Kisah Pemuda Anshar Yang Terhindar Dari Godaan Wanita


Perawi berkata,”Suatu ketika aku pernah berada di kota Rasul duduk-duduk di tengah pasar. Tiba-tiba lewatlah orang tua yang wajahnya berseri-seri dan pakaiannya pun bagus. Ada seorang pedagang yang bediri dan memberikan salam kemudian berkata:

“Wahai Abu Muhammad, mohonlah kepada Allah agar memberikan hatimu kesabaran.”

Lalu orang tua itu menjawab:

“Dulu putraku sebagai tangan kananku dan pendukungku dalam peperangan, tetapi dia telah tiada, akupun kebingungan setelah dia tiada kaena menanggung beban yang berat, dunia inipun terasa sempit.”
“Wahai Abu Muhammad, berbahagialah karena kesabaran itu adalah sandaran orang mukmin, dan aku berharap agar Allah tidak menghalangi pahala-Nya kepadamu.”

Aku (perawi) berkata,

“Siapakah orang tua itu?”
“Dia adalah laki-laki dari golongan Anshar.”
Kata seorang pedagang.
“Bagaimana kisah orang tua itu?”

Pedagang itu berkata: “Dia ditimpa musibah kematian putranya, anak itu sangat berbakti kepadanya, selalu melakukan apa saja yang diinginkannya, tetapi kematian putranya sangat memukul jiwanya.”
“Lalu apa penyebab kematian putranya?”

Putranya itu pernah dicintai oleh seorang wanita Anshar, wanita itu mengirim surat kepadanya untuk menyatakan cintanya serta ingin berkunjung ke rumahnya untuk menyatakan cintanya dan mengajaknya perbuatan keji, padahal wanita itu mempunyai suami, maka pemuda itu menulis surat balasan:

“Sungguh sesuatu yang haram merupakan jalan yang tidak aku tempuh, tidak pula aku menyuruh orang untuk menempuhnya selama aku hidup ini. Silahkan cerca diriku semaumu, sungguh aku tidak sudi mengikuti kemauanmu, jangan berharap itu akan terlaksana. Sungguh aku akan menjaga hak suamimu, janganlah engkau menjadi orang bodoh yang suka mengikuti bisikan setan.”

Wanita itu menjawab:

“Tinggalkanlah jauh-jauh ucapanmu itu, segeralah penuhi kebutuhanku hai orang yang keras hati! Tinggalkanlah ibadah yang engkau tekuni, karena aku bukanlah termasuk ahli ibadah, dan apa yang kau tuturkan tidak masuk kepada otakku.”

Lalu si pemuda itu membuka rahasianya kepada temannya, dan ia (temannya) berkata:

“Sebaiknya kamu mengutus salah seorang dari kerabatmu untuk menasehatinya dan engkau berikan peringatan kepadanya dengan harapan dia dapat menahan diri dari menggodamu.”

Pemuda itu berkata:

“Demi Allah aku tidak akan melakukan hal itu, dan aku tidak akan banyak bicara, sesungguhnya aib di dunia itu lebih baik daripada neraka di akhirat. Aib di dunia sebentar waktunya dan akan lenyap. Akan kekal siksaan orang yang menganiayaku. Neraka kan kekal abadi. Hidupku di akhiratpun demikian. Tetapi aku tidak mau masuk neraka setelah kematianku, silahkan engkau aniaya diriku semaumu, aku akan bersabar mengharapkan ganjaran. Semoga Allah mendekatkanku dengan surga Firdaus.”

Kemudian pemuda itu mengirim surat kepada wanita Anshar, maka iapun membalas suratnya,
“Engkau boleh mengunjungiku atau aku akan mengunjungimu.”

Pemuda itu membalas:
“Janganlah engkau tergesa-gesa wahai wanita, agar engkau tidak menjerumuskan dirimu, hindarilah sikap tergesa-gesa dalam setiap urusan.”

Akhirnya wanita itupun berputus asa, pergilah dia kepada wanita tukang sihir agar pemuda itu memenuhi kebutuhannya.
Ketika pemuda itu duduk-duduk bersama ayahnya, tiba-tiba bangkitlah ingatan dalam hatinya kepada wanita Anshar itu, bergolaklah dalam hatinya sesuatu yang tidak ia mengerti, akhirnya pikirannya kacau, lalu ia segera bangkit di hadapan ayahnya, kemudian mengerjakan shalat dan memohon perlindungan kepada Allah, mulailah ia menangis tersedu-sedu sedangkan keadaannya semakin bertambah genting.

Ayahnya berkata, “Wahai anakku, kenapa kamu?”

“Wahai ayahku, belenggulah kedua tanganku, nampaknya aku sudah kehilangan akalku.” Jawab anaknya.
“Ceritakan kisahmu, wahai anakku?”

Akhirnya pemuda itu menceritakan kisahnya, lalu ayahnya berdiri dan menangkap kedua tangannya dan memasukannya ke dalam kamar, mulailah pemuda itu memukul kesana kemari dan melenguh seperti melenguhnya sapi jantan, kemudian tenang sejenak, ternyata pemuda itu telah meninggal dunia, sedang darah mengalir pada lubang hidungnya.

(Al Atqiya wafitanu nisa Samir Az Zuhairi)

4 responses to this post.

  1. […] Kisah Pemuda Anshar Yang Terhindar Dari Godaan Wanita […]

    Reply

  2. […] Kisah Pemuda Anshar Yang Terhindar Dari Godaan Wanita […]

    Reply

  3. […] Kisah Pemuda Anshar Yang Terhindar Dari Godaan Wanita […]

    Reply

  4. […] Kisah Pemuda Anshar Yang Terhindar Dari Godaan Wanita […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s