Dialog Ibnu ‘Abbas Dengan Kaum Khawarij


Kisah berikut tentang bagaimana seorang sahabat mulia, mematahkan argumen ahli bid’ah khawarij yang memberontak kepada kepemimpinan ’Ali bin Abi Thalib. Dan berhasil manjadikan sekitar 2.000 kaum khawarij bertaubat. Berikut kisahnya :

Setelah berhasil membunuh Khalifah ’Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, para teroris khowarij hendak melakukan pemberontakan kepada Khalifah ’Ali bin Abi Tholib. Maka suatu hari Ibnu ’Abbas menemui ’Ali binAbi Tholib di waktu dzuhur dan berkata : ”Wahai Amirul Mukminin, segerakanlah shalat , aku ingin mendatangi dan berdialog dengan mereka (khawarij)”. Maka ’Ali berkata : ”Aku mengkhawatirkan keselamatanmu.”. Ibnu ’Abbas berkata : ”Jangan khawatir, aku seorang yang berbudi baik dan tidak menyakiti seseorangpun.”

Maka ’Ali pun mengijinkan Ibnu ’Abbas untuk berdialog dengan khawarij. Ibnu Abbas berkata : ” ketika khawarij memisahkan diri, dan menempati daerah Ray, ketika itu jmlah mereka 6.000 orang.” dalam riwayat ’Abdullah bin Syadad jumlah mereka mencapai 8.000 orang. Mereka semua sepakat untuk melakukan pemberontakan kepada ’Ali bin Abi Thalib dan para sahabat Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang semuanya dibelakang ’Ali bin Abi Tholib.

Kemudian Ibnu ’Abbas menuturkan : ”kemudian aku memakai kain yang bagus buatan Yaman dan mneyisir (rapi rambutku). Kemudian aku temui mereka di tangah hari. Ternyata akau mendatangi suatu kaum yang belum pernah aku lihat hebatnya mereka dalam beribadah. Dahi mereka menghitam karena sujud, tangan-tangan mereka kasar seperti lutut unta. Mereka memakai gamis yang murah dalam keadaaan tersingsing. Wajah mereka pucat karena banyak beribadah di wajtu malam. Kemudian aku ucapkan salam kepada mereka.

–          maka mereka berkata : ”selamat datang wahai Ibnu ’Abbas, ada apa kiranya ?

  • maka aku katakan kepada mereka : ” aku datang dari sisi kaum muhajirin dan Anshor serta dari sisi menantu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam (’Ali bin Abi Thalib). Kepad mereka Al-Qur’an turun dan mereka lebih tahu tentang tafsirnya daripada kalian.”

–          maka sebagain mereka berkata : ”jangan kalian berdebat dengan orang Quraisy, karena Alloh telah berfirman : (artinya ) ”sebenarnya mereka adalah kaum yang suka berdebat” (QS: Az-Zukruf:58).

Namun ada tiga orang dari mereka yang berkata : ”Kami akan tetap berdialog dengannya.”

  • maka aku katakan kepada mereka : ”keluarkan apa yang membuat kalian benci kepada menantu Rasulullah, muhajirin dan anshar. Yang kepada merekalah Al-Qur’an turun. Dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ikut bersama kelompok kalian. Mereka adalah orang yang lebih tahu tentang tafsir Al-Quran.

–          mereka berkata : ”ada tiga hal.”

  • aku berkata :”sebutkan”

–          mereka berkata : ”pertama, dia (’Ali) berhukum kepada manusia dalam perkara agama Allah, sedangkan Allah telah berfirman : (artinya) “Sesungguhnya Hukum hanya milik Allah (QS: Al-An’am :5 7)

maka apa gunanya keberadaan orang-orang (para hakim) itu kalau Allah sendiri telah memutuskan hukumNya ?!

  • aku berkata : ”ini yang pertama, kemudian apa lagi ?”

–          mereka berkata : ” Kedua, dia (’Ali ) telah berperang dan membunuh, tapi mengapa dia tidak mau menjadikan wanita mereka sebagai tawanan perang dan mengambil hartanya sebagi rampasan? Jika mereka (orang yang diperangi ’Ali) memang masih tergolong kaum mu’min, maka tidak halal bagi kita untuk memerangi dan menawan mereka.” (yang dumaksud adalah perang jamal, yaitu ’Ali berperang melawan ’Aisyah radhiallahu ‘anha.)

  • aku berkata : ”apa yang ketiga?”

–          mereka berkata : ”(ketiga) ’Ali telah menghapus darinya gelar Amirul Mu’minin (pemimpi kaum mu’minin), maka kalau dia bukan Amirul Mu’minin berarti dia Amirul kafirin (pemimpin orang-orang kafir)”.

  • aku berkata : ”apakah ada selain yang ini lagi ?”

–          mereka berkata : ”cukup ini saja.”

  • aku berkata kepada mereka : ”adapun ucapan kalian tadi : dia berhukum kepada manusia dalam memutuskan hukum Allah, akan aku bacakan kapada kalian ayat yang membantah argumen kalian. Jika argumen kalian telah gugur apakah kalian akan ruju’?”

–          mereka berkata : ”tentu.”

  • aku berkata : ” sesungguhnya Allah sendiri telah menyerahkan hukumnya kepada beberapa orang tentang seperempat dirham harga kelinci, dalam ayat : (yang artinya :  ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu” (QS: Al Maidah : 95 )

dan juga tentang seorang istri dengan suaminya :

artinya : Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakim dari keluarga laki-laki dan seorang hakim dari keluarga perempuan.

Maka aku sumpah kalian dengan nama Allah, manakah yang lebih baik kalau mereka (’Ali bin Abi Tholib) berhukum dg manusia untuk memperbaiki hubungan antara mereka dan untuk menghindari dari pertumpahan darah, ataukah yang lebih utama berhukum pada manusia dalam perkara harga seekor kelinci dan urusan kemaluan seorang wanita? Manakah diantara keduanya yang lebih utama?”

–          Mereka menjawab : ”tentu yang pertama.”

  • Aku berkata : ”Apakah kalian keluar dari kesalahan ini?”

–          Mereka menjawab : ”Baiklah”

  • Aku berkata : ”Adapun ucapan kalian : dia (’Ali) tidak mau mengambil musuhnya sebagai tawanan dan ghonimah (rampasan perang). Apakah kalian akan menawan ibu kalian ’Aisyah?. Demi Allah kalau kalian berkata : dia bukan ibu kami, nerarti kalian telah keluar dari Islam. Dan demi Allah, kalau kalian berkata : kami tetap akan menawannya dan menghalalkan (kemaluan)nya untuk digauli seperti wanita lain (karena sebagi budak, dan budak hukumnya boleh digauli pemiliknya), berarti kalian telah keluar dari Islam. Maka kalian berada di antara dua kesesatan, karena Allah telah berfirman : (yg artinya) Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. (QS: Al Ahzab:6).

Maka apakah kalian keluar dari kesalahan ini?’

–          Mereka menjawab : ”baiklah”

  • Aku berkata : ”adapun ucapan kalian : dia (’Ali) telah menghapus dari dirinya gelar Amirul Mu’minin. Aku akan membuat contoh dengan orang yang kalian ridhai, yaitu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Pada perjanjian Hudaibiyyah, beliau berdamai dg kaum musyrikin, Abu Sufyan bin Harb dan Suhail Bin ’Amr. Nabi shallallahu’alaihi wasallam berkata kepada ’Ali ;”tulis untk mereka sebuah teks yang berbunyi : ini apa yang disepakati oleh Muhammad Rasulullah. Maka kaum musyrikin berkata : demi Allah, kalau kami mengakuimu sebagai Rasulullah, untuk apa kami memerangimu?!. Maka Nabi shallallahu’alaihi wasallam berkata : Ya Allah, Engkau yang lebih tahu bahwa aku adalah rasul-Mu. Hapuslah kata (Rasulullah) ini wahai ’Ali. Dan tulislah : ini yang disepakati oleh Muhammad Bin Abdillah. Maka demi Alloh tentu Rasulullah lebih baik dari ’Ali tapi beliau sendiri menghapus gelar (kerasulan pada isi perjanjian itu) dari dirinya pada hari itu.

Ibnu Abbas berkata : ”Maka bertaubatlah 2.000 orang dari mereka dan selebihnya bersikukuh untuk tetap memberontak (thd ’Ali) maka merekapun akhirnya dibunuh.” – lihat Talbis Iblis 116-119

(dikutip dari buku : Mereka Adalah Teroris hal 531-535 ).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s