Indahnya Menjaga Pandangan


Oleh Sejuta Pesona Lombok

Pandangan adalah jendela bagi hati. Barang siapa yang mapu menjaga pandangannya, maka akan bagus hatinya. Namun, bagi yang mengumbar pandangan, maka penyakit akan menggerogoti hati dan membuatnya menderita dengan segala kepayahan.

Pandangan juga cerminan bagi hati. Seseorang yang hatinya sakit atau bahkan mati maka pandangannya tidak akan terkontrol. Berbeda halnya dengan orang yang hatinya bersih.

Seorang muslim tentu akan berusaha membersihkan hatinya, salah satu caranya adalah dengan senantiasa ghodhdhul bashor [menjaga pandangan]. Ghodhdhul bashor adalah seorang muslim yang menundukkan pandangannya dari perkara-perkara yang haram yang tidak boleh dilihat.

Allah Ta’ala berfirman: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’   Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya. (QS. An-Nuur: 30-31).

Apabila tidak sengaja melihat sesuatu yang haram, hendaknya segera memalingkan pandangannya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwasanya dia telah berkata: “Fadhl pernah dibonceng oleh Rasulullah. Kemudian ada seorang wanita Khots’am yang lewat, lantas Fadhl melihat wanita itu, dan wanita itu pun melihat Fadhl. Melihat kejadian tersbut, dengan segera Nabi memalingkan wajah Fadhl ke arah yang lain.”[HR. Bukhari dan Muslim]. 

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Pandangan adalah asal seluruh bencana yang menimpa manusia. Bermula dari pandangan akan lahirlah keinginan, dan keinginan akan melahirkan pemikiran. Dari pemikiran akan lahirlah syahwat (hawa nafsu) yang pada akhirnya syahwat itu akan mendorong menjadi keinginan yang sangat kuat hingga terjadi apa yang ia inginkan.”[Al-Jawabul Kafi hal.79].

Oleh sebab itulah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan ummatnya akan pentingnya menjaga pandangan khususnya tatkala berada di jalan atau tempat-tempat umum.

 

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Waspadalah kalian terhadap duduk-duduk di pinggir jalan.’ Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, tidaklah kami duduk kecuali hanya sekedar berbincang-bincang. “maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Apabila kalian tetap ingin duduk-duduk di jalan, maka berilah jalan itu haknya.” Para sahabat bertanya kembali: “ Apa haknya wahai Rasulullah?” Rasululah menjawab: “Tundukkan pandangan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar.”[HR. Bukhari dan Muslim].

 

Mengumbar pandangan ada dua macam:

 

Pertama: Terlarang, yaitu mengumbar pandangan pada sesuatu yang Allah haramkan untuk dilihat.

 

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”[QS. Al-Mu’min: 19].

 

Imam Syinqithi rahimahullah mengatakan: “Di dalam ayat ini terdapat ancaman bagi yang khianat dengan matanya, yaitu dengan melihat kepada orang yang tidak halal baginya”.[Adhwa’ul Bayan 6/190].

 

Apabila seseorang menundukkan pandangan maka hatinya akan menundukkan syahwat dan hawa nafsunya. Sebaliknya, bila ia mengumbar pandangannya maka hatinya akan melepas syahwat dan hawa nafsunya. Ingatlah selalu bahwa mata yang digunakan untuk melihat sesuatu yang haram kelak pada hari kiamat akan ditanya dan diminta pertanggungjawabannya.

 

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya pendengaran,  penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”(QS. Al-Isro’: 36).

 

Bahkan, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam membuat permisalan bahwa kedua mata zinanya adalah dengan melihat. Beliau bersabda:

“Telah ditulis bagi anak adam bagiannya dari zina, dia pasti mendapatinya tidak mustahil. Kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah melangkah. Hati berkeinginan dan berangan-angan, ssedangkan kemaluan itulah yang akhirnya membenarkan atau mendustakannya.”(HR. Bukhari: 6243 dan Muslim: 2657).

 

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memulai dengan menyebutkan zinanya mata, karena mata adalah asal zinanya tangan, kaki, hati dan kemaluan. Hadits ini merupakan dalil yang paling jelas bahwa mata dapat bermaksiat dengan pandangan dan itulah bentuk zinanya. Di dalam hadits ini terdapat bantahan bagi orang yang membolehkan melihat secara mutlak.”(Raudhatul Muhibbin hal.93).

 

Kedua: Mengumbar pandangan dalam perkara yang tidak haram. Dalam hal ini ada dua macam:

  1. Melihat yang sifatnya tidak bisa dihindari dan kebetulan saja (Pandangan tiba-tiba).

 

Dari Jarir bin Abdillah radhiallahu’an dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan tiba-tiba. Maka beliau memerintahku agar memalingkan pandanganku.”(HR. Muslim: 1699).

Dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu’an: “Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan pada pandangan berikutnya. Karena bagimu hanya pandangan pertama, tidak yang lain.(HR. Abu Dawud:2149, Tirmidzi: 2777, Ahmad 3/351 dan Hakim:2/194).

 

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menuturkan: “Pandangan yang tiba-tiba, ia adalah pandangan yang pertama (kali) yang terjadi tanpa niat dari orang yang melihat. Maka selama hati itu tidak menyengaja, tidak ada dosa baginya. Apabila dia sengaja melihat untuk yang kedua kalinya, sungguh dia telah berdosa. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan ketika melihat tiba-tiba untuk segera memalingkan pandangan dan tidak memperlama pandangannya.”(Raudhatul Muhibbin hal. 96). 

 

  2. Melihat-lihat untuk sesuatu yang diperintah oleh Allah Ta’ala, seperti oarang yang menjaga perbatasan saat jihad, atau seperti melihat ciptaan Allah yang menunjukkan kekuasaan-Nya, maka hal semacam ini dibolehkan.

 

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah; ‘perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermamfaat tanda dan kekuasaan Allahdan rasul-rasul yang memberi peringatanbagi orang-orang yang tidak beriman.”(QS. Yunus: 101).

 

Orang yang menjaga pandangannya, dia akan mendapat beberapa mamfaat di antaranya:

 

a. Kelezatan iman

Karena orang yang meninggalkan melihat sesuatu yang haram karena takut kepada Allah Ta’ala, maka Allah akan gantikan dengan yang lebih baik.

 

 b. Hatinya bersinar dan bercahaya

Allah akan bukakan pintu cahaya dalam hati seseorang yang meninggalkan maksiat. Oleh karena itu Allah menyebutkan setelah ayat yang memerintahkan untuk ghodhdhul bashor  dengan firmannya:

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.”(QS. An-Nur: 35).

 

c. Terjaga dari dosa

Orang yang selalu menjaga pandangannya akan terhindar dari dosa sehingga menjadikan dirinya terjaga.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika seorang mu’min berbuat dosa, maka akan terdapat bintik hitam dalam hatinya. Jika dia bertaubat, berhenti dan meminta ampun, maka akan bersih hatinya.”(HR. Tirmidzi: 3334, Ibnu Majah: 4244, Ahmad: 2/297 dll).

 

d. Mencegah maraknya perzinaan

Dengan menjaga pandangan, setiap individu dapat menjaga dan mencegah dirinya dari perbuatan zina, maka dengan hal ini akan terbangun kondisi masyarakat yang baik.

 

Bagaimanakah cara mengobati keinginan yang terlintas karena memandang???

 

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Apabila engkau menjaga pandangan ketika pertama kali melihat wanita, niscaya engkau akan selamat dari berbagai bencana. Apabila engkau mengulang melihatnya, berarti engkau telah menanamkan dalam hatimu tumbuhan yang sulit dicabut. Obatnya adalah dengan menjaga pandangan dalam kesempatan yang berikutnya dan tidak meneruskan pikiran yang terlintas. Tidak ada penyembuhan yang paling mujarab  bagi orang yang terkena penyakit pandangan ini kecuali dengan memutus sebabnya dan selalu takut kepada Allah dari siksa-Nya. Apabila engkau mengerjakan hal ini, maka keselamatan telah dekat kepadamu.”(Dzammul Hawa hal. 144).

 

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada ummatnya, apabila melihat wanita yang menarik hati maka pulanglah dan tunaikan hajat tersebut kepada istri. Beliau bersabda: “Sesungguhnya wanita datang dan pergi seperti dalam bentuk setan. Apabila seseorang melihat wanita yang menakjubkannya maka hendaklah dia menemui istrinya. Karena hal itu dapat menolak apa yang terlintas dalam dirinya.”(HR. Muslim: 1403). 

 

Bagaimana jika yang belum punya istri (pemuda)???

 

Hendaknya mereka menjaga pergaulan dan memperbanyak puasa sunnah serta menyibukkan diri untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai para pemuda, barang siapa dari kamu telah mampu memikul tanggul jawab keluarga, hendaknya segera menikah, karena dengan pernikahan engkau lebih mampu untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluanmu. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, karena puasa itu dapat mengendalikan dorongan seksualnya.” (Muttafaqun ‘alaih). 

 

Demikianlah ulasan ringkas seputar ghodhdhul bashor, cukuplah sebagai peringatan. Semoga Allah Ta’ala selalu menjaga mata kita dari melihat yang haram dan memalingkannya hanya untuk ketaatan. Amiin, Allohu A’llam.

________________

Catatan:

Tulisan ini kami ringkas dari majalah Al-Furqon Edisi 06 Tahun kesepuluh Muharrom 1432 H. Dengan beberapa tambahan.

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s