Perjuangan Cinta


Aku dan istriku punya sebuah kisah menarik, tegang, dan juga menguras air mata. Kami dipisahkan oleh orang tua, justru di saat di mana kami seharusnya menikmati indahnya malam pengantin…Sedih luar biasa.

Aku bertemu dengan istri atas kebaikan seorang saudara jauh dari bapak. Awalnya aku tak tertarik untuk menikah dengannya. Bukan apa-apa, aku memang belum ingin menikah. Tapi saudara bapak ini, telaten menawariku. Sempat risih juga “diuber-uber” dengan tawaran yang sama. Hingga suatu hari, saat aku rebahan di kamarku sepulang kerja, aku memikirkan kembali tawaran itu. Toh, umurku pun lebih dari cukup untuk menikah dan aku sudah punya pekerjaan yang insya Allah bisa untuk memberi nafkah, meski tak bisa dibilang banyak.

Keluarga istri adalah pengikut Ahmadiyah. Itu aku tahu dari saudara bapak. Dan tujuan dirinya ingin menikah salah satunya adalah agar dia bisa lepas dari pengaruh keluarga . Di rumahnya, dari 7 bersaudara, hanya dia yang tak ikut Ahmadiyah. Dari semula, istriku sudah merasa aneh dengan ajaran yang dianut keluarganya. Bila ia mengemukakan alasan tak mau ikut ajaran ini, ujung-ujungnya kemarahan dan cacian yang ia terima. Berangkat dari hal ini pula yang menjadikan salah satu alasanku menikahinya. Ia butuh seseorang yang bisa mengeluarkannya dari rumah, untuk menyelamatkan agamanya. Dan aku melakukannya semata karena Allah. Aku kasihan dan prihatin dengan apa yang menimpanya.

Dengan “bismillah” aku minta pendapat pada orang tuaku. Alhamdulillah, mereka paham dan bisa mengerti. Bahkan mendukungku sepenuhnya. Mereka juga berpesan bila aku benar-benar ingin menikahinya, aku harus bisa menjadi imam yang baik untuknya. Bisa membimbingnya, menjaga, dan bertanggung jawab sepenuhnya.

Ternyata tidak mudah untuk menembus birokrasi keluarganya, mereka bertanya sangat detail tentang aku dan keluargaku, dan dari mana aku kenal dirinya. Aku bilang kenal dari Pakdhe (paman-red), yang kebetulan tinggal satu RT dengan keluarga istri. Pakdhe kebetulan pernah menjadi jamaah Ahmadiyah. Namun alhamdulillah, Pakdhe sudah tobat sejak beberapa tahun lalu. Keluarga istri tidak tahu kalau Pakdhe sudah bukan lagi jamaah Ahmadiyah. Jadi mereka pun mengira aku orang Ahmadiyah pula.

Dua bulan kemudian restu keluara istri baru turun dan selama menanti tak ada komunikasi sama sekali. Begitu jawaban datang, aku dan keluarga langsung melamar dan menentukan tanggal pernikahan. Awalnya mereka menolak cepat-cepat menikah. Tapi aku beralasan takut zina dan jadi fitnah, alhamdulillah mereka mau menyetujuinya.

Seminggu kemudian kami menikah dengan memanggil petugas KUA di rumah istri. Pesta pernikahan digelar di rumah istri. Alhamdulillah akad nikah berlangsung lancar. Namun beberapa saat kemudian, saat aku menerima tamu, bapak mertuaku memanggil. Aku mulai merasa ada yang tak beres, sebab begitu masuk ke ruang keluarga, ternyata beberapa anggota keluarga sudah berada di sana. Dan benar saja, baru saja aku masuk, aku dicecar dengan banyak pertanyaan.

Entah siapa yang menyampaikan, orang tua istri akhirnya tahu bahwa aku bukan jamaah mereka. Dan hari itu juga aku diminta menceraikan istri. Sebab peraturan mereka, mewajibkan jamaah untuk menikah dengan sesama jamaah mereka sendiri. Bukan main terkejutnya aku. Istri dipanggil dan saat itu juga dipaksa bercerai. Istriku menolak hingga menangis histeris hingga pingsan. Saat aku hendak menolongnya, aku justru ditahan oleh keluarga istri. Aku dimaki-maki bahkan sempat dipukul. Namun, aku tetap bertahan di sana, karena aku merasa punya tanggung jawab dan kewajiban menjaga istri. mertua untuk diizinkan menjaga istri. Dari negosiasi dengan keluarga istri, aku tetap tak diizinkan untuk bertemu dan mau tak mau aku diharuskan bercerai. Pikiranku kacau, apalagi saat mendengar tangis istri dari dalam kamar. Panik, cemas, dan sedih menguasaiku. Malam yang seharusnya kami lalui dengan berbunga-bunga, berlalu dengan ketegangan dan air mata.

Atas nasihat keluargaku, aku diminta mengalah dulu dan pulang ke rumah untuk mencari solusi dan menenangkan diri. Aku pun melangkah pulang laksana tentara yang kalah perang. Hancur hati, hancur mimpi, hancur segalanya. Haruskah pernikahan yang belum lagi sehari berakhir? Haruskah aku menyerah dan melupakan niat awalku menikahinya? Tidak! Aku tak boleh menyerah.

Esok harinya, atas kehendakku sendiri aku datang ke rumah istri tanpa diantar satu pun keluargaku. Orang tuaku sempat khawatir, tapi kami semua yakin Allah akan membantu sebuah niat baik. Orang tua berpesan agar aku sabar, tidak emosi dan tidak terpancing suasana dan berbicara baik-baik lagi pada mertua.

Hari pertama usahaku gagal. Aku ditolak mentah-mentah oleh mertua dan keluarga. Mereka menolakku dengan sangat kasar. Melemparkan semua baju-bajuku yang belum sempat kubawa kemarin. Tak cuma itu, mereka mengancam, memintaku untuk tidak lagi berani menginjakkan kaki ke sana, apalagi sampai berani menemui istriku. Hari itu, aku pulang dengan tangan hampa.

Hari kedua aku pulang dengan keadaan yang sama. Tapi kali ini aku sedikit lebih beruntung, bisa mencuri-curi mendekat ke kamar istri lewat kebun belakang tanpa ketahuan. Lewat jeruji jendela kami bertemu dan saling bertangisan. Istri sebenarnya nekat ingin ikut melarikan diri bersamaku dengan menjebol jendela, sebab pintu dikunci. Tapi aku melarangnya. Sebab menurutku itu akan membuat suasana lebih buruk. Aku memintanya bersabar dan berjanji akan segera menjemputnya, Insya Allah. Terus terang saja, sedih hati ini dan tak tega. Lebih-lebih istriku tiba-tiba sakit demam, mungkin karena tegang dan pikiran.

Hari ketiga aku ke rumah mertua dengan penolakan yang sama. Namun kali ini aku bertahan, karena teringat istri yang sakit. Berharap mertua luluh. Doaku didengar Allah. Hati mertuaku luluh. Apa lagi hari itu istriku kembali jatuh pingsan dengan demam tinggi. Keadaan itu membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Meski masih ketus dan kaku, mertua bisa menerima kehadiranku. Salah satunya, karena melihat aku tak kapok bolak-balik ke rumah mereka meski ditolak dan dikasari. Serta melihat kesungguhanku. Akhirnya mereka menerimaku.

Setelah sembuh, aku membawa istri ke rumahku. Sebulan kemudian kami ngontrak rumah sendiri. Kurasa hal ini lebih baik bagi kami. Sekaligus belajar mandiri. Kini, istri juga punya kesibukan mengajar di pondok sembari menunggu kelahiran momongan pertama kami. Mudah-mudahan rumah tangga kami langgeng, sakinah mawadah warahmah. (***)

Seperti dikisahkan oleh seorang Ikhwan kepada Ummu Daud

[Majalah Sakinah, Vol. 9, No. 10 Muharam-Shafar 1432]

Artikel Lainnya:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s