Mas Ikhwanku


Kami tiga bersaudara. Aku bungsu dan satu-satunya yang paling cantik di rumah. Begitu papa selalu menggodaku, tapi kakak nomor duaku bilang, bunda jauh lebih cantik. Begitulah hari-hari yang kulalui bersama Mas Agung kakak nomor duaku. Kami akrab, apa lagi praktis sejak Mas Galang jadi PNS di luar kota. Kami jadi lebih dekat.
Saat Mas Galang pertama keluar kota, sedih banget rasanya. Aku kehilangan bukan main. Sering aku ke kamarnya, menangis di sana. Rumah sepi tanpa candanya. Dan kini aku juga kehilangan Mas Agung. Dia jadi pendiam, jarang bercanda, sering lebih asyik tenggelam di kamar dengan buku-buku “bacaan barunya”. Kubilang buku bacaan baru, karena yang ia baca adalah buku-buku bacaan Islam!! Rasanya aneh saja, sebab ia biasa baca novel-novel atau buku-buku roman picisan. Tapi kini, rak bukunya penuh dengan buku-buku islam yang asing bagiku. Dari tata cara shalat kumpulan hadits Shahih Bukhari-Muslim dan seabrek buku dengan judul-judul yang sulit kueja bacaannya. Aduh, pusiiiiing…


Tak cuma itu, poster artis-artis Holywood dan Mandarin F4, sampai kesayangannya Gun’s & Roses, Air Supply, Slank, poster & kaset CD-nya bersih semua tanpa sisa. Di kamarnya ada tulisan besar “No Smoking”, padahal yang ku tahu mas Agung itu perokok berat. Hebat, dia bisa berhenti dari rokok secara tiba-tiba!
Belum lagi kini ia cuek dengan teman-teman wanitaku yang datang ke rumah. Padahal dulu, ia akan segera nimbrung tanpa diminta sambil nenteng gitarnya. Nyanyi dan ketawa bareng. Aku jadi tak enak sendiri pada teman-teman yang bertanya tentang perubahannya. Lewat pakai nunduk-nunduk segala! Kalau aku protes ia bilang, katanya justru sikapnya itu menghargai wanita, ngga’ jelalatan, menghormati perempuan. Tuturnya sambil senyum-senyum.
Bajunya?! Amit-amit sekarang ngga’ ada keren-kerennya. Celana cutbray  plus jeans belel dan kaos Metalica-nya entah kabur ke mana. Berganti dengan hem sederhana atau baju koko dengan celana cingkrang gombrong bak kurang bahan. Menurutku, penampilannya kini selevel dengan Pak Jarwo tukang kebun di rumah. Dan satu lagi kebiasaan barunya ia rajin taklim dan tak pernah menyeretku “bersamanya”.

“Yuk, ikut Mas Agung ngaji…” Meski awalnya sering kutolak mati-matian, akhirnya ia selalu sukses mengajakku. Belum lagi, ia meninggalkanku sendirian bersama wanita-wanita di ruangan sisi masjid, dan ia entah di mana. Ia membiarkanku salah tingkah tampil beda, tanpa kerudung, berkaos pendek, dan bercelana jeans. Awas ya, batinku merutuk. Tapi salah siapa? Tadi ia sudah memintaku berkerudung dan berpakaian lebih pantas, tapi kutolak. Di parkiran ia cengar-cengir menantiku usai taklim.

“Gimana?”

“Bodo, ah!” Jawabku ketus. Lalu, kami beli es buah sesuai janjinya untuk menghilangkan sewotku.

****

Besok Mas Galang pulang cuti. Aku senang bukan main. Aku bakal mengadu habis padanya soal perubahan Mas Agung. Biasanya, aku cuma mengadu lewat telepon. Besok kalau Mas Galang pulang, ia bisa melihat sendiri seperti apa Mas Agung sekarang. Dijamin pasti ia ikut tak senang sepertiku. Biasanya sih Mas Galang bilang di telepon. “Kalau berubah ke arah lebih baik, khan tak masalah?” Nasihatnya setengah bertanya. Huh, baik apanya? Jadi kuper, ngga trendy, ngga’ modis lagi, malah miara jenggot juga tuh.

Tapi yang kulihat hari ini…, hampir membuatku pingsan. Saat turun dari taksi, Masya Allah… Penampilannya persis kaya’ Mas Agung sekarang. Mas Agung tersenyum.

“Assalamualaikum, Akhi (saudaraku-red),” Mereka berangkulan hangat. Aku diam, melongo…Sejak kapan Mas Galang ganti nama jadi “Akhi”? Kubiarkan tubuhku dipeluknya. Aku bahagia, tapi tetap merasa aneh.

Sungguh dua abangku jadi lebih santun dan pendiam. Diam-diam kuakui, mereka tetap saja ganteng dengan penampilan mereka kini. Padahal dulu mereka urakan, jago nongkrong dan ngrokok. Apalagi kalau sudah main billiard atau ngeband, bisa lupa waktu. Mama sering dibuat pusing kalau pagi. Mereka susah dibangunin untuk sekedar shalat subuh. Papa sampai sering ikut marah. Tapi kini, mereka rajin shalat tanpa disuruh dan berhenti dari membuang waktu sia-sia. Makan juga seadanya. Padahal dulu mereka akan mogok makan, kalau tak ada ikan di meja. Papa dan mama respek pada perubahan dua abangku. Hingga papa tiba-tiba bicara saat makan malam.

“Kapan ya papa punya akhwat di rumah? Alhamdulillah papa sudah punya dua ikhwan. Sudah gede lho (kamu) Na, kapan mau tutup aurat?” Sebel deh, papa bilang begitu. Tapi kurasakan ada yang lain di hatiku.

****

Empat bulan berikutnya aku mulai “pede” berkerudung, meski kecil dan terasa aneh pada awalnya. Lama-lama aku mulai merasa nyaman memakainya. Sedikit demi sedikit kerudung “kuperbesar”. Mas Agung senang bukan main. Ia rajin menghadiahkan untukku buku-buku salaf. Bila pulang, Mas Galang sering memberiku oleh-oleh jubah panjang.

Belum setahun aku “berhijrah”, tapi dukungan dari mama dan papa juga dua “mas ikhwanku” membuatku bersemangat. Aku bersyukur punya dua abang yang menjadi jalan taubatku, atas izin Allah. Mama juga mulai berkerudung bila keluar rumah. Alhamdulillah, kusyukuri semua atas hidayah ini dan satu lagi, setiap orang di rumah kini tengah bersemangat dalam berbenah untuk memperbaiki diri. Semoga kami semua istiqamah. (***)

Kisah Na di S

(Majalah Sakinah Volume 10, No 3 Jumadil Tsani-Rajab 1432)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s