Anakku, Ummi akan mendengarkanmu..


Oleh Amalia Husna

Dadaku sesak, ubun-ubunku memanas, mataku terbelalak,… aku melihat anakku yang berumur 5 tahun tertegun di antara pecahan gelas kristal dan potongan buah yang berserakan. Kuah sup buah luber merata di lantai.

“Innalillahi wa innalillahi ro’jiun.., Jundiii..!!”
Mendengar teriakanku, Jundi langsung terkesiap. Dengan sigap dia segera mengumpulkan pecahan gelas yang ada didekatnya. Tangannya bergetar. Akupun segera mencegahnya karena khawatir dia terluka. Kukumpulkan pecahan gelas satu persatu. Tak sanggup aku melihat hadiah dari ibuku hancur berkeping-keping, ditambah hidangan penutup yang telah aku buat sepenuh hati telah tumpah tak berguna. Tapi sudah terjadi, aku harus ikhlas.

“Ummi bilang apa? Kalau main di luar, ini rumah, bukan lapangan..!” Sekuat tenaga aku tahan emosi ini, tapi nada bicara dan ekspresi wajahku tidak mampu menyembunyikannya.

“Ta…tapi Ummi…tadi…” kulihat anakku sangat gugup dan tegang.

“Sudahlah..! Sekarang kamu tahukan akibatnya kalau membantah Ummi?” potongku. Aku tidak mau mendengar alasan apapun darinya. Aku panik! Sebentar lagi ceramah Bu Ustadzah akan usai, sementara hidangan penutup sudah hancur berantakan, belum lagi…. duh….

Kemudian suamiku datang dan menengahi kami. “Ummi, biar saya yang urus ini, lanjutkan saja acaranya. Nanti saya beliin puding sebagai gantinya”.

Aku bersyukur memiliki suami yang dapat diandalkan. Kulihat Jundi berjalan lunglai menuju kamarnya. Sungguh, aku tak habis pikir, mengapa anakku jadi nakal seperti itu?.

Acarapun usai. Satu persatu temanku berpamitan. Saat hendak menutup pintu, aku mendengar rintihan kucing di balik pot. Mungkin dia lapar, pikirku. Akupun mengambil potongan ayam di meja dan memberikan padanya.
Tiba-tiba Ilham, adik Jundi berteriak, “Ummi..!! Itu kan meong yang mo maem ayam.”

Aku terkejut mendengarnya.
Ilham melanjutkan, “Untung ada Mas Jundi, jadi meongnya kabur gak jadi maem ayam…”.

Ya, Allah, jangan-jangan….Astaghfirullah. Segera aku gendong Ilham, anakku yang masih berusia 3 tahun dan langsung kucari Jundi.

Kamar Jundi tertutup, sayup-sayup terdengar suara Abi dan Jundi. Aku urungkan niatku untuk masuk. Aku memilih untuk mendengarkan pembicaraan mereka, sementara Ilham sudah hanyut dalam buaianku.

“Ummi gak tau yang sebenarnya, mangkanya Ummi marah. Jadi, Mas Jundi mau, kan, maafin Ummi?” pinta Abinya.

“Tapi waktu Jundi marah-marah ke Ilham, Ummi bilang harus sabar..!” balas Jundi.

Dzigh! Hatiku serasa ditonjok mendengar ucapan anakku. Ya, Allah, dia mendengarkan dan melaksanakan nasihatku padanya, mengapa aku tidak mau mendengarkannya? Parahnya lagi, aku telah mengingkari nasihatku sendiri!

“Iya, Mas Jundi benar, kita harus sabar, Ummi dan Abi juga. Ntar, Abi yang bilang ke Ummi, setuju?” bujuk Abi. “Jadi, Ummi dimaafin, donk?”

“ Iya dimaafin, Jundi kan sayang Ummi…”

Subhanallah, percakapan mereka membuatku terharu. Mengapa aku percaya pada prasangkaku yang belum terbukti? Anakku terlalu shaleh untuk dicurigai.

Kuketuk pintu kamarnya perlahan, kubuka pintunya. Ternyata Jundi tertidur dalam belaian Abinya. Ilham aku gendongkan ke Abinya. Aku belai kepala anakku yang lelap membelakangiku, “Maafkan Ummi, ya, Mas… Ummi sudah menuduh Mas Jundi…,” kata-kataku tertahan di tenggorokan, sesak tidak mampu menahan penyesalan ini.
“Ummi yang salah karena lupa menutup makanan…”.
Kukecup ubun-ubunnya lama.
Tetes demi tetes air mataku membasahi rambutnya.
Aku menarik nafas panjang agar mampu berkata lagi, “Maafkan Ummi, ya, sayang…”
Aku peluk erat buah hatiku. Entah dia dengar atau tidak, tapi aku berharap dia masih mau mendengarku…

Terinspirasi dari kisah nyata

Kramatwatu, 6 Maret 2010
Amalia Husna Marwan

Artikel Lainnya:

2 responses to this post.

  1. Posted by zahwa aulia on October 21, 2011 at 11:38 pm

    subhanalloh..sungguh kisah yg mmbwt suritauladan..dimana kadang qt sbgai ortu menasehati anknya..trnyata nasehat itu dia lupakan sndiri..krna trdorong emosi..itu sdh bnyk trjdi..

    Reply

  2. Posted by Muslich Al-FaQir on March 17, 2012 at 9:38 am

    Haaaaaaaahhhhh ! ! !

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s