Sayangilah Ia Ketika Masih Ada


CERITA DARI SAHABAT

Usia Ayah menjangkau 70 tahun,namun tubuhnya masih kuat.Dia mampu naik sepeda ke warung yg jauhnya lebih kurang 2KM untuk membeli keperluan harian.Sejak kematian Ibu 6tahun yg lalu,ayah sendirian di kampung.Lantaran itu,kami kakak beradik 5 orang semuanya bergiliran menjenguknya.

Kami semua sudah berkeluarga,tinggal pula jauh dari kampung halaman.sebagai anak lelaki sulung,saya mengambil tanggung jawab yg lebih.Selain itu,kami kakak beradik sering menelepon ayah bertanya kabar dan sebagainya.

” Enggak apa,lain kali saja…!”Jawab ayah.Puas dua anak saya merayu-rayu agar ke kota,ayah tetap tegas.Bagaimanapun sesekali ayah mengalah.Namun sehari dua hari di rumah anak-anaknya,dia minta diantar balik.Ada-ada saja alasannya.

Suatu hari ayah mengikuti saya ke kota.Kebetulan sekolah masih libur,ceria anak-anak saya bermain dan bergurau dg kakek mereka.masuk hari ke tiga,dia merayu ingin balik kampung.Seperti biasalah,ada-ada saja alasan tak masuk akal yg di berikannya.”Saya sibuk ayah,tak bisa ambil cuti.Tunggulah sebentar lagi,atau ujung minggu ini saya antar ayah,” balas saya.Anak-anak saya turut membujuk kakek mereka.

”Tak apa kalau kamu sibuk sekali,belikan ayah tiket,biar ayah naik bus,” katanya membuat saya bertambah kecewa.Memang ayah pernah berkali-kali naik bus pulang kekampung sendirian.

”Tak usalah..” kata saya membujuk dan merayu selepas makan malam itu.Ayah diam,terus masuk ke kamar bersama cucu-cucunya.Bagaimanapun esok paginya ketika saya bersiap untuk kerja,Ayah sekali lagi berpesan minta saya belikan tiket bus.”Ayah ini tak pahamkah..?saya ini sibuk,sibuuuuk…!!!!” balas saya langsung keluar menghidupkan mesin mobil.Saya tinggalkan ayah terbengong-bengong di muka pintu.Sedih saya tengok mukanya.

Di dalam mobil,isteri saya membujuk.”Buat apa kasar sekali dengan ayah..?bicaralah baik-baik!” saya hanya membisu.

Sebelum isteri saya turun dari mobil ketika tiba di kantornya,dia berpesan agar saya penuhi permintaan ayah,”jangan lupa bang,belikan tiket ayah,” katanya ringkas.Di kantor saya termenung panjang.Lalu saya minta ijin darurat,terus ke terminal membeli tiket.

Pukul 11.00 saya sampai kerumah,terus beri tahu ayah supaya bersiap.”Bus berangkat pukul 2.00” kata saya ringkas.Saya mengaku bersikap agak kasar ketika itu karena di dorong rasa marah karena sikap degil ayah.Tanpa banyak repot ayah bersiap-siap.

Dia masukkan baju kedalam tas.Lebih kurang pukul 12.30 saya menuju ke terminal.dalam perjalanan lebih kurang 1 jam itu,sepatah pun saya tidak bersuara.Biasanya sayah dan ayah akan berbincang panjang setiap kali naik mobil bersama.Ada-ada saja yg kami bincangkan.Hari itu ayah tahu saya marah padanya.Dia pun enggan menyapa saya.TIba di terminal,biasanya saya akan membimbing tangan ayah tapi hari itu saya biarkan ayah jalan sendiri,cuma sayah perhatikan langkahnya agar tidak terjatuh.

Setelah saya pastikan nomor tempat duduk ayah,saya jabat tangan dan turun dari bus.Ayah tidak memandang saya sebaliknya dia memandang ke luar jendela.Ayah merenung jauh,mukanya sedih.Tepat pukul 2.00 bus berangkat.Saya pandang ayah tapi dia masih melemparkan pandangan ke luar jendela menghindar memandang saya.Setelah bus bergerak jauh,saya menuju ke mobil.Ketika melalui warung-warung yg sesak itu,saya memandang susunan kue pisang di atas meja.

Langkah saya terhenti.Terdetik pikiran ingat ayah suka makan kue itu.Pernah 2-3 kali kalau dia menaiki bus pulang ke kampung,dia akan meminta saya membelikan makanan kegemarannya.Tapi hari itu ayah tidak meminta apa-apa.

Saya langsung pulang.Tiba di rumah,pikiran terasa tidak menentu.Ingat kerja di kantor,ayah yg dalam perjalannan,dan isteri yg berada di tempat kerjanya.Malam itu sekali lagi saya meneruskan ke-egoan saya ketika isteri meminta saya menelpon ayah di kampung seperti yg saya lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus.Malam berikutnya,isteri bertanya lagi sudahkah saya hubungi ayah.”Tak mungkin tak sampai,” jawab saya meninggikan suara.

Dini hari itu,saya menerima panggilan telepon dari rumah sakit.”Bapak dah tak ada..” kata sepupu saya di ujung telepon.”Dia meninggal 5 menit yg lalu setelah mengeluh sesak nafas.”.Terlalu berat dia hendak meneruskan kata-kata,selain meminta saya pulang segera.Saya terkulai di lantai.Telepon masih di tangan.Isteri datang menyapa.”Kenapa bang.?” saya hanya menggeleng-geleng,agak lama baru mampu memberi tahu ”Ayah da tak ada..”

*****

Barulah saya sadar betapa berharganya seorang ayah dalam hidup ini,kue pisang,kata-kata saya pada ayah,sikapnya ketika di terminal,kata-kata isteri membeli tiket silih berganti menyerbu fikiran.

Hanya Allah yg tahu betapa hancurnya hati saya apabila teringat itu semua.Saya amat terasa kehilangan ayah yg pernah menjadi tempat saya meluahkan rasa,seorang rekan yg sering bersimpati dan ayah yg cukup mengerti perasaan seorang anak.Kenapa saya tidak dapat membaca gerak rasa seorang tua yg merindui belaian kasih sayang dari seorang anak yg akan di tinggalkan buat selama-lamanya.

Setiap kali pulang kekampung,hati saya bagai di robek-robek bila memandang pusara ayah,terkenang semua peristiwa pada hari-hari terakhir saya bersamanya.Saya merasa amat bersalah dan tidak akan memaafkan diri ini.

Benarlah kata orang,KALAU HENDAK BERBAKTI BIARLAH SEMASA AYAH DAN IBU MASIH ADA.APABILA SUDAH TIADA,MENANGIS AIR MATA DARAH SEKALI PUN TIDAK BERARTI LAGI.

Kepada saudara-saudaraku yg masih memiliki ayah,jagalah perasaan orang tua.Kasihi mereka sebagaimana mereka menjaga kita sewaktu kecil dulu.

 

 

 

Bekasi,22,November,2010

 

 

Abu Muhammad Zaid Efendy Al-Paguci

 

Tidak perlu mencari isteri secantik Balkis,

Jika diri tak segagah Sulaiman.

Mengapa mengharap suami setampan Yusuf,

Jika diri tak seindah Zulaikha.

Tidak perlu mencari seperti Ibrahim,

Jika diri tidak sekuat Hajar dan Sarah.

Mengapa di damba teman hidup seistimewa Khadijah,

Jika diri tak sesempurna Rasulullah.

MENIKAHLAH…KARENA NIKAH ITU IBADAH.

 

 

‘AYAH’

Tak adil rasanya jika hanya berbicara tentang sosok penuh binar surga,bunda kita tercinta saja.Ada sosok lain,yg turut berperan besar dalam mendidik dan mengantarkan kita memasuki gerbang kedewasaan sekarang ini.Ayah,sosok tenga baya yg mulai beranjak senja itu,adalah mata rantai kehidupan yg di berikan Allah pada kita.

Walau bukan dalam gemerlap kemewahan atau kekayaan,ayah membantu kita mampu berdiri tegak sekarang ini.Walaupun tidak setegar gunung karang,atau setinggi langit biru,banyak jasa beliau dalam kehidupan kita yg tak terbalaskan.

Ayah,sosoknya yg tidak pernah banyak bicara dn tidak banyak menuntut,menciptakan perasaan segan untuk tidak mentaatinya.Sosok yg bersedia mengantar pergi kemanapun dalam setiap kegiatan,memupuk benih cinta itu untuk tumbuh subur.

Meski tidak sehebat Rasulullah,atau setegap Umar bin Khatab,atau juga sekaya Abdurahman bin Auf,Ayah…cinta ini untukmu jua.

2 responses to this post.

  1. Posted by Mia X. Stanton on January 26, 2011 at 2:37 pm

    Saya yakin semua orang tua bermaksud baik bagi anak-anaknya hanya saja banyak orang tua yang tidak mengerti ilmunya.

    Reply

  2. Posted by Matilda X. Norman on January 29, 2011 at 2:45 am

    Saya yakin semua orang tua bermaksud baik bagi anak-anaknya hanya saja banyak orang tua yang tidak mengerti ilmunya. Anda bisa membangun bisnis apa pun offline – online jika menerapkan isi ebook terbaru saya ini tanpa daftar – langsung download – GRATIS ….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s