Aku Hanyalah Pengembara


Pernah dengar kalimat ini? “Wahai dunia, rayulah selain diriku, karena aku telah menceraikanmu tiga kali !”

Kalimat fantastis ini hanya mampu diucapkan oleh seseorang yang sempurna keimanannya. Hingga tak mampu tergoda oleh gemerlapnya warna-warni dunia. Kalimat ini memang terucap dari bibir suami dari putri kesayangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta bapak dari penghulu laki-laki di surga Hasan dan Husein radhiyallahu ‘anhuma. Dialah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Sahabat sekaligus menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Namun tak banyak orang yang bisa meneladani beliau, kecuali para sahabat terpilih dan orang-orang yang mendapat kemurahan rahmat-Nya.

Sebagaimana diriku, aku pun sempat terlena oleh tipu daya dunia, hingga sampai seorang sahabat yang baik menyadarkanku dari kekeliruanku selama ini.

Inilah kisahku.

Aku terbangun di pagi hari dengan hati yang penuh diliputi kegundahan dan kesedihan. Pasalnya kemarin aku bertemu dengan teman-teman lama. Setelah saling melepas rindu, kami saling bercerita kondisi masing-masing. Ternyata seluruh temanku telah berhasil semua dalam bisnis dan pekerjaannya. Mereka telah memiliki rumah, kendaraan dan segala materi dunia yang mereka inginkan. Mereka bisa berlibur ke negara manapun tanpa kendala. Karena soal uang, tak ada masalah buat mereka. Kenyataan ini membuat aku sangat sedih. Ternyata diantara mereka, akulah yang paling tidak berpunya. Kesedihanku terbawa hingga pagi ini.

Setelah ashar, aku menemui teman terbaikku Abdurrahman. Seorang pemuda yang baru menginjak dewasa, berakhlaq mulia, pintar, dan disukai banyak orang.

Melihat aku datang dengan wajah suram, ia langsung bertanya, “Apa kabarmu saudaraku? Hal apakah yang membuat hatimu gundah gulana? Demi Allah, sesungguhnya engkau berada dalam lautan kenikmatan yang tak terhitung, terutama nikmat Islam.” Ia berhenti sejenak dan melanjutkan kalimatnya.

“Namun kulihat dirimu saat ini seperti seseorang yang datang kepada orang shalih lantas mengadukan kesempitan hidupnya, hingga seorang shalih bertanya, “Bolehkah matamu kubeli dua ratus ribu?” Yang dijawab oleh orang tadi, “Tentu saja tidak.”

Kemudian orang shalih menanggapi, “Aku melihat engkau memiliki dua ratus ribu kekayaan, mengapa engkau masih mengadukan kepapaanmu?”

Saat Abdurrahman terdiam, aku jawab pertanyaannya yang awal tadi dengan suara lirih, “Alhamdulillah, keadaanku baik…”

Sungguh, kalimat-kalimatnya mengalir dengan jujur. Dengan bijak ia menanyakan sesuatu hal padaku, “Tapi kulihat engkau dalam kesempitan hati. Bagaimana sehari ini kau penuhi hatimu dengan rasa gundah dan sedih lalu dimana kekuatan shalat dan bacaan Al Qur’anmu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap memiliki urusan, beliau bersegera melakukan shalat. Sedang engkau, waktumu banyak diisi dengan membaca koran dan majalah, lalu mana kesempatanmu untuk membaca lembaran dari Rabbmu? Yang kau inginkan hatimu kembali bersih bukan?”

Aku membenarkan. Ia lantas mengajakku ke suatu tempat. Saat kutanyakan, ia hendak mengajakku kemana, ia tak menjawab. Aku tinggal mengikutinya saja.

Kamipun pergi dengan mengendarai mobilnya. Sambil menjalankan mobil, ia bertanya lagi, “Pernahkah engkau bersyukur hidup di negara islam, di antara kaum muslimin? Engkau dapat mendengar suara adzan setiap hari, dan mendidik anak-anakmu dalam kemurnian tauhid…?”

Tiba-tiba kendaraan berjalan pelan dan berbelok ke kanan, yang kutahu itu arah ke pekuburan umum. Kupikir ia salah jalan, tapi saat kutanya ia menjawab bahwa dia memang berniat membawaku kesana. Meski ada rasa takut menjalari hatiku, aku tidak banyak bertanya lagi.

Kami mengucap salam kepada ahli kubur. Setelah itu mataku menyapu ke sekeliling. Lengang, gersang, menyeramkan. Di sini tinggal bayi, anak-anak, orang biasa dan para pejabat. Penghuninya banyak dan berjajar, namun mereka terpisah satu dengan yang lainnya, dan tidak saling mengetahui kondisi yang lainnya.

Ada sebuah liang lahat yang belum terisi. Abdurrahman berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang liang lahat ini? Inilah kotak amalmu dan rumahmu yang kedua wahai Abdullah. Turun dan masuklah kesana.”

Reflek aku mundur karena rasa ngeri. Namun Abdurrahman justru masuk kesana dengan membaca Bismillah dan meletakkan tubuhnya di liang lahat. Duhai, betapa sempitnya tempat tinggalku kelak. Aku berdoa dalam hati, “Ya Allah, jadikanlah kuburanku sebagai salah satu taman surgawi.”

Abdurrahman melompat naik dan menyuruhku untuk menggantikannya. Awalnya aku menolak, tapi saat ia terus mendesakku, akupun turun. Kurasakan betapa sepi, gelap, dan dinginnya liang lahat ini. Sebelum aku berfikir lebih jauh, terdengar suara dari atas, “Wahai Abdullah, bayangkanlah dirimu telah mati. Amal shalih apa saja yang telah engkau lakukan?”

Aku lantas berbaring laksana orang yang sudah meninggal. Kugunakan waktuku dalam kubur itu untuk berfikir. Dalam kegelapan alam kubur, hanya dua hal yang aku pikirkan. Antara rendahnya nilai dunia dan panjangnya angan-angan. Kita semua akan meninggalkan dunia tanpa membawa apapun, kecuali amal shalih. Jadi, apa yang harus kita risaukan dengan kesempitan hidup kita di dunia? Karena berapapun banyaknya harta kita, kitapun tak akan membawanya ke dalam kubur.

Wahai sahabatku, terima kasih atas segala nasihatmu. Hari ini telah kudapatkan jalan hidup sebenarnya. Dan saudaraku, semoga kisahku ini membawa manfaat teruntuk kalian semua.

-Bunda Asyrof-

dari ‘Kisah Nyata’ Hani Dirar Utsman

[Majalah Elfata Edisi 08 Volume 10-2010]

Artikel Lainnya:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s