Maafkan Aku


Bila kutulis kisah ini, aku tak hendak membuka aibku. Tapi aku ingin siapapun bisa belajar dari kisahku. Dan itu baru kusadari saat aku melihat 2 saudara perempuanku terluka karena laki-laki yang dicintai meninggalkan mereka, meninggalkan noda yang tak bisa dihapus jejaknya.

Seorang saudariku hampir tak tertolong, ia mencoba mengakhiri penderitaan dan penyesalannya dengan cara tragis… dan sungguh hal itu mengingatkanku pada seseorang yang telah kusakiti lahir batinnya… Sesal itu terasa begitu menggunung, menyiksa batin dan hari-hariku.

Kuakui, dulu aku memang seorang pria yang tak punya hati bahkan tanpa nurani. Layaknya muda-mudi masa kini dan pergaulannya, seperti itulah gaya hidupku. Lebih-lebih di kampus aku bertemu banyak kawan yang bisa dibilang buta agama dan bergaul bebas. Pacaran adalah hal biasa bagiku. Aku sudah melakukannya sejak SMP. Orang sekarang bilang cinta monyet.

Dan sebagaimana istilah itu, cintaku tak pernah bertahan lama. Sebentar-sebentar “melompat” dari satu hati ke lain hati. Tak ada yang serius, semua just for fun, sekedar berburu kesenangan dan melampiaskan nafsu. Naudzubillah min dzalik… bila kuhitung-hitung dari SMP hingga SMU aku telah jatuh cinta sebanyak 49 kali!

Hingga saat kuliah, aku merasa benar-benar jatuh cinta pada seorang teman kuliah beda fakultas. Tak seperti yang lain, di mataku ia berbeda dan susah kutaklukkan. Aku mabuk kepayang. Setengah tahun, aku baru bisa memenangkan hatinya. Empat tahun kujalani kisah yang tak semestinya bersamanya. Tahun 2000 masuk tahun kelima, aku mulai “berulah” dan main hati dengan wanita lain. Kuakui, aku memang gila dengan perhatian-perhatian wanita di sekelilingku. Aku tipe orang yang mudah gede rasa dan mudah merasa tersanjung. Dan selama 4 tahun sifat asliku itu “dipeti-eskan”, seketika itu siap menjadi bom waktu…

Aku campakkan Mawar –sebut saja begitu- kekasihku, begitu saja. Meski ia menangis menghiba. Aku tak peduli, bahkan dengan santai aku mengatakan kata-kata yang menyakitkan hatinya.

“Demi Allah De…, Jangan tinggalkan aku! Aku tengah mengandung!” Tapi kata-kata mawar tak membuatku surut, bahkan seenak perutku aku berkata, “Gugurkan saja!” dengan nada tinggi. Mawar semakin menggugu’. Jo, Hani, Indra, Dil, kecewa dengan sikapku. Bahkan Dil sempat menamparku dan memakiku. Sahabat-sahabat mulai jauh dariku.

“Banci kamu! Ingat, kamu akan menyesal seumur hidupmu!”

Aku hanya tersenyum tanpa beban, toh sekarang aku punya Mira, Nunung, dan sederet wanita yang siap memerhatikanku. Bahkan Mira yang gadis Sunda itu begitu “care” dan suka bergelayut manja padaku, padahal sebentar lagi ia akan menikah dalam hitungan bulan. Bangga aku bisa merebut perhatiannya.

Dua bulan kemudian, Jo dan Heni menemuiku, setelah lama tak kulihat batang hidungnya. Mereka bilang, Mawar di rumah sakit mengalami depresi berat dan keguguran. Setengah memaksa, mereka menyeretku ke rumah sakit. Akupun bersedia setelah Jo mengancam mengadukan ulahku ke orang tuaku. Ternyata, di rumah sakit sudah ada Dil dan Indra. Dari sahabat-sahabatku itu aku tahu perjuangan Mawar yang begitu besar. Dia membesarkan kandungannya di tengah rasa sedih dan ketakutannya, tanpa satu orang keluarganya tahu. Ia simpan segudang sesal, sedih, kecewa juga ketakutannya seorang diri, hingga ia akhirnya mengalami depresi dan keguguran.

Begitu melihatku, Mawar menggigil ketakutan dan berteriak-berteriak memintaku pergi. “Pembunuh! Pembunuh! Puas kamu sekarang?” Teriaknya padaku.

Aku pembunuh? Enak saja ia berkata begitu… Kugandeng Mira yang sedari tadi mengikutiku, pergi meninggalkan rumah sakit diikuti pandangan geram sahabat-sahabatku. Bahkan Dil sempat menegur Mira dengan ketus.

“Bisa sedikit punya perasaan tidak?! Di mana harga diri kamu?! Betapa malang nasib calon suamimu, ia tak tahu siapa dan bagaimana calon istrinya! Bisa-bisanya kamu bersenang-senang di atas penderitaan orang?! Kulirik Mira, ia kian erat mendekap lenganku dan tersenyum tanpa dosa…

Demikianlah, hari-hariku mengalir seperti biasa. Dan tanpa kusadari, tragedi yang besar dan mengerikan terjadi pada adik-adik perempuanku…

Dan hari itu, suatu siang sepulang kuliah, rumah kudapati ramai oleh tetangga. Bergegas aku masuk ke rumah diiringi tatapan mereka. Hatiku bertanya-tanya. Di ruang tengah, di langit-langit masih kulihat tali terjuntai, adik ketigaku lunglai dengan mulut berbusa di sisi ibu yang terus menangis histeris mengguncangnya. Istighfar terus mengalir dari mulut ibu. Aku termangu dan menangis. Ada apa dengan adikku? Tubuhku  lunglai, adikku mencoba mengakhiri penderitaan juga sesalnya dengan melakukan hal bodoh! Astagfirullah…

Di rumah sakit, dari balik kaca ICU, kupandangi adikku. Nafasnya satu-satu dan terlihat payah. Aku teringat Mawar. Apa yang kulakukan padanya?!Ada dua wanita terluka dan sakit di depanku. Dan kini bertambah lagi, adik keduaku mengalami depresi karena kebodohan yang sama. Mengikuti nafsu setan… Enam bulan aku mendampingi kedua adikku, memompa semangatnya. Kulihat mereka menderita lahir-batin. Pemandangan itu bagai pil pahit bagiku. Allah seolah menegurku lewat adik-adikku. Aku yang kemarin begitu liar, kini tanpa daya. Lebih-lebih bila malam menjelang. Aku sulit terpejam, mimpi buruk selalu menghantui. Aku merasa dikejar-kejar dosa, pada diriku lebih-lebih pada Mawar… di mana ia kini, bagaimana keadaannya?

Semua itu terus menyiksaku. Kuliahku amburadul karena bertumpuk kegelisahan menimbunku. Hingga suatu hari, kuberanikan diri menemui mama dan papa. Aku ingin mengakui semua perbuatanku dan aku siap dengan semua kemarahan yang akan mereka berikan. Aku tak punya jalan lain. Dunia terasa sempit bagiku, bahkan untuk sekedar bernafas!!

Dengan sisa keberanian, dengan maju mundur, malam itu aku sampai juga di depan kamar mama-papa. Satu rumah, tapi jarak kamarku dan kamar mama terasa beratus-ratus kilo. Hampir ½ jam, aku termangu-mangu di depan pintu kamar mama. Hingga…, kuberanikan diri mengetuknya.

“Ma…, Pa…” hanya kata itu yang kupunya. Saat papa membuka pintu, aku tak berani menatapnya dan tangisku pecah di kakinya. Terbata-bata kuceritakan semua. Kulihat mama menangis dan papa merah padam. Sekelilingku seolah panas terbakar. Tiba-tiba suara papa memecah hening.

“Di mana gadis itu sekarang?! Besok papa dan mama akan menemuinya…” Aku sempat terkejut, tapi diam-diam aku bersyukur pada Allah. Papa sempat bicara beberapa hal penting padaku, menepuk punggungku sebelum beranjak meninggalkanku di ruang tengah seorang diri…

Malam itu juga, kutelpon sahabat-sahabatku meminta bantuan mereka tentang keberadaan Mawar, sebab aku tak tahu kabarnya 6 bulan terakhir. Alhamdulillah, mereka senang mendengar kabar yang kusampaikan pada mereka.

Aku tak berani menatap Mawar. Aku tak punya nyali melihat wanita yang telah kusakiti lahir-batinnya, di hari akad nikah. Bahkan ijab qabul harus kuulang beberapa kali karena aku menangis tak mampu menyelesaikannya. Aku telah membuatnya menderita, sangat menderita. Dan mungkin luka itu tak akan pernah hilang dari hatinya, meski ia kini telah menjadi “mawar” di istanaku. Menjadi ibu dari empat anak-anakku (2 putri kandung dan 2 keponakan-anak adik-adikku- yang kami asuh). Kami sengaja mengasuh dan merawat mereka, sementara adik-adikku –ibu mereka- melanjutkan studi, masa depan mereka masih panjang dan keduanya masih sangat muda, 15 dan 17 tahun, saat itu.

Mama dan papa membantu istriku merawat cucu-cucunya. Alhamdulillah, kami juga bisa menyelesaikan kuliah sambil membuka usaha atas bantuan papa. Terkadang, bayang masa lalu itu masih membayangiku. Aku hanya mengharap ampunan Allah atas semua dosa yang pernah kami lakukan. Aku juga selalu berusaha menghormati dan menjaga istriku, aku tak ingin menyakitinya lagi. Demikian halnya yang kulakukan pada ibu dan adik-adikku, aku berusaha menjaga mereka semuanya.

Aku juga mulai ikut aktif mengaji bersama sepupuku. Aku sangat berterima kasih padanya, ia selalu mengisi rohaniku dengan nasihatnya, atas izin Allah, aku dan keluargaku bisa seperti saat ini. Sedikit demi sedikit, kami sekeluarga mulai istiqamah mendalami ilmu agama. Betapa bahagianya saat kami dan keluarga besar bisa ramai-ramai taklim atau melihat wanita-wanita yang kusayang dan kucintai di sekelilingku; istri, mama, dan adik-adikku istiqamah dengan jilbab mereka. Alhamdulillah, mudah-mudahan keluarga kami selalu dipenuhi kebahagiaan dunia akhirat. (***)

Kisah W di S

(Majalah Sakinah Volume 10, No.5 І Sya’ban – Ramadhan 1432 dan Majalah

Sakinah Volume 10, No 6 І Ramadhan – Syawal 1432)

2 responses to this post.

  1. Posted by abdillah on September 11, 2011 at 2:14 pm

    Subhanallah… Mohon juga dimuat kisah2 yg belakangan ini sering terjadi. Berbuat zina yg dilandasi “suk sama suka”.

    membaca kisah diatas, mereka akan mengatakan; Ah itukan kebetulan cowoknya ga bener, beda dengan cowokku. yg penting pacarku tanggung jawab, selesai..! rumahtangga kami bahagia, jadi ga ada masalahkan….

    seolah mereka melegalkan perzinaan yg didasari suka sama suka. mereka melupakan generasi yg lahir dari hasil zina. yang bapak ibunya begitu jauh dari ilmu syar’i sedari muda & sampai memiliki beberapa anakpun tak ada keinginan untuk memperbaiki diri.

    Sekali lagi mohon dimuat keburukan2 cerita seperti yg ana maksud, karena yg seperti itulah yg lebih banyak terjadi di negri kita tercinta ini

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s