Al-Ghomidiyyah radhiallahu ‘anha – Memilih Mati Dihukum Daripada Hidup Memikul Dosa


Oleh: Ustadzah Gustini Ramadhani

Ia hamil di luar nikah, itu benar. Zina adalah dosa yang keji dan sangat tercela dalam pandangan manusia, itu juga benar. Lalu kenapa pada edisi ini kita angkat sosok ini sebagai qudwah kita kaum muslimin, khususnya wanita muslimat? Nah, mari kita ikuti ceritanya.

Kita manusia mustahil terbebas dari berbuat dosa, terlepas dari kecil atau besarnya dosa yang kita lakukan, pelaku dosa yang paling baik di sisi Alloh adalah mereka yang menyesali perbuatan dosanya dan bertobat kepada Alloh sembari bertekad kuat untuk tidak kembali lagi melakukannya. Maka kedudukannya di pandangan Alloh subhanahu wata’ala jauh lebih tinggi dari ketika ia sebelum berbuat dosa.

Memang sangat luar biasa. Ketika seorang hamba mengenal Penciptanya, sangat takut terhadap adzab-Nya, maka tatkala ia melakukan dosa dan maksiat, dengan penuh penyesalan dan ketakutan ia segera kembali dan bertobat kepada Robbnya, dan melakukan berbagai macam cara agar selamat dari adzab Alloh, dan mendapat ampunan dari Penciptanya, tanpa mempedulikan penilaian manusia.

Kisah ini tercantum dalam kitab al-Bukhori dan Muslim. Seorang wanita muslimah dari kalangan shohabiyyat yang sudah menikah di Madinah. Suatu hari setan merayunya. Ia berduaan dengan seorang laki-laki di suatu tempat yang jauh dari pandangan manusia. Ketika seorang laki-laki dan seorang wanita berduaan, maka setanlah yang ketiga. Ia senantiasa merayu dan membujuk kedua orang itu sampai terjerumus ke dalam dosa. Maka wanita itupun berzina dengan lelaki tadi.

Setelah mereka melakukan dosa, maka setan pergi meninggalkan mereka. Wanita itu menangis dan mencela dirinya, sehingga sempitlah kehidupannya setelah kejadian itu dan selalu menyelubungi sanubarinya sampai akhirnya dosa membakar hatinya. Maka ia menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, dengan tekad bulat dan penuh keyakinan, ia meminta kematian, meminta hukuman (had). Ia menepis rasa malu dan cibiran manusia. Ia melangkah pasti menuju pengampunan Alloh dan surga-Nya. Apalah arti nyawanya yang hina dibanding dengan pengampunan-Nya.

Di hadapan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam ia menangis dan mengadu. Dengan suara bergetar, ia berkata kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rosululloh, aku telah berzina, sucikanlah diriku…” Mendengar perkataannya itu, beliau shollallohu ‘alaihi wasallam memalingkan wajahnya ke tempat lain, akan tetapi wanita itu tetap bersikeras. Ia mengulang perkataannya kembali: “Wahai Rosululloh, aku telah berzina, sucikanlah diriku…” Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam memalingkan wajahnya dan menolaknya. Beliau shollallohu ‘alaihi wasallam berharap ia meralat kembali perkataannya dan bertobat kepada Alloh, hanya antara dia dan Alloh!

Melihat sikap Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam tersebut, wanita itupun pulang ke rumah dalam keadaan hati terasa dilahap oleh dosa. Ia tidak mampu bersabar. Maka pada keesokan harinya ia kembali menghadap Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Ia berkata: “Wahai Rosululloh, bersihkan diriku…” Maka berkatalah Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam yang sangat lembut dan penyayang ini: “Wahai wanita, pulanglah dan mintalah ampunan Alloh dan bertobatlah…”, akan tetapi wanita itu tidak puas dengan jawaban tersebut. Ia berkata dengan terisak: “Apakah engkau ingin menolak keinginanku sebagaimana dulu engkau menolak Ma’iz bin Malik? Demi Alloh, aku telah hamil karena zina!” Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Bukan begitu, (sekarang) pulanglah dan (jangan kembali) sampai engkau melahirkan anakmu…” Akhirnya ia pun keluar dari masjid Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menuju rumahnya, menyeret langkah yang terasa sangat berat. Tubuhnya terasa lemas dan air matanya mengalir deras. Ia pun menunggu saat-saat yang dijanjikan itu detik demi detik dan hari demi hari, sampai akhirnya sembilan bulanpun berlalu.

Ketika rasa sakit hendak melahirkan tiba, maka terlahirlah anaknya ke dunia. Rasa sakit melahirkan bercampur aduk dengan himpitan dosa masa lalunya yang menambah beratnya persalinan baginya. Tanpa menunggu masa nifasnya selesai, ia langsung saja pergi menghadap Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, menggendong anaknya yang masih merah untuk meminta hukuman. Ia berkata: “Lihatlah wahai Rosululloh, ini anakku telah lahir. Aku mohon sucikanlah diriku…” Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam memandang kepada bayi merah yang ada di hadapannya dengan iba, bayi yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Beliau shollallohu ‘alaihi wasallam pun berkata: “Pulanglah, susuilah anakmu sampai habis masa menyusunya!”

Maka pulanglah ia untuk menyelesaikan masa menyusu selama dua tahun. Hari demi hari bersama buah hatinya semakin mempererat kasih sayang di antara mereka. Hisapan dan dekapannya membuat anak semakin bergantung kepadanya. Cinta seorang ibu pun semakin mendalam tertanam dalam lubuk hatinya. Bagaimana tidak, ia adalah ibu kandungnya, dan jangan ragukan akan kasih sayang dan cintanya kepada anaknya.

Dan berlalulah dua tahun tanpa terasa. Lupakah al-Ghomidiyyah akan hukuman yang dulu dimintanya kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam? Tidak sama sekali…! Walau dua tahun berlalu selama menyusui anaknya, berlalu dengan indah, namun di dalam lubuk hatinya masih tersimpan rasa takut akan dosa. Maka untuk itulah ia kembali kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam untuk ketiga kalinya demi mendapatkan hukuman dan pembersihan dirinya dari dosa. Ia datang menggendong anaknya dan tangannya memegang sepotong roti, guna meyakinkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bahwa anaknya sudah mampu bertahan hidup tanpa harus tergantung pada dirinya.

Ia berkata kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam: “Ya Rosululloh, aku sudah menyusui anakku dan ia sudah bisa makan. Sucikanlah diriku…!” Dan akhirnya, walau dengan perasaan sedih, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pun mengabulkan permintaan wanita yang mempunyai keimanan yang kokoh bak benteng baja ini. Karena apapun alasannya, tak ada yang bisa menghalangi tegaknya syari’at Alloh di muka bumi ini.

Beliau shollallohu ‘alaihi wasallam lalu mengambil putra al-Ghomidiyyah dan menyerahkannya kepada seorang lelaki dari kaum muslimin, dan dilaksanakanlah eksekusi rajam terhadap al-Ghomidiyyah. Tubuhnya dikubur sampai ke dada, lalu setelah itu kaum muslimin melemparnya dengan batu sampai mati.

Ketika Kholid bin Walid melemparnya dengan batu, yang mana batu itu mengenai kepalanya dan darahpun mengalir deras di wajahnya, Kholid menghinanya dan terdengar oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, maka beliau berkata: “Wahai Kholid, tahanlah dirimu! Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggamannya, ia telah bertobat dengan satu tobat yang kalau dilakukan oleh pelaku dosa besar apapun, niscaya Alloh akan menerimanya.” (HR. Muslim)

Setelah meninggal, ia dimandikan dan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pun menyolatkannya. Maka Umar bin Khoththob rodhiyallohu ‘anhu bertanya: “Wahai Nabi Alloh, mengapa engkau mau menyolatkan wanita itu, padahal ia telah berzina?” Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ia telah bertobat dengan satu tobat yang kalau dibagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, maka itu akan mencukupi mereka. Dan tahukah kamu bahwa ia dengan sepenuh hati memilih kematian untuk dirinya karena Alloh azza wajalla?!”

Ia meninggal…, namun beruntunglah ia. Seorang wanita yang terjerumus ke dalam dosa zina, dan segera bertobat kepada Robbnya. Ia takut kepada hari yang mana pada hari itu semua anggota badan menjadi saksi atas semua perbuatan yang ia lakukan ketika di dunia. Ngeri membayangkan bagaimana panasnya api neraka dan siksaan Alloh. Hari di mana para pezina akan digantung dengan kemaluannya di neraka, dan mereka akan dicambuk dengan cambuk dari besi. Setiap kali mereka menjerit maka malaikat berseru kepada mereka: “Kemanakah jeritan ini ketika engkau tertawa, dan bersenang-senang, riang gembira dan tidak merasa takut dan malu sedikitpun kepada Alloh, padahal Ia mengawasi segala gerak-gerikmu..!!”

Itulah al-Ghomidiyyah, seorang shohabiyyat yang sangat tinggi keimanannya kepada Alloh subhanahu wata’ala, dan Alloh subhanahu wata’ala pun mengangkat kedudukannya.

REFERENSI:

Shohih al-Bukhori, Shohih Muslim, Al-Ishobah, Usudul ghobah, dan Mausu’ah hayatish shohabiyyat.

[Majalah Al Mawaddah vol. 37, Shofar 1432 H]

 

Artikel Lainnya:

One response to this post.

  1. […] Al-Ghomidiyyah radhiallahu ‘anha – Memilih Mati Dihukum Daripada Hidup Memikul Dosa […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s