Nasib Pencela Para Nabi


Penghinaan dan pelecehan terhadap Nabi, baik dengan kata-kata maupun dengan membuat karikaturnya adalah berita yang sering kita dengar. Rasa jengkel, marah, dan gundah tersimpan di dalam setiap muslim di saat mendengar celaan musuh Islam tersebut. Mereka para penghina Nabi pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Apa balasan yang akan mereka terima?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Di antara bentuk sunnatullah adalah bahwasannya  orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, namun tidak bisa dibalas oleh kaum mukminin maka Allah sendirilah yang akan mengazab mereka demi rasul-Nya. Dan cukup Allah sendiri yang melakukannya.

Kisah tentang penghancuran satu demi satu orang-orang yang mencela rasul telah sedemikian dikenal. Para ahli sejarah dan tafsir telah menyebutkannya. Diantara mereka yang diazab tadi adalah sekumpulan para pemuka Qurays seperti Al Walid bin Al Mughirah, Al Ash bin wail, Al Aswadan bin Al Muthalib, Ibnu Abdi Yaghuts, Al Harits bin Qais. Nabi Muhammad n pernah mengirim surat kepada Kisra dan Qaishar namun keduanya tidak mau masuk Islam. Meski menolak masuk Islam, Qisra memuliakan surat Nabi dan utusan beliau, maka kerajaannya tetap berdiri, bahkan disebutkan bahwa kerajaannya tetap kekal hingga hari ini. Sedangkan Kisra (Parsi) malah merobek-robek surat Nabi dan menghina beliau n. Oleh karenanya Allah merenggut nyawanya tak lama setelah itu dan meluluhlantakkan kerajaannya, sehingga tak bersisa sedikit pun kerajaan bagi para Kisra.  Inilah seperti yang disebut dalam sebuah ungkapan, “Daging para ulama itu beracun. Lantas bagaimana lagi dengan dagingnya para Nabi alaihimus salam?”
Di dalam As-Sahih (Al Bukhari dan Muslim), Nabi bersabda, “Allah berfirman: ‘Siapa yang memusuhi para waliku maka berarti telah menantang-Ku untuk berperang.” Lalu bagaimana dengan orang yang memusuhi para nabi? Barangsiapa yang Allah perangi pasti akan hancur. Telah tercantum dalam kisah-kisah Al Quran, dan Anda mendapatkan umat-umat terdahulu binasa di saat mengganggu para Nabi dan membalas dakwahnya dengan ucapan dan perbuatan buruk. Bani Israil juga begitu. Mereka mendapat kehinaan dan kemurkaan Allah serta tak memiliki penolong disebabkan mereka membunuh para Nabi  di sisi kekafirannya. Tepat seperti yang Allah beritakan di dalam kitab-Nya. Anda juga akan mendapatkan bahwa orang yang mengganggu para nabi dan tidak bertaubat maka dia akan meraih kehinaaan.
Lebih Cepat Dikalahkan
Dipercepatnya balasan bagi kaum kafir di saat mereka mulai mencela Rasulullah, juga pengalaman yang ditemui oleh kaum muslimin di dalam banyak pertempuran. Kisah-kisah seperti ini sangat banyak dan bertebaran.  Contoh serupa juga dikisahkan para pakar ahli fikih nan adil ketika mengepung benteng Madain di daerah Syam. Di saat mengepung Bani Ashfar kala itu. Kisah mereka, “Kami mengepung benteng atau kota selama sebulan atau lebih. Benteng tersebut benar-benar kokoh sampai kami merasa hampir putus asa. Hingga penduduk kota tersebut mulai mencela dan menghina kehormatan Nabi Muhammad. Maka setelah kejadian itu penaklukan benteng menjadi sedemikian mudah. Hampir tak sampai sehari atau dua hari bisa ditakhlukkan, dengan adanya peperangan yang dahsyat.”  Mereka mengatakan,  “Sampai-sampai kami merasa bahwa kemenangan sudah dekat ketika mereka menghina rasul, di sisi perasaan jengkel pada ucapan mereka tersebut.”
Ini juga yang diceritakan oleh kaum muslimin penduduk Maroko ketika mengisahkan kondisi perangnya melawan Nashara. Di antara sunnatullah adalah mengazab musuh-Nya dengan azab dari sisi-Nya atau melalui tangan hambanya yang beriman. Dan Allah menjaga Nabi dan memalingkan darinya gangguan manusia serta celaan mereka dari segala sisi, bahkan dari sisi lafal saja. Di dalam as sahihain dari Abu Hurairah, dia mengatakan, Rasulullah bersabda, “Tidakkah kalian lihat bagaimana Allah menjauhkan dariku celaan dan laknat Quraiys. Mereka mencelaku dengan mengatakan dan melaknatku dengan menyebutku  “yang tercela”. Dan aku tetaplah Muhammad “Yang terpuji”.
Allah membersihkan nama dan sifatnya dari cela, dan celaan ini kembali pada orang yang mencela. Meskipun yang yang hendak mencela meniatkan pada pribadinya.
Yang menunjukkan bahwa mencela merupakan bentuk kejahatan tersendiri di samping kekufuran dan permusuhan—meskipun hal ini sudah terkandung—bahwa Nabi terkadang memaafkan orang yang mencelanya dari kalangan munafikin. Dan kadang membunuh mereka seperti yang disebutkan dalam hadits Abu Bakr dan yang lain. Jika celaan itu sekadar memurtadkan pelakunya maka wajib untuk membunuhnya seperti pada orang murtad. Maka diketahui bahwa beliau kadang  boleh untuk memaafkannya.  Hal yang menunjukkan bahwa celaan merupakan bentuk kejahatan tersendiri adalah kalau seorang kafir dzimni mencela seorang muslimin atau muahid serta membatalkan perjanjian maka celaan orang ini tadi merupakan sebentuk kejahatan yang membuatnya berhak mendapat hukuman. Bukan semata karena membatalkan perjanjian. Padahal mencela Rasul itu berbeda dengan mencela manusia yang lain.”
Ibnu Taimiyah juga mengatakan,  “Membersihkan bumi dari fenomena mencela Rasul merupakan kewajiban dengan berbagai cara yang memungkinkan. Karena urusan ini merupakan bentuk kesempurnaan kemenangan dan ketinggian kalimat Allah dan bahwa agama hanyalah untuk-Nya. Di saat penghinaan itu mencuat dan pelakunya tidak dihukum maka berarti agama belum menang, dan kalimat Allah belum menjadi tinggi. Ini seperti kewajiban membersihkan bumi dari perzinaan, pencurian, perampokan dengan berbagai cara. Berbeda sekali dengan membersihkan bumi dari pokok kekafiran karena dalam hal ini bukan wajib, dengan dasar dibolehkannya ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) tetap memeluk agama dengan dzimmah. Karena kesediaan mereka dengan dzimmah memberikan konsekwensi diberlakukannya hukum Allah dan Rasulnya atas mereka dan ini tentu tidak meniadakan kemenangan dan ketinggian agama Allah. Diperbolehkan melakukan perdamaian dan menjamin keamanan mereka di saat lemah atau ada kemaslahatan yang diharapkan dari hal tersebut. Dan setiap kejahatan wajib dibersihkan dari muka bumi sesuai kemampuan dengan menentukan hukuman tertentu di dalam syariat bagi pelakunya . Jika tidak ditentukan maka wajib ditentukan dengan membunuhnya. Karena dalam kejahatan ini tidak ada penentuan hukuman khusus, karena berkaitan dengan hak Allah, Rasul dan seluruh kaum mukminin. Dari sini semakin jelas perbedaan antara penghinaan dan kekafiran. Karena orang kafir masih diperbolehkan untuk tetap berada di atas agamanya dengan tidak terang-terangan dan mau tunduk pada hukum Allah dan Rasulnya. Berbeda dengan penghinaan terhadap rasul.

(http://majalah-elfata.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s