Menghibur Orang Lain Dapat Pahala?


Mungkin anda pernah mendengar seorang artis dangdut yang biasa berjoget erotis, dengan bangga mengatakan, “menghibur orang lain itu dapat pahala.” Beberapa pelawak yang dagelannya kental dengan kalimat kotor serta pemain film yang dalam filmnya tak segan berpelukan bahkan berciuman dengan siapapun dengan alasan profesionalisme, juga sering menyitir dalil ini.

Berpikir sekeras apapun, kita akan kesulitan menemukan hubungan antara goyang erotis, lawakan tabu, peluk cium dengan yang bukan mahram atau aksi membanci dengan “mendapat pahala”. Sebab, jika “pahala” dianalogikan sebagai gaji, maka secara syar’i, perilaku di atas tak ubahnya seperti; membolos kerja, tidur saat jam kerja, menyelewengkan uang kas serta melecehkan sesama rekan bahkan atasan. Sangat memprihatinkan tentunya jika ada yang memiliki keyakinan, perbuatan melanggar aturan kerja itu akan menaikkan gaji, lebih-lebih meningkatkan karir.


Entah bagaimana muasalnya, dalil ini memang laris manis di kalangan orang-orang yang mendedikasikan hidupnya sebagai penghibur orang lain, ada yang menukilnya sebagai argumen membela diri saat datang hujatan, ada pula yang menyitirnya sebagai penguat atas apa yang dilakukannya. Efeknyapun lumayan ‘bagus’. Sebagian orang ada yang kemudian memilih bertoleransi dan memaklumi. Entah karena tak tahu harus berkomentar bagaimana atau memang terlanjur suka dengan suguhan mereka.

Biasanya dalil tersebut diungkapkan dengan penuh keyakinan dan dimaksudkan meyakinkan orang lain. Mendapat pahala dari pornoaksi, banyolan tabu dan aksi membencong, mungkinkah?

Ada kemungkinan, dalil tersebut disarikan dari sebuah hadist yang berbunyi,

Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah setelah amalan wajib adalah memberi hiburan kepada seorang muslim.”

Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Ath Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabir dan Al Mu’jamul Ausath. Al Hafizh Al Iraqi mengatakan, sanad hadist ini lemah.

Ada juga hadist yang bebunyi;

Diantara amalan yang akan mendatangkan ampunan adalah menghibur saudaramu.”

Diriwayatkan oleh Imam Ath Thabrani, tetapi jalur periwayatannya lemah sehingga tergolong hadist dhaif (lemah).

Di dalam kitab “Kanzul Ummal” juga disebutkan hadist yang semakna. Namun dinilai lemah oleh Imam Bukhari karena salah seorang perawinya berstatus “Kadzab”, sering berdusta.

Andaipun hadist tersebut shahih, tetap saja tidak boleh disalahgunakan sebagai dalil menghibur dengan kemaksiatan. Apalagi jika ternyata asal muasal dalil tersebut adalah hadist yang statusnya dhaif yang tidak bisa dijadikan dalil. Dan kalaupun ada yang bersikeras ingin menjadikan hadist ini sebagai dalil, semestinya ia juga menggunakan hadist berikut sebagai penjabaran atas hadist di atas.

“Diantara amal yang paling afdhal adalah menghibur seorang mukmin dengan melunaskan hutangnya, memenuhi kebutuhannya dan menghilangkan kesusahannya.”(HR. Al Baihaqi)

Menjadi jelas bahwa hiburan berpahala yang dimaksud adalah membantu meringankan beban hutang, memberi bantuan untuk kebutuhannya, baik kebutuhan pokok, pendidikan atau bentuk bantuan lain yang bermanfaat. Bukan suguhan mesum yang memancing syahwat dan memicu maksiat yang lebih besar, atau guyonan porno dan lawakan konyol yang tak cerdas yang sama sekali tak bermanfaat. Memang, dari sudut pandang nafsu, semua itu mengasyikkan. Namun nurani seorang mukmin yang diterangi cahaya iman tidak akan menganggap semua itu sebagai hiburan. Sebaliknya, apa yang mereka sajikan pada dasarnya adalah gangguan yang meresahkan iman. Jika begini bagaimana mungkin bisa “mendapat pahala”? Terlebih lagi jika kita membaca hadist berikut,

Rasulullah bersabda,”Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak-lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.”(HR Muslim).

Rasulullah bersabda,”Celakalah orang yang berbicara dan berdusta agar diketawai orang-orang, celakalah ia celakalah ia!” (HR.Abu Daud, Syaikh Al Albani menilainya sebagai hadist hasan).

Ternyata maksud baik saja tidak cukup, sebab cara yang digunakan juga haarus baik. Jika mengerti hakikat ini, mereka akan kecele. Maksud hati menghibur dan menyangka akan mendapat pahala, tak tahunya yang dilakukan adalah maksiat yang akan diganjar dosa dan neraka.

Inilah metode tazyinul ma’ashi, trik setan untuk menyesatkan manusia dengan cara mengubah persepsi, mencitrakan keburukan hingga terkesan seperti hal biasa yang mubah atau bahkan tampak sebagai amal kebaikan. Targetnya adalah agar manusia merasa tenang saat melakukan maksiat karena tidak merasa sedang bermaksiat, malah mungkin merasa beramal shalih. Persepsi yang benar-benar destruktif. Pasalnya, jika seseorang merasa benar saat melakukan maksiat, ia akan sulit dinasehati dan akan ‘istiqamah’ dalam kemaksiatannya. Seorang muslim yang masih merasa bersalah saat bermaksiat meski belum mampu bertaubat, masih lebih mending daripada orang yang salah tapi tak merasa bersalah ini.

Pola tazyinul ma’ashi dengan cara memberikan dalil cukup efektif diterapkan di masyarakat kita yang kata orang berkultur religius. Biasanya asal sudah berbau dalil, valid atau tidak, pas atau tidak dalil tersebut, akan banyak yang menerima dan mengiyakan. Kepekaan dan kekritisan menjadi berkurang ketika dihadapkan pada ayat maupun hadist meski dengan interprestasi yang ngawur dan pemahaman yang salah kaprah. Wallahua’lam.

Semoga Allah memperlihatkan kepada kita, kebenaran sebagai kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan.

Sumber: Majalah Ar Risalah No.89/Vol.VIII/5 Dzulqadah 1429H/November 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s