anak bukit. Sehingga hal ini sedikit menyulitkan untuk sampai ke masjid tersebut, khususnya orang-orang yang sudah tua. Dan jika benar, bahwa pembangunan masjid dengan bentuk seperti ini adalah agar bisa dilihat oleh manusia dari jarak jauh. Masjid tersebut saat ini telah dirobohkan, atau dengan istilah yang lebih halus sepertiga bagiannya telah dirobohkan. Bagian belakang masjid tersebut telah dirobohkan semua. Tidak ada pintu maupun jendela. Dan tidak banyak masjid yang dikosongkan yang tetap berdiri diatas tanah.

Aku tidak tahu mengapa pemandangan masjid tersebut terus terlitas di dalam hatiku. Gambarnya tidak pernah hilang dari dalam benakku. Mungkin karena kekokohannya menghadapi tantangan selama bertahun-tahun. Kami tiba di Mekah, Alhamdulillah! Kami memarkir mobil diluar Mekah karena begitu ramainya Mekah saat itu. Lalu kami shalat dan mendengarkan khutbah. Setelah shalat kami menaiki mobil untuk kembali. Untuk kedua kalinya, aku tidak tahu kenapa bayangan masjid tersebut ada di benakku. Masjid putih yang telah ditinggalkan!! Kemudian aku duduk dan berbicara kepada diri sendiri. Beberapa saat kemudian masjid tersebut nampak di penglihatan kami. Aku duduk dan melihat ke kanan untuk mencari masjid tersebut. Aku berjalan disamping dan memperhatikannya. Akan tetapi, pandanganku mendapati sesuatu yang aneh!! Sebuah mobil berwarna biru berhenti disamping masjid tersebut!! Aku berpikir di tengah keherananku, mengapa mobil ini berhenti disini?! Apa yang dilakukannya sehingga berada di masjid ini, padahal ada masjid-masjid lain yang didirikan di dalamnya shalat berjamaah, yang memungkinkan orang tersebut pergi ke masjid lain?!

Aku segera mengambil keputusan. Aku mengurangi kecepatan dan keluar dari jalan menuju ke arah kanan, menuju ke arah masjid. Aku berkata dalam hati, “Semoga Allah menakdirkan suatu urusan yang mesti dilaksanakan.” Aku masih melamun, ketika tiba-tiba paman bertanya: “Apa yang kamu kerjakan?! Kenapa keluar dari jalan ini?! Mudah-mudahan ada kebaikan.” Aku berkata, “Aku ingin melihat apa yang dikerjakan oleh pemilik mobil itu?!” Paman bertanya lagi: “Apa urusan kita dengannya?!” Dan ketika ia melihatku membisu, maka ia pun diam. Kemudian aku arahkan ke kanan dan memasuki sebuah kebun tua, terus langsung menuju masjid dan kendaraan kami parkir di bawah. Kami naik hingga tiba di masjid dan tiba-tiba kami mendengar suara yang tinggi, sedang membaca Al-Qur’an dengan menangis. Ia membaca surah Ar-Rahman, pada ayat: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” Aku berpikir untuk menunggunya di luar masjid dan mendengarkan bacaannya. Akan tetapi rasa penasaranku tidak bisa ditahan untuk melihat apa yang terjadi di dalam masjid yang dirobohkan sepertiganya ini hingga tidak seekor burungpun yang melintas di atasnya. Kami me-masuki masjid, mendapati seorang pemuda meletakkan sebuah sajadah untuk shalat di atas tanah. Di tangannya ada sebuah mushaf kecil yang ia baca. Tidak ada seorangpun disana selain dia. Aku tegaskan sekali lagi tidak ada seorangpun disana selain dia! Aku berkata, “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!” Ia lang-sung melihat kami, seolah-olah kami mengagetkannya. Ia merasa asing dengan kehadiran kami. Kemudian ia membalas, “Waalaikum-salam Warahmatullahi Wabarakatuh”.

Aku bertanya kepadanya, “Apakah anda sudah shalat Ashar?” Ia menjawab, “Belum!” Aku bertanya, “Sudahkah anda adzan?” Ia menjawab, “Belum, jam berapakah sekarang?” Aku men-jawab, “Sudah masuk waktunya!” Maka aku adzan sendiri. Ketika aku mengumandangkan iqamah, aku mendapati pemuda tersebut memandang ke arah qiblat dan tersenyum, suatu senyuman yang aneh!! Kepada siapakah ia tersenyum dan untuk apa tersenyum!! Kemudian aku menjadi imam. Aku mendengar pemuda di bela-kangku tersebut mengucapkan sesuatu yang menerbangkan semua akalku!! Pemuda tersebut berkata, “Terimalah berita gembira de-ngan adanya shalat berjamaah!” Paman memandangku keheranan, sementara aku pura-pura bodoh. Kemudian aku bertakbir untuk shalat. Namun akalku disibukkan untuk merenungkan perkataannya (Terimalah berita gembira dengan adanya shalat berjamaah!). Kepa-da siapakah ia berkata padahal tidak ada orang selain kami? Aku tegaskan sekali lagi bahwa masjid dalam keadaan kosong, mungkin ada seseorang masuk tanpa aku ketahui. Apakah ia gila? Tapi aku tidak yakin. Kalau begitu ia berkata kepada siapa?

Pemuda itu shalat dibelakangku dan akalku disibukkan memikirkannya. Setelah shalat, aku arahkan wajahku kepadanya. Se-mentara paman memberi isyarat untuk keluar. Maka aku katakan kepadanya, “Silahkan paman keluar dulu dan tunggu aku di dalam mobil!” Paman menatapku, sepertinya ia khawatir sekali dengan diriku atas pemuda ini. Aku memberikan isyarat kepada paman untuk duduk sebentar. Aku melihat pemuda itu yang masih sibuk dengan bertasbih. Kemudian aku bertanya, “Bagaimana keadaan anda?” Ia menjawab, “Baik, Alhamdulillah!” Aku berkata, “Aku ingin mengenal anda!” Ia menjawab, “Aku adalah fulan bin fulan”. Aku berkata, “Kesempatan yang berharga wahai saudaraku, semoga Allah memaafkan anda. Anda telah menyibukkan aku dari shalatku!” Ia berkata, “Mengapa?” Aku jawab, “Aku mendirikan shalat dan aku mendengar anda mengatakan ‘Terimalah berita gembira dengan adanya shalat berjamaah!” Pemuda tersebut tertawa dan mengatakan sesuatu yang aku tidak mengetahuinya. Aku berkata, “Kepada siapakah anda berkata?” Ia tersenyum. Ia melihat ke lantai dan diam beberapa saat. Seolah-olah ia berpikir, apakah ia akan menjawabnya ataukah tidak?

Ia berkata, “Kalau sekiranya aku katakan kepada anda, niscaya anda akan mengatakan bahwa aku gila.” Pemuda itu melihatku. Kemudian ia berkata ibarat granat yang meledak. Perkata-annya menjadikanku berpikir, apakah orang ini gila!! Ia berkata, “Aku berbicara kepada masjid!” Aku kaget, “Apa?” Ia mengulangi, “Aku berkata kepada masjid!” Aku berkata kepadanya hingga memotong pembicaraan, “Apakah masjid membalas salam anda?” Ia tersenyum dan berkata, “Jangan-jangan anda berpikir bahwa batu tidak membalas salam?” Maka akupun tersenyum dan berkata, “Perkataan anda benar! Selama ia tidak membalas, lantas mengapa anda berbicara kepadanya?” Ia berkata, “Apakah anda mengingkari bahwa ada diantara batu yang jatuh karena takut kepada Allah?” Aku berkata, “Subhanallah! Bagaimana aku mengingkari hal ini karena hal ini ada di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: ‘Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.’ (QS. Al-Israa’: 44)” Aku berkata, “Akan tetapi aku tidak memahami anda!” Maka ia meli-hat ke lantai beberapa saat dan seolah-olah berpikir apakah ia akan memberitahukanku ataukah tidak? Apakah aku layak mengetahui hal ini atau tidak? Kemudian ia berkata tanpa mengangkat kedua matanya, “Aku adalah orang yang menyukai masjid. Setiap kali aku melihat masjid yang lama, roboh atau ditinggalkan, maka aku memikirkannya. Aku memikirkan hari-hari dimana manusia shalat di dalamnya. Dan aku berkata, harus ada yang shalat karena saat ini masjid merindukan orang-orang untuk shalat di dalamnya. Aku yakin bahwa masjid ini merindukan orang-orang yang berdzikir kepada Allah di dalamnya, aku yakin bahwa masjid ini merindukan orang-orang yang bertasbih dan bertahlil. Ia berangan-angan kalau sekira-nya ada suatu ayat yang menggetarkan dinding-dindingnya. Aku berpikir dan berpikir, mungkin telah berlalu waktu adzan dan masjid ini masih merindukan. Ia berangan-angan mendengarkan “Hayya ‘alash shalah!” di dalamnya. Aku yakin bahwa masjid ini merasa asing terhadap masjid-masjid yang lain. Ia berangan-angan adanya satu rakaat dan satu sujud di dalamnya. Aku yakin sekali jika qiblat masjid ini berangan-angan ada ucapan “Laa ilaha ilallah” didalamnya atau ada orang yang lewat dan mengatakan di dalamnya “Allahu Akbar” dan sesudahnya mengatakan “Alhamdulillahirabbil ‘alamin!” Dan ketika melihat-lihat masjid seperti ini, aku berkata kepada diriku sendiri: “Demi Allah, aku tidak akan memadamkan kerinduanmu!” Demi Allah aku akan mengembalikan sebagian hari-harimu. Aku turun dari mobilku dan shalat dua rakaat serta membaca satu juz dari Al-Qur’an. Oleh karena itu, janganlah heran dengan perbuatanku ini. Akan tetapi Demi Allah, aku mencintai masjid!”

Setelah aku mendengarkan penuturannya, airmataku ber-cucuran. Aku melihat ke lantai sebagaimana yang ia lakukan hingga aku tidak memperhatikan cucuran air mataku. Ucapannya membekas di dadaku. Demikian juga keyakinan dan metode serta perbuatannya yang sungguh menakjubkan. Sebagai seorang laki-laki yang hatinya tertambat ke masjid. Aku tidak dapat menuturkan sepatah katapun kepadanya. Cukup bagiku mendoakannya, “Semoga Allah membalas anda dengan segala kebaikan! Dan aku berpesan kepada anda agar tidak melupakanku dalam doa-doa anda!”

Aku keluar dari masjid, sedangkan kedua mata pemuda itu masih tertunduk ke lantai sambil berkata, “Apakah anda mengetahui, dengan apa aku selalu berdoa ketika berada di luar masjid?” Aku melihat padanya dan berkata kepada diriku sendiri, “Dengan apakah gerangan dia berdoa ketika dia keluar dari masjid?” Pemuda itu berkata, “Aku berdoa, ‘Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwasanya aku sangat mencintai dan terhibur dengan masjid ini karena dzikir-Mu (firman-Mu) Yang Agung dan Qur’an-Mu yang Mulia, semata untuk Wajah-Mu wahai Yang Maha Penyayang! Maka hiburlah kesepian bapakku di dalam kuburnya, sedangkan Engkau adalah sebaik-baik Pengasih Yang Maha Penyayang!”

Ketika itu air mataku bercucuran. Aku tidak malu untuk menyembunyikan hal ini. Pemuda macam apa ini? Berbakti kepada kedua orangtua macam apa yang ia lakukan? Semoga aku bisa sepertinya bahkan aku berharap semoga menjadi seorang anak sepertinya! Bagaimanakah kedua orangtuanya mendidiknya dengan sebuah pendidikan yang mulia, dan bagaimanakah kita mendidik anak-anak kita? Getarkanlah hatiku dengan doa ini Ya Allah! Aku telah mendapati diriku kurang berbakti kepada kedua orangtuaku (semoga Allah merahmati mereka berdua). Berapa banyak dari kita yang tidak berbakti kepada kedua orangtuanya ketika mereka masih hidup apalagi ketika sudah meninggal!

Aku melihat sebagian pemuda ketika didirikan shalat jenazah atau jenazah orangtua mereka dikebumikan, mereka menangis histeris. Mereka mengangkat kedua tangan mereka seraya berdoa dengan suara yang bercampur tangis. Suara yang menggetarkan hati. Aku merenung, apakah mereka anak-anak yang berbakti kepada kedua orangtua mereka hingga tingkatan seperti ini, ataukah ini hanyalah tangisan karena mereka kehilangan kasih sayang kedua orangtua mereka!! Ataukah mereka baru merasakan dan menyadari makna yang sebenarnya dari kata “Bapak” dan “Ibu” pada saat ini?

Sungguh baik seorang pemuda yang shalih! Ya Allah, jadikan kami sebagai anak-anak yang shalih dan karuniai kami keturunan yang shalih pula. Sungguh Engkau Maha Mendengar dan Menjawab Doa. Amin.

(Oleh Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi, di majalah Qiblati edisi 12 tahun II).

Ket: Foto di atas bukan menunjukkan yang sebenarnya.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=80623506711

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tujuh golongan manusia yang akan diberi naungan oleh Allah pada hari tak ada lagi naungan selain naungan-Nya, yaitu (diantaranya)…pemuda yang tumbuh dalam nuansa ibadah kepada Allah, dan seseorang yang hatinya selalu tertambat pada masjid.” (HR: Bukhari & Muslim).

(http://gizanherbal.wordpress.com)

One response to this post.

  1. masyaalloh….ya allloh jadikan hati ini hati yang rindu akan masjiid2 mu dan tertmbat didalamnya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s